
"Gimana sudah siap?" tanya suster Hasanah.
mereka kini mulai bergegas, membuat rencana yang sudah dibuat oleh Ardi.
yang di mana suster-suster itu, menjalankan tugasnya masing-masing.
Lena sudah tak sabar, dengan apa yang ia ingin lakukan kepada Haikal.
akan tetapi rencananya, kini tidak berjalan mulus seperti apa yang diinginkan. kedua suster datang dengan menggedor pintu ruangan itu. Lena kaget segera mungkin ia menutup badan Haikal dengan selimut yang tak jauh dari hadapannya.
salah satu Suster itu langsung merekam wajah Lena, memperlihatkan semua kebusukan yang tengah Lena lakukan.
" berhenti jangan Coba kalian merekam wajahku, kalau kalian berani seperti itu aku akan membuat kalian menyesal." ucap Lena berusaha menutup wajahnya agar tidak terekam oleh ponsel kedua Suster itu.
kedua Suster itu tetap saja fokus merekam kebusukan Lena. yang di mana Lena langsung menghampiri kedua Suster itu dan menampar pipi mereka.
ponsel kedua Suster itu kini tergeletak jatuh ke atas lantai. membuat Lena dengan sikap mengambil kedua ponsel sahabat-sahabatnya.
sedangkan kedua Suster itu tetap bersikap tenang," jangan macam-macam, kalian tahu jika kalian macam-macam terhadapku. ponsel kalian akan aku rusak saat ini juga."
kata-kata Lena membuat kedua Suster itu tak panik ataupun ketakutan. mereka tetap bersikap tenang. menghadapi Lena.
"Kenapa kalian tidak takut, hah."
saat itu Lena tak segan-segan menghancurkan ponsel kedua suster, dengan membanting keras ke atas lantai." kalian lihat apa yang aku lakukan ini. Apa kalian tidak menyesal?"
__ADS_1
kedua Suster itu malah tersenyum lebar, Lena merasa aneh dengan sahabat-sahabatnya yang tak takut dengan sikapnya. padahal dari dulu sahabat-sahabatnya itu paling takut dengan Lena yang ketika marah mereka selalu kabur dan menjauhi dirinya.
" Ada apa dengan mereka berdua, Kenapa mereka tak takut kepadaku," Gumam hati Lena.
" kenapa kamu diam saja Lena. Ayo Cepat hancurkan semua ponsel kami, jika itu membuat kamu puas Lena." ucap salah satu sahabat Lena perlahan mendekat ke arahnya.
Lena tak mau kalah dengan sahabat kedua sahabatnya itu, dia bergegas merogok saku celana. memperlihatkan pisau tajam ke arah mereka berdua, membuat kedua Suster itu sedikit mundur dari hadapan Lena.
Lena kini berusaha mengambil ponsel yang sudah ia hancurkan di atas lantai, membungkukkan badan.
Brug ...
tiba-tiba satu pukulan melayang pada bahu Lena, membuat Lena tersungkur jatuh dan pingsan di atas lantai.
kedua Suster itu dengan sikap membawa Lena. menyeretnya dan juga mengikat tangan, badan Lena. agar dia tidak kabur dan membuat ulah di rumah sakit itu.
salah satu suster sudah merekam kelakuan Lena, sedangkan ponsel kedua suster yang mengancam Lena dengan merekam video. itulah hanya taktik mereka, bawa sebenarnya ponsel itu tidak bisa merekam video, karena ponsel itu hanyalah ponsel mainan yang sama persis dengan ponsel asli.
mereka semua merasa senang dengan rencana yang begitu berjalan mulus, membuat rasa lega pada hati mereka. kini sebagian suster mulai menangani Haikal membuat Haikal sadarkan diri.
hingga beberapa menit kemudian, Haikal terbangun dari ranjang tempat tidur rumah sakit, yang memegang kepalanya yang benar-benar terasa sakit. melihat ke sekeliling dan bertanya pada suster yang tak jauh dari hadapannya," di mana aku saat ini?"
salah satu suster yang menangani Haikal, kini menjawab pertanyaan Haikal," anda sedang di ruangan perawatan. karena kondisi anda yang buruk, dengan terpaksa Kami membawa anda ke ruangan gawat darurat."
