
Ardi masih saja diam, saat pertanyaan terlontar dari mulut Lina untuk dirinya.
"Ayo jawab Ardi, aku ingin kamu berkata dengan jujur."
pertanyaan Lina seakan membuat Ardi terasa tertekan, Lina menanyakan perasaannya terhadap Alya.
"Ardi. Cepat jawab kenapa kamu diam saja?"
Jika sejujurnya, Ardi sangatlah mencintai Alya. akan tetapi mencintai Alya sangatlah menyakitkan, hingga saat ini Ardi berusaha mengobati rasa cintanya terhadap Alya, ia berusaha melupakan kenangan yang sudah lama ia jalani bersama Alya.
Hingga di mana hati Ardi, bisa terbuka lagi dengan kehadiran Lina, yang membuat rasa bahagia pada hatinya, walaupun Ardi masih berusaha mencintai Lina dengan sepenuh hatinya.
membicarakan soal cinta, sejujurnya itu tidak mudah. Apalagi cinta itu sudah merekat pada hati seseorang.
ke dua mata Lina seketika meneteskan air mata. membuat Ardi menelan ludah, tak tega. Jika ia harus berkata jujur tentang cinta dan perasaannya terhadap Alya.
Ardi mengusap kasar wajahnya, kini ia mulai menggerakkan mulutnya untuk berbicara dan mengakui perasaannya terhadap Lina.
" Sebenarnya perasaanku terhadap Alya masih ada, akan tetapi aku berusaha dan berjuang melupakan perasaanku terhadap Alya. dan perasaan itu kini mulai memudar saat hadirnya kamu dihadapanku Lina, mengisi hari-hariku yang sudah menjadi ceria. Jika kamu menanyakan lagi tentang cinta. Jujur saja aku sangat mencintai kamu Lina."
kedua pipi Lina seketika memerah, saat mendengar pernyataan yang terlontar dari mulut Ardi.
sedangkan Ardi yang melihat kedua pipi Lina memerah, kini bertanya dan merasa khawatir," Lina Kenapa dengan wajahmu, merah sekali seperti udang rebus. Apa kamu sedang demam?"
Lina menggerutu kesal pada hatinya," dasar laki-laki tak peka, sudah tahu aku malu dia bilang aku demam."
tangan Ardi tak henti memegang kening Lina, yang begitu memerah seperti udang rebus.
membuat Lina seketika menyingkirkan kedua tangan Ardi yang terus memegang keningnya.
"Apaan sih kamu, aku malu tahu."
Tentulah Ardi kaget dengan jawaban yang terlontar dari mulut Lina, ia malah tertawa terbahak-bahak di depan calon istrinya itu.
"Ardi, kenapa kamu tertawa?"
Ardi dengan spontan memeluk Lina dengan begitu erat, sedangkan Lina yang merasa tak nyaman karena masih malu dengan perkataan yang terlontar dari mulut Ardi tentang masalah perasaan dan cinta.
"Kenapa? Masih malu ya." Canda Ardi.
Ardi menunjuk-nunjuk wajah Lina yang makin memerah, membuat Lina menggigit telunjuk tangan Ardi seketika," Ahk, sakit Lina."
"Makanya jangan usil."
"Habisnya lucu dengan wajah kamu yang kaya udang rebus itu."
__ADS_1
Lina memanyunkan bibirnya, kesal dengan ejekan Ardi yang membuat dirinya semakin malu.
Ardi berjingkat-jingkat seperti anak kecil yang diberi sebuah kejutan besar dari orang tuanya.
"Ye, akhirnya kawin."
Entahlah apa yang dikatakan Ardi, membuat Lina berdiri dan tertawa terbahak-bahak. Hingga di mana Ardi menghentikan tingkah konyolnya yang seperti anak kecil, Ardi berdiri sejajar dengan Lina.
"Kenapa berhenti?" tanya Lina. Menatap ke arah Ardi dengan tatapan nya yang polos.
Ardi kini semakin mendekat ke arah Lina, jari jemari tangannya mulai memegang dagu Lina.
"Kamu kenapa Ardi?"
Ardi tetap saja diam tak menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Lina, tatapan dan tingkah Ardi begitu terlihat dingin. Membuat Lina sedikit ketakutan," kamu Kenapa Ardi. jangan bilang kamu kesurupan."
