
"Sebentar saja."
"Ya sudah."
Haikal mulai berjalan pergi, menuju ke rumah saudaranya yang tak jauh dari rumah sang bibi, dengan langkah terburu buru. Pada akhirnya Haikal sampai di rumah tua saudaranya.
"Asslamualikum, Nining, Bi Acem."
Ceklek. Kereet ....
Suara pintu kayu kini terbuka, di mana Nining keponakan Haikal muncul.
"Loh, Aa ti iraha kadie. Te beja beja tianggalna bade kadie teh? lamun terang kadiemah kuNining di sadiekeun nasi liwet jeung bakakak!"
(Loh, Kakak dari kapan datang ke sini. Enggak bilang bilang dari awal kalau mau datang ke sini? Kalau tahu begitu Nining bikinin nasi liwet sama Ayam panggang.)
"Tekedah repot repot gelis, sawios!"
(Enggak usah repot repot cantik, enggak papa.)
"Aa teh bade kak Bibi jeung amang. Araya te?"
(Kakak mau ke tante dan om, Ada enggak?"
"Oh, bibi jeung amang, araya. Kin urang sauran."
(Oh Tante dan Om, ada. Biar saya panggilakan)
Haikal kini menunggu kedatangan Om dan tantenya, ia ingin menanyakan Bi Lasmi yang tak lain adik dari almarhum ibu ada di mana?
@@@@@
Sedangkan Lina yang di tinggal pergi oleh Haikal, hanya mengusap pelan pundaknya. Merasa ada sesuatu yang mengawasi dari dekat.
"Kok jadi merinding begini, ya."
Humbusan angin begitu terasa menusuk pada kulit Lina, membuat rasa takut semakin terasa. Gadis berambut pendek itu hanya bisa menahan rasa takutnya dengan selalu berpikir positif.
Sstttt .....
tiba-tiba terdengar suara yang begitu aneh pada kedua telinga Lina, membuat Lina terus mengusap kedua pundaknya dengan tangan.
"Apaan coba tadi?"
Melirik ke sana ke mari, yang Lina lihat hanya ada sawah dan kebun, ia tak mengerti bagaimana bisa orang orang di desa betah tinggal dengan pemandangan menyeramkan tengah malah seperti yang saat ini ia rasakan.
Suara burung hantu terdengar menyeramkan, membuat Lina melihat ke arah pohon besar. Di mana kedua mata burung itu begitu bercahaya menyilaukan.
"Buset tuh burung seram amat ya."
Lina berusaha bersikap tenang, walau sebenarnya hatinya begitu ketakutan, jantung yang begitu berdetak tak seperti biasanya. Membuat ia berusaha membayangkan hal hal yang indah bersama Haikal saat menuju perjalanan ke desa.
Brug ....
Lina dikagetkan dengan suatu barang yang terjatuh, membuat ia merasa semakin ketakutan.
" Kenapa Haikal begitu lama?"
__ADS_1
Brug ....
"Suara apa sih?"
Lina yang di buat kesal oleh suara barang terjatuh, dengan beraninya mendekat mencari suara sumber suara yang membuat dirinya penasaran.
Dengan perlahan Lina berjalan, merasaka rasa sakit pada kakinya, ia mendekat ke arah rerumputan hijau, hingga di mana.
Ahkkk .....
Lina berlari tergopoh gopoh, tubuhnya bergetar ketakutan.
Haikal yang tengah mengobrol dengan sang paman tentulah kaget dengan kedatangan Lina.
"Haikal, Haikal."
"Lina, kamu kenapa?" Tanya Haikal, melihat Lina begitu panik ketakutan.
Lina menunjuk nunjuk ke arah sesuatu yang tak jelas dari rerumputan hijau, "Coba kamu jelaskan ada apa?"
"Ada pi-nguin."
"Hah apa?"
"Piingui, eh salah. Picak!"
"Lina kamu tenang dulu, coba kamu atur nafas kamu secara perlahan, lalu keluarkan?"
Lina mengangguk dan menuruti apa perkataan Haikal.
"Tarik nafas, lalu keluarkan."
Lina menganggukan kepala bahwa ia lebih tenang dari sebelumnya. Jantung yang berdetak lebih cepat sebelumnya kini terkontol kembali.
