Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 27


__ADS_3

#Kau buang istrimu seperti sampah kupungut dia seperti permaisuri.


#Dia_Anugrah_Terindahku


Pagi hari dimana Haikal berpamitan untuk pergi ke rumah Bi Suri. Lina menemui sang kakak yang tengah terduduk lesu di kursi, wajah yang harusnya ceria kini memudar.


"Ka Dinda, kok pagi-pagi gini lesu. Semangat dong pengantin baru," ucap Lina. Dinda hanya menatap sekilas sang adik yang berdiri tersenyum di hadapannya.


Menyenderkan punggung pada kursi, mendesah resah menatap ke arah depan pintu. Hati Dinda kian merasakan ke tidak nyamanan, harus dari mana mulai menceritakan semuanya. Lina hanya gadis lugu yang belum paham dalam segala hal.


"Kaka kurang enak badan aja. De!" jawab Dinda. Berdiri melewati Lina yang berdiri mematung.


Lina menarik lengan sang kakak seraya bertanya?" Apa yang tengah kakak pikirkan."


Rasanya Dinda tak sanggup menceritakan malam pertama pada adiknya sendiri, dia malu.


"Tidak ada. De!" jawab Dinda. Dalam keadaan lesu.


Dinda berjalan gontai memasuki kamar, ia merebahkan tubuhnya hingga waktu tak terasa sudah siang, karna waktu sudah menujukan pukul 11:30 dimana sebentar lagi azan dzuhur. Dinda segera bergegas ke kamar mandi.


Saat itu Haikal pulang, mencari sang istri.


"Dinda sayang," panggil Haikal.


Lina yang mendengar teriak Haikal ke luar dari dalam kamarnya.


"Loh, ke mana kakak kamu?" tanya Haikal menenteng es campur yang baru saja ia beli.


"Kaka ada di kamar tidur, kayanya sedang tidur. Kaka dari pagi murung terus, Lina tanya katanya kurang enak badan!" jawab Lina menceritakan sang kakak.


"Ka Dinda enggak enak badan, ya sudah ini es campurnya kamu siap in dulu di atas meja," perintah Haikal pada adiknya. Raut wajah Haikal begitu panik mendengar berita bahwa sang kakak tengah tak enak badan.


Haikal tergesa-gesa menghampiri sang istri di dalam kamar tidur. Karna panik Haikal masuk ke dalam kamar mandi yang tidak terkunci.


Lelaki berhidung mancung itu melihat dengan kedua mata kepalanya, air mengalir mengenai tubuh istrinya. Terlihat tubuh yang penuh luka bekas cambukkan, dan siksaan, membuat Haikal berjalan menghampiri sang istri.


Kedua tangannya memeluk erat Dinda, membuat wanita yang tengah menikmati air mengalir pada tubuhnya tersentak kaget, seraya berkata." Apa kamu malu dengan bekas luka di tubuhmu, Dinda?"


Dinda yang mendengar perkataan itu, dengan sepontan melepaskan pelukan erat sang suami.


"Biarkan seperti ini," ucap Haikal. Pelukannya semakin erat memeluk sang istri.


Air mata Dinda keluar tak tertahankan, ia merasa malu dengan penampilan tubuhnya.

__ADS_1


"Maafkan aku yang tak jujur!" jawab Dinda.


Haikal mematikan air yang mengalir dan meraih handuk yang menggantung, menutupi tubuh istrinya yang basah dan mulai terlihat kedinginan.


Seketika Haikal membopong Dinda, Membuat wanita berbulu mata lentik itu kaget," Turunkan aku Haikal aku malu."


Haikal tersenyum manis seraya, berkata," kenapa harus malu? Kita kan suami istri!"


Menidurkan Dinda di atas ranjang kasur, perlahan Haikal mulai menyentuh sang istri.


"Bagaimana keadaan tubuhmu, aku akan selalu menyayangimu Dinda," bisik Haikal. Membuat Dinda tersenyum senang. Hatinya lega suaminya menerima dirinya apa adanya.


Haikal tak menyangka ada lelaki yang tega berbuat semena-mena istrinya. Melukai tanpa perasaan membuat hati dan pisiknya terluka, dimana hati nurani seorang lelaki.


Lelaki berhidung mancung itu, perlahan menatap wajah sang istri mengecup keningnya.


"Aku mencintaimu Dinda."


Tok ... tok ...


"Ka, ini es campurnya udah mulai enggak dingin. Nanti enggak enak kalau di makan," teriak Lina dibalik pintu.


Dinda dan Haikal buru-buru untuk mandi, Haikal lupa sudah membeli es campur untuk sang istri.


Minat tersenyum Seraya menyindir," pantas saja lama pengantin baru."


Dinda yang mendengar sang adik berkata seperti itu langsung mencubit kecil pinggang adiknya, mengedipkan sebelah matanya.


"Yuk, Lina nunggui dari tadi. Es campurnya nanti gak enak loh jadi enggak dingin enggak segar."


Bibir Lina sedikit mengkerut, wajahnya tampak murung karena es campur yang dibelikan Haikal sudah mulai tidak dingin.


Kebahagiaan terpancar dari diri mereka semua tampak seperti keluarga sempurna.


**********


Nina segera bergegas mencari Haikal, namun sang papah menahan kepergian anaknya.


"Mau ke mana kamu Nina?"


" Aku mau ke mana itu bukan urusan papah, jadi sekarang papah jangan urusi urusanku. Oke lebih baik papah urusi saja istri baru papah!"


