Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 66


__ADS_3

Lina langsung menatap ke arah belakang, yang di mana ternyata Dinda datang menghampiri dirinya.


" kakak. Bukannya tadi Kakak sedang tidur?" tanya Lina kepada sang kakak.


" Emang iya kakak tadi sedang tidur, hanya saja Kakak mendengar suara klakson di depan rumah. Jadi Kakak bangun. Oh ya. Siapa yang datang!?"


sebelum perkataan Lina terucap, Ardi langsung tersenyum dan berkata," Halo, Kak Dinda apa kabar? Ini aku Ardi."


" Oh Ardi yang kemarin nginep di rumah?" tanya Dinda tersenyum ramah kepada Ardi.


" Betul sekali Kak Dinda, ternyata kak Dinda masih ingat pada Ardi, ya!" tanya Ardi tersenyum ramah kepada Dinda, senyuman Ardi membuat Lina benar-benar muak.


" Lina, Kenapa kamu biarkan Ardi di luar. ajak dia masuk ke dalam rumah," ucap tegas Dinda kepada Lina.


"Ya, kak."


Saat itulah Lina mulai menyuruh Ardi untuk masuk ke dalam rumah, Linaa bergegas pergi ke dapur untuk segera membuatkan air minum.


" Akh. Kenapa juga kak Dinda harus bangun di saat situasi seperti ini, baru saja aku ingin menerima makanan yang dibelikan Ardi untukku, mungkin sekarang perutku sudah tak keroncong lagi seperti tadi. Mana sekarang perutku terasa sangat perih lagi." Gerutu Linanyang tengah menyiapkan minuman untuk tamunya.


terlintas di pikiran Lina ada niat jahil untuk mengerjai Ardi agar segera pergi dari rumahnya." kenapa aku baru kepikiran ya, kali kali ini aja ya aku kerjain Ardi agar cepat pergi dari rumah ini."


Lina pergi ke dapur untuk mencari obat sakit perut, ia menaburkan bubuk obat itu pada minuman Ardi. dengan tersenyum licik Lina seakan puas setelah menaburkan obat bubuk itu pada minuman Ardi.


"Haha, rasakan pembalasanku Ardi. Mungkin setelah kamu pulang dari rumah ini, kamu akan bolak-balik ke kamar mandi." Ucap Lina tertawa.


Lina melihat Ardi yang sok akrab dengan Kak Dinda, membuat Lina semakin benci terhadap Ardi.


" Sok akrab, dasar penjilat." Cetus Lina dalam hati.


Lina langsung menaruh minuman itu di depan Ardi, menawarkan kepada Ardi untuk segera diminum.


"Ini minumanya, ayo di minum kakak Ardi." Ucap Lina.


Ardi sedikit curiga dengan tatapan Lina. Iya seakan ragu untuk meminum minuman yang telah dibuat Lina.

__ADS_1


Ardi berusaha mengalihkan pembicaraan Lina yang terus saja menawarkan air minum untuknya, ia mencoba mendekati Dinda, menyodorkan makanan yang sudah ia bawa jauh-jauh untuk Lina.


"Ini kak Dinda, untuk Kak Dinda."


saat Ardi menyodorkan makanan itu untuk Dinda, Lina langsung merebut makanan itu dan berkata," kak Ardi. bukannya kakak Ardi khususkan makanan ini untuk Lina ya. Kenapa Kak Ardi malah kasih ke Kak Dinda."


" Lina, kamu lapar ya. Ya sudah, kamu makan saja, kakak sudah makan ini," ucap Dinda. kepada Lina.


Lina sangatlah senang, Iya langsung membuka kotak yang berisi makanan itu. rasa laparnya benar-benar tak tertahankan, membuat dirinya lupa diri.


lina langsung menghabiskan makanan yang berada di kotak itu, membuat sang kakak dan juga Ardi kaget dengan cara makan Lina. yang seakan tak makan selama 2 hari.


" Ya ampun Kak Ardi ini enak, terima kasih ya makanannya."


setelah makan Lina merasa haus, Ardi dengan Sigap langsung menyodorkan minuman kepada Lina. membuat Lina tak sadar ia langsung meminum air putih itu karena kehausan.


" gimana makanannya enak?" tanya Ardi pada Lina.