Haikal menatap Lina dari ujung kaki hingga ujung kepala," kenapa?"
Tanya Lina dengan tatapan tak biasa, gadis itu mengerutkan dahinya.
"Kamu bisa jalan dan lari, terus tadi."
Gadis berambut pendek dengan bola mata berwana coklat itu kaget, ia tersenyum kecil dan berpura pura menjatuhkan diri Ke atas tanah.
"Aduh, kakiku sakit," teriak Lina. Membuat sang paman memarahi Haikal seketika.
"Maneh teh kumaha, si neng keur kanyerian sukuna malah di antepkeun," ucap sang paman dengan ciri khas bahasa sundanya yang terbilang kasar.
(Kamu ini gimana, Dia lagi keseakitan kakinya, malah di biarin.)
Haikal mengaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal, ia kesal dengan tingkah Lina. Membuat sang paman memarahinya.
"Sok atuh bantu berdiri, jang. Lain di tempokeun wae."
(Ayo bantu berdiri, Kak. Bukan malah di lihatin saja.)
Dengan nafas gusar, saat itulah Haikal mulai membantu Lina berdiri, akan tetapi kata kata gadis bebola mata kecoklatan meringis kesakitan," Aw sakit."
"Lalauanan atuh, Haikal."
__ADS_1
(Pelan pelan aduh, Haikal)
"Iya, mang. Ini Haikal juga pelan pelan bantunya juga, cuman ini gadis kecentilan aja."
Deg ....
Ucapan Haikal di depan sang paman membuat Lina malu, kedua pipi gadis bermambut pendek kini menampilkan kedua pipi merahnya.
Haikal yang sudah kesal dengan adegan pura pura Lina, membuat ia berbisik," bisa tidak jangan berbuat hal konyo seperti ini."
Lina bukan malah menyadari kekesalan Haikal, yang begitu kesal, ia malah tersenyum senang, seakan sebuah keajaiban untuk dirinya.
"Biaran, suka suka aku lah kak. Aku kan cinta sama kakak."
"Hentikan omong kosongmu itu Lina, besok aku akan mengantarkanmu ke kota kembali."
Ucapan Lina, sudah membuat Haikal kesal. Sampai saat itulah Haikal langsung melepaskan Lina dari tanganya.
Hingga wanita itu terjatuh kembali pada tanah kering.
"Ahk sakit."
Teriak Lina mengusap punggungnya yang serasa akan retak.
Sang Bibi yang memang mempunyai logat sunda dan indonesia bisa membuat ia menyeimbangi kata katanya.
"Aduh, Haikal. Hati hati atuh, kasian eta Si neng gelis."
"Ya bi, Haikal enggak sengaja, habisnya berat."
Lina mengerutu kesal, rasanya ia ingin memukul mulut Haikal yang berucap kebohongan pada sang bibi.
"Ya sudah sok atuh bopong lagi si enengnya."
"Iya bi."
Haikal mulai membopong kembali Lina, untuk masuk ke dalam rumah sang Bibi, ia kini membaringkan Lina agar beristirahat di kasur sederhana yang terbuat dari kayu.
terlihat wajah tak senang Haikal perlihatkan pada Lina, sedangkan Lina hanya tersenyum dan senang.
Nining keponakan Haikal kini membawa segelas air putih untuk diberikan kepada Lina.
"Ini sok atuh di minum dulu," ucap Nining berusaha berucap dengan kata yang mampun di pahami Lina.
Lina menganggukkan kepala mengucapkan terima kasih kepada keponakan Haikal, yang sudah baik mengantarkan minuman untuk dirinya.
rasa haus yang tak tertahankan dari tenggorokan Lina, membuat gadis itu kini meraih gelas dan meminum air itu hingga habis.
"Eleh, si teteh kehausan," ucap Nining.
Lina hanya bisa menampilkan senyuman kecilnya pada Nining, ia tak mengerti bahasa yang di ucapkan keluarga Haikal.
Haikal mulai berjalan pergi meninggalkan Lina bersama Nining, Lina yang menyadari kepergian Haikal kini mulai memanggilnya.
"Haikal."
panggilan itu tentulah membuat Haikal semakin marah, di depan keluarga Haikal dengan beraninya Lina menyebut namanya.
__ADS_1
"Haikal."
Semua orang menatap ke arah Lina yang memanggil Haikal.