Haikal tak mempedulikan perkataan Suster itu, yakini mulai turun dari ranjang tempat tidur untuk segera menemui sang istri, hatinya benar-benar tak karuan karena ia tak sadarkan diri, Karena rasa sakit yang ia rasakan pada kepalanya yang secara tiba-tiba datang begitu saja.
__ADS_1
"Anda mau ke mana, pak?" pertanyaan sang suster membuat Haikal hanya terdiam, Iya tak mau jika Suster itu melarang dirinya untuk bertemu dengan sang istri yang telah kritis.
suster itu merasa aneh dengan Haikal, yang tak menjawab perkataannya. diyakini berusaha bertanya kembali," bapak baik-baik saja kan, Jika Bapak Butuh sesuatu saya akan mengambilkan Apa yang Bapak mau."
perkataan Suster itu membuat Haikal menatap ke arah wajahnya, yang merasa aneh dengan suster yang biasanya melarangnya kini malah baik dan bertanya apa yang ia inginkan.
Haikal menelan ludah dan menjawab perkataan sang suster," Sebenarnya saya ingin bertemu istri saya yang tengah kritis, akan tetapi tubuh saya begitu lemas. Bolehkah saya meminta bantuan suster untuk mengantarkan saya ke ruangan istri saya saat ini juga."
ucapan Haikal membuat sang suster mengerti, dengan sikap Suster itu mengambilkan kursi roda untuk diduduki Haikal." ini kursi roda untuk bapak duduki, saya akan mendorong kursi roda ini dan mengantarkan bapak ke ruangan istri bapak saat ini juga."
betapa senangnya Haikal mendengar perkataan sang suster yang begitu baik kepada dirinya, tidak seperti suster yang telah menolongnya meminjamkan HP kepada dirinya. Suster itu begitu agresif terhadap Haikal, hingga melarang Haikal untuk bertemu dengan sang istri yang tengah kritis sendirian di ruangan.
" suster bener ingin mengantarkan saya ke ruangan istri saya saat ini juga?" tanya Haikal yang masih ragu dengan perkataan sang suster yang mau mengantarkannya ke ruangan sang istri.
Suster itu tentulah tersenyum lebar, menjawab semua perkataan Haikal, Seraya menganggukkan kepala," silakan Bapak duduk di kursi roda ini, sekarang juga saya akan antarkan bapak ke ruangan istri bapak."
Haikal saat itu juga langsung duduk di kursi roda, sang suster dengan sigap mendorong kursi roda itu mengantarkan Haikal ke ruangan sang istri.
" kalau saya boleh tahu, ruangan istri bapak di sebelah mana ya, nama ruangannya apa?" tanya sang suster yang tengah mendorong kursi roda Haikal.
Haikal langsung mengatakan ruangan di mana Dinda tengah dirawat. sampai di mana saat Haikal dan sang Suster itu menuju ruangan Dinda, mereka kini berpapasan dengan Ardi yang seakan panik mencari seseorang di rumah sakit.
Haikal yang menyadari semua itu langsung berteriak memanggil Ardi sahabatnya yang tengah kebingungan." Ardi."
teriakan Haikal membuat Ardi langsung menatap ke arahnya, Ardi sangatlah senang melihat Haikal sudah ditemukan oleh suster-suster itu. tak payag Ardi menyuruh suster-suster itu menyusun rencana yang sudah ia buat agar bisa menyelamatkan Haikal dan juga membuat Lena kapok, dari apa yang sudah ia lakukan terhadap pasien-pasien di rumah sakit itu.
__ADS_1
"Haikal, kamu ternyata ada di sini?" tanya Ardi. Berlari menghampiri Haikal.