Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 187


__ADS_3

"Kalian lihat, kedua pelayan itu tengah mengintip kita dari kejauhan," ucap Lina mengedipkan sebelah matanya.


"Iya sepertinya mereka tengah mengawasi Haikal," balas Ardi.


"Gimana kalau kita kerjain saja?" tanya Lina pada Ardi dan Haikal.


"Ide yang bagus!" jawab Ardi.


Kini Lina membisikan sebuah rencana untuk mengerjai kedua pelayan itu.


"Gimana ide Lina?"


"Bagus."


Rencana di mulai, Lina dan Ardi yang sudah mengobati Haikal bergegas untuk mengerjai kedua pelayan itu.


Dengan pelan pelan, Lina berjalan ke arah mereka berdua.


Brug ....


Mereka berdua tentulah kaget dengan suara itu.


Brug ....


Lina hanya tertawa saat mendengar kedua pelayan itu terlihat ketakutan, kini Ardi mulai melayangkan aksinya kembali.


Menumpahkan minyak yang mungkin mereka akan berlari ke arah Ardi.


"Bersiap siap."


Kini kedua pelayan itu mulai berdiri, untuk melihat suara apa yang membuat mereka terasa terganggu.


Brukk ....


Lina memakai kain putih sembari membawa pisau, tentulah membuat mereka yang fokus mencari sumber suara sampai terkejut.


Refleks mereka langsung berlari ke arah Ardi Yang tengah bersembunyi pada meja cafe.


"1. 2 . 3."


Brugg ....


Kedua pelayan itu langsung terjatuh ke atas lantai, membuat Ardi yang bersembunyi pada meja Cafe mulai menutup mulutnya, menahan tawa melihat kedua pelayan itu tersungkur jatuh hingga bibir mereka mengenai lantai.


"Rasain emang enak?"


Betapa senangnya Ardi melihat mereka terjatuh, membuat hati Ardi sangatlah puas dengan apa yang ia lihat.


Sedangkan Lina, kini membuka kain putih yang menutup badannya dan juga segera mungkin menyimpan benda tajam yang ia sengaja bawa untuk menakut-nakuti kedua pelayan itu.

__ADS_1


"Haduh, kenapa pake acara ada minyak segala di sini?"


"Entahlah, padahal dari tadi lantai aman aman aja bersih, lah ini!"


"Kamu sih enggak hati hati, pake acara kabur lari segala."


"Namanya orang kaget ya harus gimana lagi."


Para pelayan di cafe itu, kini menghampiri kedua sahabatnya yang terjatuh, mereka bukanya menolong malah mentertawakan.


"Heh. Kalian ngapai ketawa, kalau teman susah itu bantu dong. Bukan malah di ketawain."


"Ya. Habisnya kalian berdua ngapain coba pake acara jatuh ke lantai sampai bibir kalian jontor."


Ejekan terus dilayangkan oleh semua pelayan di cafe untuk kedua temannya.


"Tuhkan brow, di ketawain kita."


"diem lu."


Kedua pelayan yang terjatuh kini berusaha berdiri, namun sialnya mereka malah terjatuh kembali. Karena lantai yang begitu licin.


Para pelayan semua mentertawakan kedua pelayan yang terjatuh kembali.


"Malah, ketawa. Bantuin dong."


"Malas."


Hingga di mana Haikal datang melihat apa yang sudah terjadi terhadap pelayan yang di kerjai Lina dan Ardi.


Haikal tak menyangka, jika kedua pelayan itu dikerjai habis-habisan oleh Ardi dan juga Lina, apalagi kedua pelayan itu sampai ditertawakan oleh teman-teman mereka di cafe.


Haikal yang masih merasakan rasa sakit pada tangannya dan juga wajahnya. kini berucap pada pelayan yang masih duduk di atas lantai, karena mereka yang tak bisa berdiri akibat licinnya minyak pada lantai yang mereka injak.


"Bagaimana rasanya, jika terjatuh di atas lantai dengan bibir jontor seperti itu."


kedua pelayan itu menatap tajam ke arah Haikal, mereka tak menyangka jika Haikal datang melihat keadaan mereka yang begitu tragis, karena terus meleset pada lantai yang berserakan minyak.