Ardi kini menempelkan jari tangannya pada bibirnya, tatapan mata Ardi semakin mendekat pada wajah Lina.
Lina tidak bisa berucap lagi. Iya hanya diam saat Ardi memegang dagunya dan wajahnya yang semakin mendekat ke arah Lina.
Dekat.
Semakin dekat.
Lina hanya menelan ludah.
Dekat.
Lina memejamkan kedua matanya.
Dan ....
"Ahak, kamu enggak cuci muka ya?" tanya Ardi membuat Lina membuka kedua matanya.
"Maksud kamu?" Lina bukanya menjawab malah bertanya balik.
"Nih ada mutiara bersilauan!" jawab Ardi menunjukkan sebuah kotoran kecil berwana putih dari ujung mata Lina.
"Ih. Ardi, nyebelin," ucap Lina mendorong tubuh Ardi yang begitu dekat dengannya.
Ardi yang tahu Lina sangat kesal dengan ulahnya, kini menarik tangan Lina membuat badan mereka menempel.
Ardi membisikan sesuatu ke telinga Lina," aku tahu apa yang kamu inginkan."
Baru saja pipi Lina kembali pulih seperti semula, kini pipi itu kembali memerah seperti udang rebus.
__ADS_1
"Ardi, aku ingin tidur."
"Buang dulu alasanmu, sekarang aku ingin mencium bibir manismu itu."
jantung Lina tiba-tiba terdetak tak karuan, saat Ardi membisikan hal hal yang sedikit mengundang gelora hasrat pada tubuh Lina.
"Tapi ini belum saatnya kita melakukan ciuman, ada waktunya nanti setelah kamu menikahiku."
Tangan Ardi semakin menarik legan Lina, membuat Lina tak bisa menahan keinginanya.
Bagaimana Lina tak tergoda, bisikan Ardi seakan meruntuhkan imam Lina.
Bibir Ardi semakin mendekat.
Ceklek.
saat itu Ardi mendorong Lina hingga Lina tersungkur jatuh pada atas kasur.
"Awk. Ardi."
Ardi menampilkan senyumannya pada orang yang tiba-tiba saja datang tanpa mengetuk pintu, " Ibu. Kapan datang."
Bu Maya ternyata datang kembali, wanita tua itu terbiasa Jika datang tak pernah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ardi, kamu kenapa kok kaya tegang gitu. Ada yang aneh saat ibu datang ke sini?"
sedangkan Lina sedikit tersenyum kecil, melihat Bu Maya datang, membuat ia mengelus dada seraya bergumam dalam hati," selamat, akhirnya aku selamat dari nafsu durjana yang menyesatkan."
" Loh kenapa kalian tak menjawab pertanyaan, ibu. Memangnya ada yang aneh ya dengan penampilan ibu yang sekarang," ucap sang ibu.
saat itulah Ardi berusaha bersikap tenang di hadapan sang ibu," penampilan Ibu biasa-biasa saja, kok. Enggak ada yang aneh."
Ardi menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal, membuat Bu Maya mendekat ke arah Linabdan bertanya? "Lina, Ardi tidak berbuat sesuatu kan kepada kamu." bisik sang Ibu kepada Lina.
"Oh, sejauh ini tidak ada kok bu!" jawab Lina.
"Mm, syukurlah."
Ardi kini berucap pada sang ibu." Ibu kok tumben balik lagi ke sini. Ada apa ya Bu? Terus ayah ke mana?"
" Ibu khawatir dengan Lina, ibu takut kamu macam-macam terhadap Lina, apalagi kalian di ruangan ini hanya berdua tak ada suster yang berjaga!"
Ardi tak menyangka jika feeling seorang ibu akan kuat terhadap anaknya, yang di mana Ardi sudah berencana mencium Lina.
" Ibu bagaimana sih, tega menuduh anaknya. Ya mana mungkin lah aku berbuat macam-macam terhadap calon istriku, toh nanti juga aku yang akan ..."
__ADS_1
"Mm yang akan apa?" sang ibu malah memotong pembicaraan anaknya yang belum selesai, wanita tua itu melayangkan sorot matanya yang terlihat begitu tajam ke arah anaknya sendiri.
"Ardi, memangnya ibu tak tahu kelakuan kamu seperti apa?"