
Ardi menatap Lina yang tengah duduk di rajang tempat rumah sakit.
" bagaimana keadaanmu sekarang, Lina?" tersenyum ke arah calon istrinya.
" keadaanku cukup lumayan membaik!" jawab Lina dengan wajah yang terlihat pucat.
"Syukurlah."
Lina kini bertanya kembali kepada Ardi," bagaimana. Apa kamu sudah menemukan bukti di dalam penjara?"
pertanyaan Lina membuat Ardi menyodorkan lembaran kertas yang diberikan Jerry kepadanya.
Lina langsung mengambil lembaran kertas itu dengan bertanya?" lembaran kertas apa ini."
Ardi langsung menyuruh Lina untuk membaca isi dari kertas itu," coba kamu baca."
Betapa terkejutnya Lina saat melihat beberapa foto yang begitu persis dengan mantan suami dari kakaknya sendiri.
" Kenapa Lina?" tanya Ardi melihat wajah Lina yang terlihat begitu kaget. Lina langsung menunjukkan lembaran kertas yang ternyata ada satu foto yang sama persis dengan mantan suami Kakaknya sendiri.
Ardi tak menyangka jika dalam data itu ada sebuah foto, membuat Ardi langsung bertanya kepada?" Apa orang ini yang kamu maksud."
Lina menganggukkan kepala Seraya berkata," iya, ini adalah Kakak Burhan, dia adalah mantan suami kak Dinda yang masuk ke dalam penjara."
" tapi, status data orang yang bernama Burhan ini dinyatakan sudah meninggal."
Deg ...
"Iya benar, aku tak menyangka jika kau Burhan sudah meninggal dunia, terus yang merencanakan kejahatan ini siapa kalau bukan Kak Burhan."
" sebenarnya, saat aku pergi ke penjara. Aku melihat Pras dan juga Alya masuk ke dalam penjara, entah apa yang mereka lakukan di dalam penjara. Padahal setahuku omku tidak mempunyai keluarga ataupun kerabat yang ditahan di dalam penjara."
" Apa mungkin Om Pras mempunyai hubungan persahabatan dengan Kak Burhan."
" bisa saja, akan tetapi dari mana mereka saling mengenal. Padahal omku baru saja pulang dari luar negeri sebelum Iya membuka usaha cafenya di Indonesia."
semua masalah seakan menjadi teka-teki yang harus diselesaikan oleh Lina dan juga Ardi.
Burhan memang terkenal orang yang mempunyai banyak sahabat, dan juga kenalan yang tak pernah Lina tahu.
" sebaiknya kamu jangan pikirkan itu dulu, masalah ini, biar aku yang tangan sendiri."
"Tapi, ini semua masalahku Ardi. kamu dan keluargamu begitu banyak membantuku, aku merasa tak enak hati selalu menyusahkanmu."
__ADS_1
Ardi kini memegang punggung tangan Lina dan berkata," Sudahlah tak usah berbicara seperti itu lagi. Sebentar lagi kita akan menjadi suami istri, dan kamu akan masuk ke keluargaku. jadi sepatutnya aku menolong kamu dari masalah yang sedang kamu hadapi."
Lina kini tersenyum lebar saat perkataan Ardi membuat dirinya sangatlah kagum," terima kasih. Ardi."
Dreet ....
suara ponsel kini terdengar, di mana ponsel Ardi bergetar, menandakan satu panggilan datang.
"Haikal?"
saat itulah Ardi mulai mengangkat panggilan telepon dari Haikal,
"Halo, Ardi. Bagaiman apa kamu sudah menyelidiki semuanya?"
"Sudah, Haikal!"
"Jadi, apa Burhan masih ada dalam penjara?"
"Burhan sudah dinyatakan meninggal dunia!"
Deg ....
Jawaban Ardi membuat Haikal tak percaya, memang sudah lama Haikal dan Dinda tidak pernah menenggok Burhan di penjara. Semenjak acaman yang di layangkan Burhan dengan begitu keji terhadap Dinda.
"Ya, aku juga baru tahu. Saat mengecek data dari penjara."
panggilan telepon itu tiba-tiba terputus sebelah pihak, di mana Haikal tak sadar mematikan ponselnya. karena melihat tangan Dinda yang tiba-tiba saja bergerak, menandakan Dinda sudah terbebas dari masa keritis.
