
Setelah sampai di Cafe sang Om.
Ardi mulai memarkirkan mobilnya yang tak jauh dari Cafe itu, ia kini bergegas turun bersama Lina menemui sang Om. terlihat sekali wajah yang begitu lugu di hadapan Ardi. sang Om begitu pintar menyembunyikan kejahatannya dari ekspresi wajahnya yang terlihat lugu.
"Ardi, akhirnya kamu datang juga," ucap sang om, menyambut kedatangan Ardi dan Lina.
Lelaki berparas tampan itu mepersilahkan sang tamu untuk duduk, ia segera mungkin menyediakan minuman yang terlihat menyegarkan.
"Silahkan di minum."
Ardi tampak curiga, ia seakan tak ingin meminum minuman buatan sang om," Loh, kok hanya di lihat saja. Ayo minum."
Lina yang merasa kehausan kini mengambil air minum yang sudah disediakan sang om, perlahan ia mulai menyedot air minum itu. akan tetapi Ardi tiba-tiba saja menyenggol gelas yang tengah dipegang oleh Lina, membuat gelas itu langsung terjatuh ke atas lantai.
"Ups, sorry."
Lina tentulah kesal dengan sikap Ardi yang tiba-tiba saja menyenggol dirinya dengan sengaja, ia mulai menatap kesal terhadap Ardi dan mulai membereskan pecahan beling itu.
sedangkan sang Om dengan Sigap langsung memanggil pelayan untuk segera membereskan pecahan beling di atas lantai, Ardi yang menatap Lina membereskan pecahan beling itu langsung membantunya,
Terlihat air minum yang sudah tumpah di atas lantai, terdapat serbuk-serbuk putih yang Ardi curigai bawa serbuk itu adalah serbuk untuk membuat orang tertidur pulas.
"Apa rencana yang di buat om saat ini." Gerutu hati Ardi.
Ardi menatap tajam ke arah sang om, membuat lelaki berparas tampan itu bertanya," Ardi apa yang kamu takuti."
Deg ...
Ardi berusaha bersikap biasa saja, seakan tak terjadi apa apa.
"Kamu kenapa Ardi," ucap sang om.
Hem ....
Suara batuk terdengar, seketika Ardi menepuk punggung sang om.
"Om, bukanya om mau bikinin aku makanan favorit ya?" tanya Ardi mengalihkan pembicaraan.
"Hem, ya!" jawab sang om. Terlihat sedikit curiga pada Ardi.
"Sial, sepertinya omku mengetahui gerak gerikku." Gumam hati Ardi.
__ADS_1
Lelaki berparas tampan itu langsung memanggil para pelayan untuk menyajikan menu makanan sepecial di cafe itu.
Tentulah membuat Ardi menarik napas lega.
Para pelayan di cafe itu langsung membawakan sebuah hidangan besar yang di sajikan, untuk Lina dan Ardi, " Silahkan makan."
Ardi berusaha menyembunyikan sifat kesalnya terhadap sang Om, agar lelaki itu tak mencurigai rasa kesalnya yang terpendam.
"Ayo, makan."
Sang om mempersilahkan makanan di cafe itu kepada Lina dan Ardi, hanya saja Ardi yang tak yakin langsung berucap," sepertinya tak komplit kalau Om tidak makan bersama dengan kita."
Deg .....
Ardi berharap ucapanya tak mencurigai sang Om, jika ia takut akan sang om yang menaruh sebuk putih lagi di makanan.
"Kenapa tidak." ucap sang Om.
"Jadi kita makan bersama, dengan bos cafe ini."
Lina hanya tersenyum, ia heran dengan tingkah Ardi." Ada apa sebenarnya dengan Ardi."
Lina mulai mencicipi makanan yang sudah tersedia, hanya saja Ardi langsung memukul tangan Lina dan berkata," di tanganmu ada nyamuk."
Padahal Lina tahu, bahwa di cafe itu tidak ada nyamuk sedikit pun. Ia bingung dengan tingkah Ardi yang terlihat tak wajar.
Lelaki berparas tampan itu, mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Terlihat Ardi begitu memperhatikan sang Om. Mengunyah perlahan makanan itu.
