Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 218 Hiasan pecah.


__ADS_3

"Ada yang mau Nyonya tanyakan lagi?" tanya seorang pembantu baru bernama Ika.


Maya menggelengkan kepalanya, tanda ia tak akan bertanya kembali.


Mereka berdua kini melanjutkan makanan yang masih tersisa pada piring.


Sedangkan sang Nyonya yang tak lain ialah Maya, masih menatap curiga pada pembantu baru yang terlihat tenang itu.


Setelah makan siang selesai, Maya menyuruh pembantu barunya untuk membawakan makanan ke kamar Ardi.


"Ika, tolong kamu siapkan makan siang untuk anak saya," printah sang nyonya besar.


Ika menundukkan kepala, dan berkata,"baik nona."


Saat itulah Ika tersenyum sinis, di belakang Maya. Membuat rasa penasaran menyelimuti hati wanita dengan rambut yang tergulung rapi.


Karena rasa curiga akan pembantunya, meyakini mengikuti dari belakang. Ia ingin melihat ketika pembantu barunya mengantarkan makanan untuk anaknya.


perlahan berjalan, pembantu baru yang bernama Ika, kini mengetuk pintu kamar Ardi dengan pelan. Sedangkan Maya masih mengintip di balik tembok yang tak jauh dari kamar anaknya sendiri.


Ardi keluar dari kamarnya, membuka pintu dan melihat Siapa yang datang.


" Permisi tuan Ardi, saya diperintahkan Nyonya Untuk mengantarkan makan siang untuk tuan," ucap Ika dengan sopan.


" Ya sudah kamu taruh di meja dekat ranjang tempat tidurku," balas Ardi. Wajahnya terlihat begitu muram, dengan rambut yang tak beraturan.


Hingga beberapa detik kemudian, pembantu itu selesai mengantarkan makanannya ke dalam kamar Ardi.


Maya masih menyelidiki pembantu baru yang baru saja masuk ke rumahnya, pembantu itu terlihat sangat tenang, tidak terlihat gerak-gerik mencurigakan dari diri pembantu bernama Ika.


wanita tua yang terus menyelidiki pembantu barunya, segera membalikkan badan. Berharap pembantu barunya itu tak melihat Maya yang mengikuti gerak-gerik Ika.


"Tak ada yang mencurigakan, tapi kenapa dengan hatiku terasa tak tenang ya."


memijat kepala yang terasa pusing, Maya kini mulai berjalan ke arah kamar untuk beristirahat sejenak. pelukan hangat kini datang tiba-tiba dari belakang punggung Maya," Anton."


"Kenapa?"


"Tidak apa apa!"


"Tapi aku melihat kamu seperti memikirkan sesuatu?"


"Tidak ada!"


"Jawab yang jujur Maya sayang?"


"Baikalah, saat makan tadi aku sedikit mencurigai pembantu baru kita yang baru bekerja di rumah selama dua hari ini, padahal aku tidak pernah menyuruh asisten untuk menambah pembantu!"


"Apa kamu keberatan, karna memberi gaji baru pembantu itu?"


"Bukan itu masalahnya. Ada rasa curiga pada pembantu baru kita, ia tidak seperti pembantu di sini, sikapnya begitu tenang dan anggun!"


"Ya itu bangus donk, kenapa di permasalahkan?"

__ADS_1


"Memang iya bagus, hanya saja bagiku itu tak bagus. Aku curiga dia ada niat tersembunyi saat menjadi pembantu!"


"Mm, memang aku juga merasa seperti itu?"


Anton berjalan membelakangi sang istri, Maya mulai mendekat dan berkata," jadi kamu juga curiga."


"Ya, karna dia tidak pantas kerja jadi pembantu, karna kepiawanya dalam berucap dan tatakramanya seperti bukan pembantu melayankan seorang tuan rumah!"


"Itu yang tengah aku pikirkan sekarang."


"Apa ini ada hubunganya dengan masalah anak kita Ardi? Karna sudah seharian ini Lina tidak tak terlihat di rumah. Dan juga jika Lina sakit pasti Ardi akan menunggunya di rumah sakit."


Pikiran seorang insan begitu sama, membuat sebuah kekompakan pada diri mereka.


"Bagian CctV." ucap Maya.