"Dinda."
padahal Ardi belum sempat bertanya.
" apa kata kak Haikal?" tanya Lina.
" entahlah, Kakak kamu tiba-tiba mematikan ponselnya begitu saja!" jawab Ardi.
Lina menarik nafasnya mengeluarkan secara perlahan.
" padahal aku ingin menanyakan tentang keadaan Kak Dinda pada ka Haikal. Aku rindu dengan omelan Kak Dinda yang selalu memarahku, ketika aku berbuat salah kepadanya."
tak terasa air mata Lina keluar dari kedua matanya, perlahan Ardi mulai mengusap air mata yang perlahan menetes silih bergantian.
" sudah tak usah bersedih, sekarang kamu harus semangat untuk segera sembuh. setelah kamu sembuh, nanti kita temui kakakmu di rumah sakit."
__ADS_1
semangat Ardi membuat Lina tersenyum bahagia. Iya tak menyangka orang yang dulu sangat ia benci kini membuatnya selalu bahagia dan tersenyum.
"Senyum."
"Apa sih."
Lina sedikit memukul bahu Ardi, karena Ardi yang tiba-tiba saja menggoda dirinya.
" Aku ingin bertanya kepadamu Ardi? sebelum kamu mencintaiku. Apakah ada orang yang kamu cintai sebelum aku?"
Deg ....
tiba-tiba saja pertanyaan Lina membuat Ardi mengerutkan dahinya Seraya berkata," Untuk apa kamu bertanya tentang masa laluku, semua itu tak penting. Sekarang aku sudah punya masa depan yaitu bersamamu."
Entah kenapa Ardi selalu bisa membuat Lina tersenyum bahagia.
" sebenarnya Kenapa kamu bisa bertanya hal-hal yang seperti itu?"
" maafkan aku karena aku bertanya seperti itu kepadamu, saat kamu tidak ada di rumah sakit. seorang wanita mendekatiku, dia wanita yang dibawa oleh ommu ke rumah sakit."
"Maksud kamu, Alya?"
"entahlah, aku kurang yakin dengan namanya. tapi wanita itu seperti orang yang pernah berada di masa lalumu Ardi!"
Ardi sedikit bingung dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Lina, karena ia tak mungkin mengatakan masa lalunya bersama Alya yang penuh dengan perjuangan dan juga rasa cinta yang masih terpendam hingga sekarang.
" apalagi saat ibumu mengobrol dengan wanita itu, wanita itu terlihat sekali ingin menunjukkan kelebihan untuk membuat ibumu kagum."
Ardi berusaha tak serius menanggapi pertanyaan yang terlontar dari mulut calon istrinya itu.
"Kamu cemburu ya?"
Lina menatap ke arah Ardi dengan tatapan yang serius," aku tidak sedang bercanda Ardi, aku bertanya seperti ini kepadamu. karena aku tak mau jika kita menikah nanti, ada hati yang terluka karena pernikahan kita berdua."
Ardi hanya terdiam saat Lina mengatakan sebuah kata yang mampu menusuk relung hatinya, kini Lina melayangkan lagi sebuah kata-kata yang membuat Ardi menjadi plin-plan.
" saat wanita itu pulang menengok, yang membisikkan suatu kata-kata yang membuat aku sedikit ragu terhadapmu Ardi."
Ardi yang mendengar ucapan itu langsung membalikkan wajahnya dengan serius ke arah Lina. Seraya berkata dengan begitu tegas," apa yang sudah ia katakan kepada kamu?"
"Jika dia masih mencintai kamu."
Ardi tak menyangka jika Alya nekat, mengatakan hal yang tak harusnya ia katakan kepada calon istri Ardi. sebagai seorang wanita harusnya Alya saling menjaga perasaan.
__ADS_1
Ardi mengepalkan kedua tangannya, membuat Lina bertanya kembali terhadap Ardi," tolong jawab dengan jujur Ardi? Apa kamu masih mencintai wanita itu, jika kamu masih mencintai wanita itu. Aku berharap kamu bisa melepaskanku, kita batalkan saja pernikahan yang beberapa hari lagi akan di gelar."