
"Jangan bahas lagi Lina, sekarang kita bahas tentang kehidupan kita kedepannya, dan bayi dalam kandungan Kamu." Ucap Haikal.
Dinda tersenyum setelah mendengar ucapan Haikal seperti itu," Ya."
malam sudah semakin larut, mereka memutuskan untuk cepat tidur. sedangkan dengan Lina yang masih berada di dalam kamar. ya menutup tubuhnya dengan selimut, menahan rasa lapar pada perutnya. yang semakin tak tertahankan.
"Perutku, apa mereka sudah tertidur ya." Gumam hati Lina.
Lina mulai melihat jam di dinding, yang di mana jarum jam sudah menunjukkan pukul jam 12 malam.
Badan Lina terasa lemas, karena dari pagi dia belum makan apa-apa. dia mulai menyingkirkan selimut dari tubuhnya. bergegas untuk berjalan ke dapur mencari makanan.
"Aduh perutku lapar sekali." perlahan Lina berjalan ke arah dapur, Hening semua tampak sepi.
"Sepertinya mereka sudah tertidur pulas." Gumam hati Lina.
Dengan tergesa-gesa Lina langsung masuk ke dalam dapur, melihat ke meja makan apakah masih ada masakan yang tersisa.
betapa senangnya Lina pada saat itu, melihat masakan yang masih tersisa. apalagi masakan itu adalah makanan kesukaannya.
"Mm, sepertinya enak sekali."
Lina mulai duduk pada kursi, mencolek nasi beserta lauk pauknya. dia begitu lahap menikmati masakan yang dimasak oleh kakaknya.
Dinda yang tengah tertidur pulas, tiba-tiba saja terbangun. mendengar suara piring di dapur.
Dinda terbangun dan Melihat jam di dinding. ternyata sudah pukul jam 12 malam.
"Kok, berisik ada apa ya."
Dinda mulai merasa takut, dia takut jika ada orang yang masuk ke dalam rumah. dengan terpaksa Dinda langsung membangunkan suaminya yang tengah tertidur lelap di sampingnya.
"Mas, bagun. Mas."
Haikal terlihat begitu sangat kelelahan, kedua matanya seakan enggan untuk terbuka.
"Mas, bangun."
"Ada apa Dinda malam malam begini."
bukannya terbangun, Haikal malah menarik selimut dan menutupi ke tubuhnya.
"Yeh, malah tidur lagi."
Dengan terpaksa Dinda berjalan perlahan, menuju dapur. Yang terdengar begitu rame. Karna suara piring yang seakan di mainkan.
"Siapa ya, malam malam begini."
Saat menyalahkan lampu. Dengan memegang sapu, saat itu juga Dinda memukul mukul orang yang tengah duduk di kursi meja makan.
__ADS_1
"Pencuri .... pencuri."
Bruggg ....
Dinda beberapa kali memukul orang yang tengah duduk di kursi, membuat orang itu terjatuh dengan kursi.
Dinda tak segan-segan memukul lagi orang itu.
"Kakak, hentinkan." Teriak orang itu.
membuat Dinda langsung membuka kedua matanya, betapa kagetnya Dinda melihat orang yang ternyata berada di dapur adalah adiknya sendiri.
"Lina, ternyata kamu."
Lina berusaha berdiri dari, dengan memegang kursi. Badannya terasa begitu sakit karena pukulan yang bertubi-tubi dilayangkan oleh Dinda.
"Ya ampun, Lina ayo biar kakak bantu." Ucap Dinda.
dirinya mengira bahwa orang yang berada di dapur adalah pencuri, tapi ternyata orang itu adalah Adiknya sendiri. yang tengah melahap masakan Dinda.
"Kenapa kamu makan sambil lampu di matikan?" tanya Dinda.
Lina merasa sangat kesal pada kakaknya sendiri, " harusnya kakak itu lihat lihat dulu. Sebelum memukul."
"Ya Maaf, kakak kan syok dan takut."
"Hah, menganggu saja."
"Lina ini, makanan kamu belum kamu makan semuanya." Teriak Dinda.
Lina terus berjalan, pergi meninggalkan Dinda. Seraya mengerutu kesal," aku mau tidur. Sudah enggak nafsu."
@@@@@
Lina berjalan dengan memegangi, punggung ya yang terasa sakit dan ngilu.
