
"Ya sudah, aku akan tetap di sini. Bersama kamu," ucap Ardi.
Lina memeluk terus menerus tubuh Ardi, membuat Ardi merasa sangat terluka melihat ke sedihan yang di rasakan Lina.
"Lina, kamu harus tetap tenang. Jangan menangis lagi, aku akan tetap bersama kamu. Sekarang kita keluar dulu dari kamar mandi ini, untuk segera menganti baju kamu, nanti kalau kamu masuk angin bagaimana?!" ucap Ardi.
Perlahan tangan Lina mulai melepaskan pelukan Ardi, membuat Lina menatap ke arah Ardi dan berkata," aku takut."
Tangan Ardi yang basah karna memegang baju Lina, kini ia tempelkan pada pipi Lina yang sudah pucat. "kamu jangan takut, kan ada aku."
Lina menganggukkan kepala, mengerti apa yang di katakan Ardi.
"Ayo aku bantu kamu jalan," ucap Ardi.
terlihat sekali tangan dan kaki Lina bergetar hebat, membuat Ardi tak tega melihat calon istrinya berjalan dengan tangan dan kaki yang gemetar, saat itulah Ardi langsung membopong tubuh calon istrinya, untuk keluar dari kamar mandi.
sang Ibu dan juga para pelayan tengah berdiri, menunggu Lina yang ke luar dari kamar mandi.
Bu Maya mulai melihat keadaan Lina yang terlihat basah kuyup, dengan tangan dan juga kaki yang terlihat kedinginan.
"Bu, suruh para pelayan untuk cepat mengganti pakaian Lina." ucap Ardi kepada sang ibu.
Ardi mulai meletakkan Lina ke tempat tidur, membaringkannya secara perlahan. saat itulah Ardi mulai pergi dari hadapan Lina,
tiba-tiba saja Lina mulai menarik tangan Ardi, menatap perlahan wajah Ardi." jangan pergi."
mana mungkin Ardi harus menunggu Lina saat digantikan baju oleh para pelayan, itu rasanya tidak mungkin. karena status Ardi bukanlah seorang suami saat ini, Iya hanya calon suami Lina yang belum sah sepenuhnya terhadap Lina.
Ardi tersenyum lebar menghampiri Lina," Lina kita belum sah menjadi suami istri, biarkan para pelayan yang mengganti baju kamu yang basah ini."
dengan perlahan Lina mulai melepaskan tangan Ardi, yang ia genggam erat. saat itulah Ardi mulai membalikkan wajahnya untuk berjalan menjauh dari hadapan Lina.
para pelayan mulai menutup pintu kamar Lina, mereka perlahan mengganti baju yang tengah dipakai Lina.
tidak butuh waktu yang begitu banyak, hanya 10 menit saja mengganti baju Lina. para pelayan mulai membuka pintu dan keluar dari kamar Lina.
saat itulah Ardi mulai berani menghampiri Lina kembali, terlihat Lina tengah duduk memikirkan sesuatu hal yang tak pernah Ardi tahu, membuat Ardi semakin mendekat ke arah Lina.
"Sekarang bagaimana ke adaan kamu, sudah tenang?" tanya Ardi kepada Lina.
Lina masih belum menjawab perkataan Ardi, dia diam dan hanya menatap ke arah jendela.
"Apa yang tengah kamu pikirkan Lina?" tanya Ardi sekali lagi.
Tetap saja Lina hanya diam.
Ardi mulai Melambaikan tangannya ke arah wajah Lina, berharap Lina mau menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Ardi.
karena dari tadi Lina tetap saja diam, saat Ardi terus bertanya kepada calon istrinya itu.
__ADS_1
"Lina sayang."
entah apa yang dirasakan Lina, membuat Ardi curiga bahwa Lina trauma akan suatu hal.
"Kamu kenapa sayang."
dengan terpaksa Ardi langsung mengagetkan Lina, membuat Lina kini berucap." ada apa Ardi."
Ardi mulai memegang kedua bahu Lina," sebenarnya kamu kenapa?"