Dengan sigapnya Ardi memakan makanan itu, karna melihat sang Om sudah memakan hidanganya yang di buatnya sendiri.
"Apa ada yang kamu takuti, Ardi?" tanya sang om.
Kunyahan dalam mulut Ardi mendadak berhenti seketika," maksud Om."
"Om lihat, kamu begitu ketakutan saat Om kasih hidangan sepecial ini!" jawab sang Om.
Entah kenapa ucapan sang Om begitu tepat sekali, membuat Ardi menelan langsung makanan yang belum terkunyah sepenuhnya.
"Om ini ngomong apa?" tanya Ardi belaga sok polos.
Sang om tersenyum sinis, dan menjawab!" om hanya melihat gerak gerikmu yang tak biasa. Apa ada kecurigaan kamu terhadap Om."
__ADS_1
Lelaki yang menjadi om Ardi itu sangatlah pintar, ia begitu memperhatikan kewaspadaan Ardi pada makanan yang di hidangkan di cafe itu.
."Ya elah om, kita ini keluarga. Curiga, apa yang harus di curigai."
Hem ....
Lina hanya menatap ke arah Ardi dan Omnya yang terlihat serius dalam berbincang, ia tak mau ikut campur dalam masalah yang tengah di obrolkan Ardi dan omnya sendiri.
"Maaf sebelumnya, aku mau izin ke toilet sebentar."
Saat Lina mulai beranjak berdiri, tangan Ardi mulai meraih tangan Lina agar tidak ke toilet sendirian.
"Tunggu. Aku antar kamu."
Ucapan Ardi sangatlah membingungkan bagi Lina," antar. Aku bisa sendiri kok Ardi."
"Enggak kamu penakut, sebaiknya aku antar kamu sekarang."
Deg ....
Kesal apa yang di ucapkan Ardi, ia berkata bahwa Lina penakut, rasanya Lina ingin menjambak rambut Ardi, akan tetapi dia harus bersikap anggun dan tak boleh memperlihatkan ke garanganya terhadap sang om yang harus di sengani.
"Iya, kebetulan sekali, aku tadi juga mau berkata seperti itu," ucap Lina pada Ardi.
Kini Ardi berdiri berpamitan Untuk mengantarkan Lina ke toilet sebentar, sedangkan sang Om, hanya menganggukkan kepala setelah Ardi berkata seperti itu. lelaki berparas tampan itu berusaha menyembunyikan kekesalannya terhadap Ardi sang keponakan yang terlihat mencurigai niatnya kepada Lina.
sesaat Ardi dan Lina sudah sedikit menjauh dari hadapan dirinya, saat itulah kepalan tangan dilayangkan oleh sang Om, lelaki itu memukul-mukul telapak tangannya menahan emosi yang terus meluap-luap dari hatinya.
"Sepertinya Ardi mencurigai niatku." Gumam hati sang Om.
lelaki itu kini menyuruh para pelayan, untuk menuruti perintahnya. yang di mana ia membisikkan sesuatu pada telinga para pelayan yang berada di cafe itu. entah apa yang ia bisikan bibirnya kini tersenyum lebar terlihat sekali niat liciknya.
"Kalian mengerti apa yang aku printahkan," ucap tegas sang Om.
para pelayan itu mengganggukan kepala, bersiap untuk melakukan hal yang di printahkan para pelayan.
"Hem. Ardi. Liat saja apa yang akan aku lakukan sekarang ini."
Sang Om berjalan, untuk melihat aksi para pelanyannya melalu cctv, ia tak sabar melihat adegan yang akan menggembirakan hatinya.
Kedua matanya begitu fokus menatap layar cctv.
__ADS_1
"Aku tak menyangka jika keponakanku itu, begitu pintar. Padalah hanta dalam satu langkah saja masalah akan beres begitu pun dengan rencana yang sudah kususun." Ucap lelaki itu begitu fokus menatap layar yang merekam Ardi dan Lina.
Terlihat Ardi dan Lina saling berdebat satu sama lain, membuat lelaki itu hanya bisa melihat perdebatan yang begitu menyenangkan.