Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 79


__ADS_3

"Maaf bu, kartu ada tidak bisa dipakai," ucap pegawai mall itu kepada ibunda Ardi.


"Masa sih mba, coba yang ini," balas ibunda Ardi. Menyodorkan kartunya lagi kepada pegawai mall itu.


"Tetap saja tidak bisa," ucap pegawai itu. Memberikan kembali kartu atm kepada ibunda Ardi.


ibunda Ardi merasa heran dengan kartu atm-nya yang tidak bisa dipakai, padahal kartu atm-nya itu begitu banyak isinya. karena sang suami yang selalu memberikan jatah setiap bulannya untuk dipakai oleh sang istri.


namun sekarang tiba-tiba saja tidak bisa dipakai, membuat ibunda Ardi langsung menelepon sang suami.


Namun sayangnya nomor ponsel suaminya tak aktif, membuat ibunda Ardi kebingungan sendiri. Sisil mendekat kearah wanita tua itu dan bertanya?" Tante kenapa, seperti panik begitu."


ibunda Ardi langsung memberitahu atm-nya tidak bisa dipakai untuk membayar belanjaan baju Sisil dan juga bajunya sendiri. membuat Sisil merasa kesal.


"Loh, kok. Bisa begitu?" tanya Sisil.


"Entahlah, ibu juga tak tahu. Akan jadinya seperti ini!" jawab wanita tua itu.


"Jadi kita harus mengembalikan baju-baju itu ke tempat semula," ucap Sisil merasa tak ingin jika bajunya balik lagi ke tempat semula.


"Ya, bagaimana lagi. dompet kamu kan ketinggalan dan juga katu Atm ibu tidak bisa digunakan, padahal setiap bulan suami ibu selalu memberikan jatah kepada ibu dengan nominal uang 30 juta setiap bulan," balas sang tante yang seakan pasrah dengan apa yang terjadi.


Dengan terpaksa Sisi langsung mengembalikan baju yang ia bawa begitu banyak, membuat rasa malu pada wajahnya. Terukir di hadapan para pegawai di mall dan juga orang orang banyak.


Padahal Sisil begitu sangat menginginkan baju-baju mewah itu, untuk ia ssgera pakai. karena bajunya sudah mulai habis dan terlihat kumuh.


Ia tak mau jika ibunda Ardi mengetahui bahwa dirinya miskin dan tak punya apa apa..


ibunda Ardi langsung menarik tangan Sisil untuk segera pergi dari mall itu.

__ADS_1


"Ayo Sisil, kita pergi dulu dari sini." Ucap Sang ibunda Ardi.


Setelah sampai di luar mall, wanita tua itu tak tinggal diam Ia langsung menelpon suaminya ,terus menerus.


Entah kenapa nomor sang suami tiba tiba tak aktif, membuat rasa kuatir terasa pada diri sang istri.


Saat itulah wanita tua itu teringat kepada anaknya yang tak lain ialah Ardi. wanita tua itu langsung menelpon anaknya untuk membicarakan tentang kartu ATM yang biasa ia pakai jika dirinya berbelanja atau memanjakan diri pergi ke salon.


" kenapa sekarang tak bisa terpakai."


Beberapa kali wanita tua itu menelepon anaknya sendiri, Ardi tak mengangkat panggilan telepon dari ibunya sendiri. membuat amarah wanita tua itu semakin menggebu-gebu.


"Kenapa sih mereka berdua tidak mau mengangkat panggilan telepon dariku, sebenarnya mereka ini kenapa sih." Gerutu wanita tua itu, kesal terhadap anak dan juga suami yang sama sama egois, terlalu mementingkan diri mereka sendiri.


Sedangkan denga Lina, ia duduk merasakan kekecewaan karena dirinya tak jadi belanja. Tak jadi membeli baju baju mewah yang selalu dirinya inginkan dari dulu.


Dirinya seakan tak bersemangat lagi untuk mendekati ibunda Ardi.