"Aku ...."
terlihat Lina begitu ragu mengatakan sesuatu hal yang ingin sekali ia katakan, " ayo katakan lah, apa yang sudah terjadi pada kamu tadi?"
kejadian itu membuat Lina benar-benar trauma, sehingga ia berteriak terus menerus.
"Kamu kenapa?" tanya Ardi kembali.
"Aku."
Ardi mulai menarik napasnya secara perlahan, mengeluarkan dengan begitu tenang," Jika kamu belum siap mengatakannya, Aku akan tetap menunggu kamu, mengatakan semua yang sudah terjadi pada dirimu tadi."
"Terima kasih, atas pengertianmu, Ardi."
kini Ardi mulai menyuruh Lina untuk segera tidur, untuk menyambut hari esok yang begitu cerah. Ardi tidak mau melihat raut wajah Lina dalam kesedihan, ia ingin sekali melihat Lina selalu bahagia saat pertama kali bertemu dengannya.
"Aku pergi dulu." Ucap Ardi.
raut wajah Lina begitu nampak kesedihan, membuat Ardi yang berniat meninggalkan Lina di dalam kamar sendirian. Tak tega sama sekali.
kini Ardi mulai duduk di ranjang tempat tidur yang berada di samping Lina, berusaha menenangkan hati dan pikiran Lina pada saat itu. tangan Ardi mengusap pelan kepala rambut Lina, berharap Lina tenang dan juga terlelap tidur.
entah kenapa orang itu semakin menjadi-jadi meneror Lina, seakan ingin membuat hidup Lina tak tenang. membuat Lina seperti orang gila.
.
Ahkkk ....
teriakan Lina mengagetkan Ardi kembali, membuat Ardi cemas dan bertanya kepada Lina," Ada apa Lina?"
Lina terlihat cemas ketakutan, ia sepertinya bermimpi buruk," aku takut Ardi."
terus saja mulut Lina berkata ketakutan, membuat hati Ardi seakan tak tega.
"Kamu tenang ya Lina."
"Aku takut Ardi."
Tok .... tok ... tok ...
__ADS_1
saat ketakutan merasuki hati Lina, suara ketukan pintu itu tiba-tiba terdengar. Lina kini berteriak histeris.
"Aku takut, pergi kamu. Pergi kamu."
Ardi berusaha menahan kedua tangan Lina dan tubuh Lina, yang terus meronta ronta.
Ketakutan.
"Kamu harus tenang Lina, di sini ada aku,* ucap Ardi.
" Aku takut Ardi, aku takut."
Pintu kini terbuka, ternyata Bu Maya datang membawakan makanan dan juga minuman untuk disajikan pada Lina.
"Ibu."
"Lina, dia kenapa lagi, Ardi."
"Entahlah bu,"
sang Ibu kini menaruh makanan yang ia bawa di atas meja yang tak jauh dari ranjang tempat tidur Lina, Bu Maya berusaha mendekat ke arah Lina yang terus meronta-ronta ketakutan.
"Lina, kamu sadar, nak."
" Ahkkk. Pergi kamu, pergi."
Menangis histeris, membuat Bu Maya tak tega. wanita tua itu ikut menangis melihat keadaan Lina yang tiba-tiba saja berubah drastis seperti orang yang mengalami depresi berat.
"Lina, sadar. Ini aku Ardi, aku ada di sini."
Ardi terus saja, menenangkan Lina. Akan tetapi Lina tetap tak sadarkan diri.
"Ardi, padahal Lina dari tadi baik baik saja."
"Entahlah bu."
"Aku takut, Ardi." Teriak Lina.
Apa yang sudah membuat Lina seperti ini, padahal Lina dari tadi baik baik saja.
"Ya sudah sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit," ucap Bu Maya kepada Ardi.
" Ya sudah Ibu jagain dulu Lina di sini, biar Ardi menyiapkan mobil untuk segera membawa Lina ke rumah sakit," balas Ardi.
bergegas untuk pergi keluar rumah menyiapkan mobil.
Bu Maya hampir saja ke walahan menahan teriakan dan juga tubuh Lina yang terus meronta ronta.
"Lepaskan aku, aku takut."
__ADS_1
"Lina, kamu harus sadar nak. Ini ibu. Tidak akan ada orang menyakitimu di sini."