"Untuk apa kita melihat Cctv?" tanya Anton yang tak mengerti dengan perkataan istrinya.


"Tentu saja melihat kejadian yang tidak kita lihat, saat kita tidak ada di rumah, Anton!" jawab Maya pada sang suami.


Ketika membahas tentang penyelidikan, mereka selalu fokus, untuk menyebut nama panggilan pun seperti bukan suami istri.


"Ya sudah ayo."


Bruggg ....


Sesuatu jatuh dia luar sana.


"Apa itu?"


Saat membuka pintu, hanya ada hiasan keramik yang terjatuh pada atas lantai.


"Hiasanku."


"Kenapa?"


"Kamu lihat, Yah. Hiasan keramikku!"


"Siapa yang berani memecahkan keramik hiasan istriku."


Maya melihat, ke arah seseorang yang tengah bersembunyi, membuat ia menghampiri dan menarik orang itu.


"Lala?"


Wanita yang sudah lama menjadi pembantu di rumah Maya, kini menudukkan pandangan, mengakui kesalahanya.


Maya kira yang memecahkan hiasanya adalah pembantu barunya yang tak lain ialah Ika, tapi nyatanya dugaannya salah.


"Nyonya, maafkan saya." Tangan Lala terlihat bergetar ketakutan, akan amukan majikan wanitanya.


"Ya sudah aku maafkan kamu,"


Akhirnya Lala pergi, terbebas dari amukan sang majikan.

__ADS_1


Maya melihat punggung Lala yang sudah menjauh dari hadapan mata Maya.


"Aku yakin. Ini bukan kesalahan Lala terlihat sekali, wajah Lala yang menandakan rasa takut ke dua pihak." Gumam hati Maya.


"Sayang, kamu enggak bakal potong gaji Lala, buat ganti rugi?"


"Enggak, Yah, sepertinya ada pihak ketiga yang mau mengadu domba aku dan pelayan di sini!"


"Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan pembantu baru di rumah ini!"


Maya kini merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, menelepon asisten kepercayaannya.


"Halo, Aida?"


"Iya Nyonya!"


"Kirimkan aku data tentang pembantu baru di rumah?"


"Pembantu baru?"


"Iya pembantu baru, masa kamu enggak tahu?"


Dari sini kecurigaan Maya semakin kuat.


"Saya tidak membawa pembantu baru ke rumah Nyonya!"


"Mm, jadi kamu tidak tahu apa apa?"


"Iya Nyonya, jika Nyonya membutuhkan pembantu baru saya pasti akan cari dari desa. Tapi untuk sekarang bukannya Nyonya belum menyuruh saya mencari pembantu baru lagi?"


"Apa yang dikatakan Aida benar, ia paling tahu apa yang aku butuhkan, jadi benar kecurigaanku saat ini. Sepertinya biang masalah anakku ada pada letak pembantu itu, kurang ajar," gerutu hati Maya.


"Halo, Nyonya?"


"Ya sudah Aida. Aku hanya ingin menanyakan hal itu saja! sepertinya aku salah mengira, di rumah ada pembantu baru."


"Baik Nyonya."


kini Maya mulai menutup sambungan telepon Aida, rasa penasaran semakin menggebu pada hatinya. saat itulah ia berniat berjalan ke arah dapur untuk melihat pembantu baru yang baru bekerja dua hari di rumahnya.


berjalan perlahan, Maya melihat pembantu itu memarahi Lala. Iya berkacak pinggang layaknya seorang majikan kepada pembantunya," berani sekali dia."


Maya perlahan semakin mendekat, ke arah pembantu baru itu.


Maya berdiri di belakang Ika, Lala yang melihat Maya berdiri di belakang pembantu barunya.


Membuat Maya langsung menempelkan telunjuk tangan pada bibirnya sendiri. Lala kini mengerti dengan kode sang majikan. Iya tak berani berucap satu patah kata pun.


Sedangkan Ika terus menunjuk-nunjuk Lala seakan semua diambil alih oleh dirinya. membuat Lala yang sudah lama menjadi pembantu di rumah Maya terlihat ketakutan dan tak nyaman dengan sikap pembantu barunya yang sok seperti majikan di rumah.


"Ini ternyata biang keladinya."

__ADS_1


Ucap Maya.


Deg .....


__ADS_2