"Ah, pinggangku."
Lina berusaha duduk di atas kasur, merasakan rasa perih pada punggung dan juga pinggangnya.
"Ahk, sakit sekali. Sial sekali nasibku malam ini. Lagi makan enak malah di gebukin sama si Dinda sialan itu." Gerutu Lina.
Sebenarnya Lina ingin sekali meneruskan makananya yang masih tersisa. Karna perutnya masih merasa lapar. Tapi apa daya, karna kakaknya yang tiba tiba muncul membuat selera makannya hilang begitu saja.
Lina berusaha untuk tidur, merebahkan tubuhnya. Walau punggungnya terasa sangat linu, ia berusaha untuk terlelap tidur.
"Aku harus cepat tidur, biar punggungku tak terasa sakit lagi."
Dengan perlahan Lina kini berhasil, merebahkan tubuhnya. Ia berusaha menutup kedua matanya.
__ADS_1
Dan.
Tok .... tok ....
Suara ketukan pintu mengangetkannya, membuat ia langsung berdiri. Dan lupa jika badannya sangatlah terasa sakit.
"Ahk. Siapa yang mengetuk pintu malam malam begini."
"Lina, De. Kamu baik baik saja kan?" tanya Dinda di balik pintu.
"Hah, ternyata si Dinda, mau apa lagi sih dia datang ke kamarku. sudah cukup dia memukul tubuhku hingga terasa sangat sakit." Gerutu kesal Lina.
Dinda terus mengetuk, merasakan kuatir pada keadaan Lina. Dirinya sangat merasa bersalah, karena tak sengaja memukul punggung Lina terus-menerus.
"Lina buka de. Punggungnya biar kakak obatinnya." Teriak Dinda.
Lina berusaha berdiri berjalan ke arah pintu kamarnya, mulai membuka pintu kamarnya. melihat sang kakak tengah membawa obat untuk mengobati punggung dan juga pinggangnya.
"Mau apa kakak datang ke sini. Sudah cukup, kakak menyakiti punggungku," keluh Lina. Kesal dengan kakaknya sendiri.
" Kakak minta maaf, aku tidak bermaksud memukul kamu dengan sengaja. Tak kira kamu itu orang jahat masuk ke dalam rumah. makanya itu kakak langsung memukul kamu," ucap Dinda. Menjelaskan semuanya.
"Ahk, sudahlah aku tidak mau mendengar penjelasan Kakak lagi, Kakak sengaja kan menyakitiku." pekik Lina pada sang kakak.
"Lina, dengarkan dulu kakak," balas Dinda.
" sudah cukup Kak, Sudah Cukup aku mendengar omong kosong kakak. Sudahlah Kakak mengaku saja kakak ingin menyakitiku kan untuk balas dendam karena aku menginginkan suami kakak," hardik Lina.
" Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu Lina, bagaimanapun kamu sejahat apapun itu kamu, Kakak tetap menyayangimu sebagai adik-kakak sendiri," ucap Dinda.
"Menyayangi sebagai seorang adik, omong kosong." Bentak Lina. Menutup pintu kamarnya dengan begitu keras.
Membuat Dinda kaget.
"Dinda, kenapa kamu malah menutup pintu kamar kamu. Kakak belum selesai bicara," ucap Dinda.
"Sudahlah kak, aku malas mendengar penjelasan kakak sebaiknya kakak pergi dari pintu kamarku," balas Lina berteriak.
Dinda langsung menaruh kotak obat untuk Lina di depan pintu kamarnya," Kakak taruh obat penghilang nyeri untukmu ya."
"Terserah kakak saja. Sebaiknya kakak cepat pergi dari pintu kamarku, kalau tidak aku akan membuat kakak menyesal," ancam Lina.
"Baik kakak akan pergi, semoga sembuh Lina." ucap Dinda pergi dari pintu kamar adiknya.
Lina tak tahan dengan rasa sakit yang terasa pada punggungnya, ia langsung membuka pintu kamarnya dan mengambil obat pemberian dari sang kakak.
Dinda masih mengintip di balik tembok, ia melihat Lina mengambil obat yang ia bawa.
"Hah, Akhirnya Lina mengambil obat yang aku berikan untuknya." Ucap Dinda. Yang masih mengintip di balik tembok.
__ADS_1