
Sisil pulang dengan rasa kecewa dalam hatinya, dirinya terpaksa pulang meninggalkan ibunda Ardi tanpa memberitahu wanita tua itu.
"Malas sekali jika harus bersama wanita tua kere itu, lebih baik aku pergi," gerutu Sisil berjalan untuk segera pulang ke rumah.
Tiba tiba saja, langkah Sisil terhenti, gadis itu menabrak seseorang yang memakai jas hitam seperti orang kantoran. Membuat Sisil menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Hai, Sisil."
Sapaan yang tak asing, kini kembali terdengar oleh telinga Sisil, membuat dirinya langsung menatap ke pada lelaki tua itu.
"Pak."
Sisil langsung menundukkan pandangan, berpura pura malu berhadapan dengan ayah handa Ardi. " Kenapa kamu setiap bertemu dengan saya selalu menundukkan pandangan?" bisik lelaki tua itu, begitu dekat dengan telinga Sisil.
"Apa kabar, pak. Saya tak menyangka bisa bertemu dengan bapak di sini," ucap Sisil berlaga sopan.
Lelaki tua itu malah mentertawakan kesopanan Sisil, membuat tangannya langsung meraih dagu Sisil dan berucap," sudahlah jangan berpura pura sok baik dan sopan. Aku sudah tahu sifat asli kamu."
Sisil tetap saja berusaha menyembunyikan sifat aslinya, agar lelaki tua itu tidak selalu mengganggunya.
"Apa maksud bapak ya, saya tidak mengerti."
"Sudahlah Sisil, aku sudah tahu wanita tipe macam kamu, sekarang pasti kamu ingin berbelanja baju mewahkan?" tanya lelaki tua itu. Membuat Sisil menelan ludah berusaha tak terpancing.
"Ayolah Sisil, jika kamu mau. Sekarang juga aku bisa menelaktir kamu, apa pun yang kamu inginkan," ucap ayah Ardi kepada Sisil.
Sisil sangatlah tergiur dengan ucapan yang terlontar dari mulut ayah Ardi, ia tertarik dan ingin langsung berkata ya. Tapi dirinya juga tak mau jika harus kehilangan untuk menjadi istri Ardi. Lelaki yang akan mewarisi semua aset ayahnya yang begitu banyak.
"Maaf pak, saya tidak seperti apa yang anda bayangkan. Saya mau pergi dulu," ucap Sisil. Melangkah melewati lelaki tua yang menjadi ayah Ardi.
Lelaki tua itu langsung menahan tangan kanan Sisil dan berkata," apa kamu yakin menolak semua yang aku katakan.
"Ayolah."
"Maaf pak, aku tidak bisa."
Lelaki tua itu hanya bisa berkata dengan nada lembut," ya sudah kalau kamu memang tak mau. Aku tak bisa memaksa, karna jika aku memaksa kamu. Aku takut kamu malah terluka."
Bayangan lelaki tua itu pergi, membuat rasa penyesalan pada hati Sisil.
__ADS_1
"Kalau saja aku lebih mengenal bapanya lebih dulu, mungkin sekarang aku tidak akan seperti orang miskin sekarang." Gumam hati Sisil.
Sisil yang melipatkan kedua tangannya, menatap ke arah lelaki tua itu yang sudah berjalan jauh.
@@@@@
sedangkan ibunda Ardi, terus saja menarik tangan anaknya untuk menemui Sisil.
" Sebenarnya kita ini mau ke mana sih, bu?" tanya Ardi menggerutu kesal kepada ibunya sendiri.
"Kamu ikut dulu ibu, nanti kita masuk ke dalam mall!" jawab sang ibu kepada anaknya.
Sebenarnya ada rasa malu pada hati Ardi, saat ibunya sendiri menarik paksa Ardi untuk mengikuti langkah kakinya.
"Ahk, ibu bikin malu aku saja." Gerutu hati Ardi.
Sesaat wanita tua itu kaget dengan Sisil yang tak ada di tempat biasa, saat menunggu dirinya pergi.
