
Akhirnya Sisil bisa lari dari teriakan pelayan yang terus memanggilnya dengan sebutan Rika.
"Akhirnya aku bisa lari dari kejaran wanita itu," ucap Sisil berada di dalam mobil.
Kini Sisil menyuruh sopir taksi mengantarkannya ke sebuah tempat yang di mana ia akan bertemu dengan Pak Anton.
Sisil melihat ke sebuah tempat, di mana dirinya akan bertemu dengan Pak Anton.
"Di mana lelaki tua itu?"
@@@@
Bu Maya yang sudah lama menunggu, kini melihat Sisil keluar dari taksi. Entah ada perdebatan apa dengan sopir taksi itu, membuat Bu Maya langsung menghampiri Sisil.
"Mbak. Kapan di bayarnya, pacar Mbak kok lama sekali, saya harus cari penumpang lagi," ucap Sang supit taksi itu mengerutu kesal pada Sisil.
" Bapak sabar dulu ya, nanti juga pacar saya akan segera datang dan membayar ongkos taksi ini," balas Sisil kepada Sopir itu.
Sisil melirik ke sana kemari mencari keberadaan Pak Anton yang belum datang juga, ia mulai memanggil nomor ponsel lelaki tua itu.
"Ahk, sial sekali kenapa Pak Anton malah membelokir nomorku." Ucap Sisil.
"Jadi gimana Mbak?" tanya sang super yang terus menagih ongkos taksi yang belum dibayarkan.
" Bapak sabar dulu nanti pacar saya datang kok, jadi orang gak sabaran banget sih!" jawab Sisil cetus.
"Alasan aja, gayanya mau naik taksi nyatanya nggak punya duit," ucap sang sopir taksi sedikit meledek Sisil.
Sisil yang mendengar ucapan sang Sopir itu menggerutu," Kalau ngomong itu dijaga ya pak, nanti juga saya bayar kok ongkos taksi ini. Begitu juga repot," balas Sisil bernada sedikit meninggi.
"Ya emang kebenaranya, Kenapa saya harus menjaga omongan saya. kalau situ nggak mau dengar omongan saya cepat dong bayar," ucap sang supir.
tiba-tiba saja lembaran uang berada di hadapan sang supir, yang di mana Bu Maya langsung menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah di hadapan sang sopir taksi itu.
"Ini cukup kan, pa?" tanya sang supir.
__ADS_1
sang Sopir itu langsung mengambil uang lembaran berwarna merah dari tangan Bu Maya, ia perlahan menghitung lembaran uang itu," ini cukup untuk membayar ongkos dan juga mulut wanita sombong itu."
"Apa kamu bilang." Timpal Maya kesal.
Pak supir langsung menancapkan gas mobilnya untuk segera pergi dari hadapan Sisil.
Suara druh mobil kini semakin tak terdengar lagi, Sisil mulai berjalan pergi meninggalkan Maya.
"Tunggu."
Langkah Maya kini terhenti.
"Kenapa kamu langsung pergi begitu saja, tak ada kata maaf satu pun apa?" tanya Bu Maya menghampiri Sisil yang diam berdiri seperti patung..
" Siapa suruh anda membantu saya membayarkan ongkos sopir taksi saya, bukannya saya dari tadi tidak menyuruh anda membayar Sopir itu," ucapan Sisil membuat Bu Maya sangatlah kesal, Sisil benar-benar keras kepala.
"Waw, ucapanmu ada benarnya juga ya. padahal ngapain saya tadi bantu kamu, harusnya saya biarkan saja Supir itu marah-marah dan menuntut kamu," balas Bu Maya melipatkan kedua tangannya, ia menatap tajam ke arah Sisil yang masih berdiri tanpa melangkah maju sedikitnya.
" itu anda tahu sendiri, jadi itu semua bukan Keinginan saya, anda sendiri yang menyodorkan uang anda kepada sopir taksi itu." ucap Sisil.