" Apa maksud perkataanmu itu," pekik kedua pelayan itu.


" Aku tidak ada maksud apa-apa, hanya saja itu adalah sebuah peringatan untuk orang yang selalu memfitnah tanpa memperlihatkan bukti." Ucap Haikal. Ia kini pergi meninggalkan kedua pelayan itu.


Haikal kini mengahampiri Lina dan Ardi, di mana Ardi dan Lina tengah duduk dengan tertawa terbahak-bahak.


"Bagaimana, aksi kami, Haikal?" tanya Ardi.


Haikal menampilkan senyumannya yang lebar dan berkata," bagus. kalian memang hebat, terima kasih Ardi."


"terima kasih kembali."

__ADS_1


"Gue enggak nyangka kalian bisa sehebat itu. Membuat bibir kedua tukang fitnah itu sampai jontor."


Ardi kini berdiri, menghampiri Haikal seraya menepuk bahu Haikal yang terluka.


"Aw."


"Up, Sorry. Aku kira enggak sakit."


"Lu maen tabok aja, kaya enggak tahu aja sahabat lu yang lagi sakit ini."


Haikal perlahan menatap Lina yang tengah duduk tersenyum kecil, melihat Haikal meringis kesakiran. Haikal tak menyangka jika Lina membuat rencana untuk mengerjai kedua pelayan yang sudah memfitnah Haikal dengan berjalan mulus.


Padahal di obrolan tadi saat Ardi mengambil obat untuk mengobati luka Haikal. Lina sempat ragu atas kejujuran Haikal bahwa dia tidak bersalah, tapi sekarang Lina malah membantu Haikal.


"Lina. Terima kasih kamu mau mengerjai kedua pelayan itu," ucap Haikal pada Lina.


"Tak usah berterima kasih, memang kedua pelayan itu harus diberi pelajaran. Karena mereka sudah berani membuat kak Haikal terluka," balas Lina


"Iya benar, mereka harus diberi pelajaran seperti itu, kalau bisa lebih dari itu," timpal Ardi.


Mereka bertiga begitu kompak.


"Terus bagaimana rencana kita agar Pras mau mengakui kesalahannya?" tanya Haikal pada Ardi.


"Lu tenang aja Haikal, pasti gue bisa ngatasin semuanya. Hanya saja aku sudah tidak sabar mendengar Alya menceritakan semua kejadian yang menimpa kamu dan juga Alya," ucap Ardi pada Haikal.


"Iya benar, aku ingin kepastian dari Alya, bahwa Sebenarnya aku tidak bersalah, kedua pelayan itu yang sudah bersalah atas semua yang mereka lakukan," balas Haikal.


Ardi bergumam dalam hati," aku berharap Alya berkata jujur dengan apa yang terjadi, aku takut jika Alya berbohong, karena aku sudah tahu bahwa dari dulu Alya, sosok wanita yang licik. Jika ia ingin mendapatkan sesuatu, bisa saja mencari cara untuk mendapatkan apa yang ia mau. Apalagi Alya sempat mengancam Lina di rumah sakit."


"Oh ya. Ke mana Pras dan juga Alya, dari tadi aku tak melihat keberadaan mereka?" tanya Lina.


"Mungkin Alya pingsan!" jawab Ardi.


"Dari mana kamu tahu," ucap Haikal.


"Asal nebak aja," balas Ardi.


Haikal sempat ingat dengan rekaman.


Saat itulah, Haikal kini menunjukkan salah satu rekaman yang ia rekam saat berada di kamar mandi kepada Ardi.


"Aku ingin menunjukkan sesuatu kepada kalian berdua," ucap Haikal.


Lina penasaran dengan apa yang di katakan Haikal.


"Mununjukkan apa?" tanya Lina.


"Sebelum aku membantu Alya dari kedua pelayan itu, aku sempat merekam dan juga mengambil video Alya dan Pras yang tengah bertengkar apalagi saat itu Pras begitu kejam terhadap Alya."

__ADS_1


Ardi tentulab sangat penasaran dengan rekaman dan juga video yang berhasil diambil oleh Haikal..


Saat itulah Haikal mukai merogok saku celananya, menunjuk ponselnya memperlihatkan rekaman dan .....


__ADS_2