" enak sekali!" jawab Lina tersenyum senang.


Lina sempat ingat dengan air putih yang disodorkan Ardi untuk dirinya," Lina Kenapa kamu melamun?" tanya Ardi kepada Lina.


Lina sempat sadar dengan air putih yang ia minum, membuat dirinya langsung shock berat.


" bodoh kamu Lina Kenapa kamu terjebak dengan kejahilan kamu sendiri." gumam Lina pada hatinya.


tiba-tiba saja Lina merasakan sakit perut. ya terus memijat perutnya dengan kedua tangan. sa tahan dengan rasa sakit pada perutnya lina langsung berlari menuju kamar mandi.


" perutku."


Ardi yang melihat Lina berlari ke kamar mandi, membuat dirinya tertawa dalam hati. dirinya sudah tahu dari awal bagaimana kejahilan Lina, maka dari itu Ardi mulai membalikan kejahilan itu pada Lina.


yang ternyata lina langsung menanggung akibatnya..


"Lina, Lina. Ternyata kamu salah sasara," cetus Ardi pada hatinya.

__ADS_1


Dinda hanya heran dengan Lina, kenapa Lina bertingkah aneh seperti itu saat ada Ardi di rumah. Biasanya dia selalu cetus.


"Kakak Dinda, aku mah pamit pergi dulu. Ada urusan kantor mendadak," ucap Ardi berpamitan pada Dinda.


"Oh, ya sudah. Kamu hati hati ya. Terima kasih makanannya, biar kakak panggilkan dulu Lina," balas Dinda.


"Enggak usah Kakak Dinda, biar nanti saja saya main ke rumah lagi," ucap Ardi.


"Oh ya sudah. Terima kasih atas kunjungannya ya," balas Dinda.


Ardi langsung bergegas pergi dari rumah Dinda, ia menaiki mobil dengan perasaan yang begitu senang.


Tak tahan rasanya Ardi ingin sekali tertawa, beberapa kali ia menahan. dan hanya bisa tertawa dalam hati saja. saat itulah Ardi mulai meluapkan kesenangannya, di dalam mobil, tertawa terbahak-bahak mengingat Lina yang berlari ke kamar mandi.


"Lina, Lina. Gadis itu ternyata mau mengerjai ku, tapi ternyata yang terkena dirinya sendiri, Lina Kamu itu begitu lucu ya, membuat aku ingin sekali memilikimu." Ucap Ardi di dalam mobil.


Ardi dengan sifat jahilanya pula langsung mengirim pesan untuk Lina dengan emojik tertawa terbahak bahak.


Lina yang melihat pesan yang dikirimkan Ardi langsung mendengus kesal di dalam kamar mandi," Si Ardi sialan ini. Apa sih maunya."


Kesal bukan main, Lina ingin sekali meleparkan ponselnya di dalam kamar mandi, akan tetapi ia mencoba menahan, karna ponselnya hanya ada satu. Jadi dia tidak berani melemparkan ponsel itu.


"Kalau ponselku ada sepuluh. Sudah aku lempar satu, ahk sayangnya ponselku ada 1 jadi aku mikir dua kali kalau aku lempar ponsel satu satunya. Kemungkinan besar, aku tidak akan punya ponsel."


Lina hanya bisa pasrah, dengan kelakuan yang terus saja dibuat oleh Ardi. Ia menahan segala emosi yang tertera pada hatinya, walau itu sulit tapi ia berusaha menahan," tenang. Tenang. Lina, kamu harus tenang, jika kamu tak tenang. Darah kamu akan naik, dan jika naik. Di takutkan akan menimbulkan darah berlebihan yang selalu di sebut orang darah tinggi."


Tok .... tok ....


Suara ketukan pintu terdengar begitu keras, membuat Lina langsung berteriak," ya tunggu sebentar. Ini juga mau selesai."


" Lina, Kamu sedang apa sih di dalam begitu lama sekali. Kakak mau mandi Ini sudah mau sore. Kamu masih saja di dalam kamar mandi." Teriak Dinda.


Membuat Lina mengosok gosok kedua kupingnya.


"Ihkk, dasar mak lampir. Bawel." Gerutu Lina.

__ADS_1


__ADS_2