" maaf semua tidak ada urusannya dengan anda, jadi sebaiknya Anda secepatnya menyingkir dari hadapan saya!" jawaban Sisil sangatlah membuat Bu Maya ingin mencekik leher gadis itu.
" Kenapa kamu berbicara seperti itu, padahal sekarang urusanmu dengan saya," ucap Bu Maya membuat Sisil menatap ke arah wanita tua itu.
" apa yang maksud anda katakan, Kenapa Anda berbicara seperti itu?" tanya Sisil kepada Bu Maya .
Bu Maya langsung tersenyum sinis, setelah mendengar pertanyaan dari mulut Sisil.
"Sisil, Sisil. Coba kamu lihat ini."
wanita tua itu langsung menunjukkan ponselnya, yang di mana sebuah pesan balasan dari Sisil.
" Jadi anda sengaja mengambil pesan dari suami Anda yang di mana suami Anda akan bertemu dengan saya," ucap Sisil yang begitu pede dengan apa yang ia lihat. Dia mengira Bu Maya cemburu akan pertemuannya dengan Anton .
" untuk apa saya mengambil pesan dari suami saya sendiri, hanya buang-buang waktu saja. Asal kamu tahu yang membalas pesanmu itu adalah saya sendiri, dan yang mengajak kamu ke sini adalah saya Sisil ," ucapan Bu Maya membuat Sisil tak yakin.
__ADS_1
" saya tahu pasti kamu berbohong, Pak Anton pasti sekarang juga akan datang menemui saya di tempat ini," balas Sisil.
Bu Maya tertawa terbahak-bahak sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan, " ya ampun, Sisil kamu bodoh juga ternyata," ucap Bu Maya.
Sisil yang mendengar wanita tua itu menyebut dirinya bodoh kini mengelak," kenapa kamu mengejekku bahwa aku bodoh."
"Ya memang kamu bodoh, itu bukan ejekan tapi kenyataan bahwa kamu ...."
Belum ucapan Bu Maya terucap semuanya, kini Sisil berteriak seraya berkata," hentikan ucapa anda Ibu Maya,"
Bu Maya hanya tersenyum kecil saat teriakan Sisil terdengar begitu keras pada kedua telinga Maya.
Sisil kini mulai memperlihatkan ponselnya di depan Maya, entah apa yang akan dia lakukan. Maya hanya diam dan melihat kelakuan Sisil.
"Aku akan membuktikan jika yang mengajakku ke sini adalah suamimu sendiri," ucap Sisil bersikuku jika yang menelepon adalah Anton.
Bu Maya mempersilahkan Sisil untuk menelepon suaminya di hadapannya saat itu juga, Iya tidak takut dengan apa yang akan dikatakan Anton pada Sisil.
" silakan saja kamu telepon suami saya, kalau memang kamu tidak percaya apa yang saya katakan," ucap Bu Maya.
Sisil mendengus kesal sembari mencari nomor ponsel Pak Anton yang akan ia telepon saat itu juga.
"Kenapa?"
Sisi lupa jika nomornya diblokir oleh Pak Anton, Iya tidak bisa menghubungi lelaki tua itu.
" pasti ini ulah anda nona, saya tahu jika anda cemburu dengan kedekatan saya dengan suami Anda sampai Anda memblokir nomor saya di HP suami Anda," ucap Sisil kepada Bu Maya.
Sisil Tetap bersiku Ku menyalahkan Bu Maya atas semua yang terjadi," Sisil jika memang saya memblokir nomor kamu dari HP suami saya, kemungkinan besar nomor kamu pasti akan di buka kembali oleh suami saya."
Bu Maya semakin dekat ke arah Sisil, diyakini membisikan suatu ucapan kepada gadis yang dulu ia percaya," kenapa kamu diam saja, benarkan apa yang saya ucapakan."
Sisil berusaha menelepon kembali Pak Anton, akan tetapi, tetap saja nomor Pak Anton tak bisa hubungi kembali.
.
__ADS_1