Hardik Nina, menatap tajam ke arah Pak Andi.

__ADS_1


" Kenapa kamu jadi anak pembangkang, Nina?"


Pak Andi tak kalah memarahi anaknya, emosinya semakin meluap.


"Harusnya aku yang tanya sama papah? Kenapa papa menjadi laki-laki yang tidak tahu diri?" Pertanyaan sang anak membuat Pak Andi berdecap kesal.


" Jaga ucapanmu Nina, papah tidak pernah mendidik kamu berbicara seperti itu," ucap lelaki tua yang menjadi ayah Nina, dengan bernada sedikit meninggi.


" Sudah Pah, aku mau pergi malas berdebat dengan papa."


Pak Andi menarik lengan tangan anaknya yang hampir saja pergi meninggalkan dirinya.


" Nina Sudahlah jangan mengejar apa yang bukan milik kamu. Papah mengerti kamu pasti tertekan dengan papa karena itu kamu berubah jadi seperti ini, maafkan papa Maafkan Papa Nina, papa akan berusaha untuk menjaga kamu. Papa tidak akan menekan kamu lagi jadi stop jangan kejar Haikal lelaki yang memang tidak menyukai kamu," ucapan lembut dari seorang ayah kembali lagi terucap. Membuat Nina berdiri tanpa menoleh raut wajah sang ayah yang sudah terlihat tua.


"Dari mana Papah tahu Haikal tidak menyukai Nina? Dari mana Papah tahu Nina selalu mengejar Haikal?" tanya Nina. Mencabik bibir kesal.


"Maafkan papah sayang. Papa sudah mengirim orang suruhan untuk mengikuti kamu Kemanapun kamu pergi," Nina sedikit terdohok kaget.


"Jadi maksud papah apa? Mengirim orang untuk selalu mengikutiku kemanapun aku pergi? Untuk apa tidak ada guna?" Pak Andi mendekatkan tubuhnya sedikit.


"Papah peduli sama kamu Nina. Makanya Papa melakukan ini, papa Kira dengan melakukan ini kamu bisa bahagia. Nyatanya, papa salah papah malah membuat kamu menjadi orang jahat."


Air mata yang berusaha Pak Andi tahan akhirnya keluar dari pelipis matanya mengenai kedua pipinya.


"Aku begini karena Papa yang tidak pernah memperhatikanku, coba saja kalau Papa memperhatikanku sedikit saja. Aku tidak akan mengejar orang lain. Aku tidak akan seperti ini Pah, anak wanita mana yang akan bangkit sendiri untuk hidup untuk bisa bahagia? Sedangkan tidak ada kasih sayang seorang dari kedua orang tuanya? Papa lebih mempedulikan pekerjaan dan wanita, sedangkan aku apa? Tidak ada rasa perduli seorang papah adaku. Aku hidup mandiri seperti ini semua itu gara-gara papa kalau saja Papa memberikan satu Perhatian untuk Nina. Tapi nyatanya! Papa menekan Nina papa memberikan seluruh keinginn Nina dari segi materi tapi papah lupa cara menyayangimu Nina dari segi kasih sayang perhatian dan juga kepedulian."


Perkataan Nina membuat air mata sang ayah benar-benar tak terbendung lagi. Membuat sang ayah menangis teisak-isak.


"Maafkan Papa Nina, memang papah ini ayah yang tidak baik, ayah yang telah lalai. Papah ini tidak tahu diri papah menyesal. Papa tidak mau kebahagiaan papa hancur, begitu saja. Setelah kehilangan ibu kamu."


"Kalau memang papah menyesal? Tinggalkan Dira tinggalkan wanita muda itu?"


"Kalau itu kemauan kamu! Papah akan turuti apapun demi kamu. Asal kamu bisa merubah sifat jahatmu menjadi sifat baik, seperti dulu dan Jangan jadi wanita jahat lagi!"


Badan Nina berbalik arah kepada Pak Andi, dia menatap raut wajah ayah yang sudah mulai mengkerut dihadapanya.


Pelukan kan itu datang begitu saja, dari seorang anak perempuan kepada seorang lelaki tua yang menjadi ayahnya.


"Apa kamu memaafkan papa, Nina?"


Mengusap kasar air mata yang keluar dengan punggung tangannya,.rasa sakit hati kecewa ini berubah menjadi kebahagiaan.


Bisik hati Pak Andi asal kamu tahu Nina jikalau lelaki yang bernama Haikal itu tidak datang menemui Papa, dengan beraninya. Mungkin kita akan seperti musuh dan tidak akan seperti ini Nina. Haikal menyadarkan Papa bahwa Begitu pentingnya keluarga Begitu pentingnya seorang anak dikehidupan kita. Lelaki bernama Haikal itu sungguh luar biasa pantas saja kamu menginginkan dia. Maafkan Papa Nina, Maafkan papa. Papa malah menghancurkan dirimu bukan malah melindungimu, harusnya. Papah menjadi seorang ayah yang bisa membahagiakan bukan menekan.

__ADS_1


Air mata berlinang pelukan begitu erat menghangatkan seluruh ruangan, pelukan dari seorang ayah yang mencintai anak perempuannya. Pelukan dari seorang anak perempuan yang mencintai ayahnya cinta yang tulus dari seorang ayah yang selalu sadar akan pentingnya dirinya pada anaknya


__ADS_2