Sedangkan wanita tua itu terus bolak-balik ke sana kemari, mencoba menghubungi Ardi yang tak mau mengangkat panggilan teleponnya.


" Anak ini kenapa sih. Kenapa dia tidak mau mengangkat panggilan telepon ibunya ini, padahal saat ini ibunya ini sangat membutuhkan uang untuk membayar belanjaan ku dan juga belanjaan Sisil." Gerutu wanita tua itu.


Wanita tua itu langsung melirik kesana kemari, Iya sempat bingung dengan keadaannya yang tak mempunyai uang sepeserpun ataupun kartu ATM yang tak bisa dipakai.


Saat melihat ke sebelah kanan, wanita tua itu kaget melihat mobil Ardi yang masih terparkir di Mall, membuat ia langsung menghampiri mobil anaknya untuk segera menanyakan tentang katu ATM yang tak bisa digunakan saat ini.


Sisil, tak tahu jika ibunda Ardi pergi begitu saja, membuat dirinya langsung bergegas pulang untuk menjual sebagaian pehiasannya ke toko perhiasan terdekat.


Setelah sampai di mobil anaknya.

__ADS_1


Ibunda Ardi langsung mengetuk pintu mobil anaknya dengan begitu keras, "Ardi Tolong buka nak."


Ardi yang mendengar suara ibunya merasa tak ingin membuka pintu mobilnya, ia ingin sekali pergi dari hadapan ibunya yang tak pernah mengerti akan perasaannya saat ini. Ardi mulai menyalakan mesin mobil.


Akan tetapi Lina malam menyuruh Ardi untuk tidak terburu buru pergi, Lina menyuruh Ardi membuka pintu mobil untuk bertemu dengan ibunya sendiri.


" Ardi, kenapa kamu diam saja, itu ibu kamu loh. kasihan dia ingin bertemu dengan kamu, siapa tahu ibu kamu itu butuh kamu sekarang juga."


Ardi tak bisa membantah perkataan Lina, saat itu juga ia langsung menuruti perkataan Lina yang di mana Lina menyuruh Ardi untuk menemui segera ibunya yang terus menggedor gedor pintu mobil.


sedangkan Lina disuruh Ardi untuk duduk di dalam mobil, tak perlu keluar dari mobil biar Ardi yang menemui wanita tua itu.


" Ibu, ada apa lagi sih? Bukannya sudah jelas tadi waktu aku bicara di dalam mall," ucap Ardi kepada sang ibunda


"Sebenarnya ibu menemui kamu, ingin menanyakan tentang kartu ATM ini, Kenapa saat ibu berbelanja tadi kartu ATM ibu semua tidak bisa dipakai, apa yang sudah kamu lakukan pada kartu ATM ibu?" pertanyaan sang Ibu membuat Ardi langsung mengusap kasar rambutnya.


" Untuk masalah kartu ATM, ibu. Ardi tak tahu apa-apa, yang jelas ibu harus tanyakan kepada ayah. karena yang mengatur keuangan itu adalah Ayah bukan Ardi!" jawab Ardi.


Sang ibunda langsung menekan anaknya saat itu juga.


" Ya sudah, sekarang kamu traktir ibu dan Sisil untuk berbelanja baju," ucap sang Ibu mengajak Ardi untuk membayar semua tagihan baju yang baru saja ia beli.


Ardi langsung menolak ajakan Ibunya dan menjawab," seharusnya yang membayar semua itu adalah ibu sendiri, Ardi tak mau membayar baju ibu dan juga wanita itu."


"Tapi Ardi, ibu malu dengan semua pegawai di mall itu. Ibu sudah berbelanja begitu banyak dan ibu belum membayar barang-barang itu," ucap sang Ibu seakan memelas kepada anaknya.


Semenjak ibunya bersama Sisil, wanita tua itu sering memohon-mohon dan juga meminta sesuatu kepada Ardi.


"Itu semua, ibu tanggung sendiri. Sekarang Ardi tak mau lagi mengurusi masalah ibu. Biar Ibu selesaikan saja sendiri."

__ADS_1


__ADS_2