"Ke mana Sisi?" tanya wanita tua itu pada hatinya.
"Ibu ini kenapa bawa aku ke tempat sepi ini, bukanya kita mau masuk ke dalam mall!" jawab Ardi.
wanita tua itu dengan Sigap menghampiri Sisil memegang bahu gadis itu, Sisil kaget ia langsung membalikkan badannya ke arah ibunda Ardi.
"Tante?"
"Sisil, kamu kenapa pergi. Ibu mau ajak kamu lagi ke mall. Karna sekarang ibu bisa membayar baju yang kamu beli dan juga baju ibu!"
mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Ibunda Ardi, Sisil merasa senang, untung saja dia tidak pergi jauh, jika ternyata wanita tua itu akan membelikan baju untuknya.
"Ayo, sebelum Ardi pergi," ucap Ibunda Ardi.
"Ya sudah ayo, bu," balas Sisil.
Wanita tua itu langsung menarik tangan Sisil hingga berhadapan dengan Ardi.
"Pantas saja ibu pergi, ternyata ibu cari wanita matre ini," ucap Ardi pada ibunya sendiri.
Sebenarnya Sisil tak menerima dengan ucapan dan hinaan yang terus terlontar dari mulut Ardi. Ia harus menerima walau hatinya benar benar terasa sakit.
__ADS_1
"Kalau saja aku tak membutuhkan harta dan kekayanya untuk menjamin hidupku, aku tak sudi bersama dengan lelaki sombong seperti Ardi."
"Ya sudah, ayo kita masuk ke mall," ucap Ardi pada ibunya.
Sang ibu tersenyum senang, wanita tua itu mengajak Sisil untuk masuk lagi ke dalam mall. Walau sebenarnya hati Sisil sudah enggan. Karna ia sudah merasa kenyang akan hinaan yang terus terlontar dari mulut Ardi.
"Mba, ini anak saya. Saya mau membeli baju yang saya ambil tadi," ucap ibunda Ardi.
Pelayan itu langsung menjawab," baik saya akan siapkan baju yang tadi ibu ambil."
" Totalnya 1 juta 500 ribu," ucap pelayan mall itu.
"kok, dikit banget. Yang gadis bersamaku bajunya enggak ke hitung," balas ibunda Ardi.
Ardi nampak cuek, ia hanya membayar baju ibunya saja.
Sedangkan sang ibu langsung menarik tangan anaknya dan berkata," kamu ini bagaimana, masa baju ibu saja. Sisil juga kamu bayarin donk dia kan calon ...."
Belum perkataan sang ibu terlontar semuanya, Ardi langsung berucap dengan nada tak peduli," bodo amet bu. Biarkan saja dia bayar sendiri toh dia juga orang kaya."
Deg ....
Sisil seakan tak tahan dengan sikap Ardi dan berkata," bilang aja enggak bisa bayarin. Karna duitnya kurang."
Ardi hanya tersenyum kecil dan membalas ucapan Sisil," wkwk. Duit kurang, emang masalah sama lu apa. Dari pada lu matre."
Deg ....
Semua orang yang berada di sana menatap Sisil, membuat kedua pipi Sisil memerah.
"Sial, si Ardi ini benar benar keterlaluan, membuat darahku naik seketika." gerutu Sisil.
setelah beres membayar semua tagihan baju yang dibeli oleh ibunya sendiri, saat itu juga Ardi langsung menarik tangan ibunya untuk segera pulang bersamanya.
membuat sang Ibu langsung menghempaskan tangan anaknya dan berkata," ibu belum mau pulang, ibu ada urusan dengan Sisil. Oh ya cepat kamu bayar baju Sisil semuanya."
wanita tua itu terus meminta kepada Ardi untuk membayarkan semua tagihan baju Sisil, hanya saja Ardi begitu cuek dia tak memperdulikan perkataan ibunya.
kedua tangannya langsung merogok saku celana, Ardi membalikan badan berusaha untuk pergi dari hadapan ibunya dan juga Sisil.
__ADS_1
"Ardi kamu mau ke mana?" Teriak sang ibu.