Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 83


__ADS_3

"Tia." Teriak Ibunda Ardi.


Ardi langsung menahan tangan ibunya sendiri yang akan mengejar wanita penjual gorengan itu.


"Tia, kamu mau ke mana? Lepaskan ibu Ardi, ibu ingin mengejar sahabat ibu." Ucap Sang ibu kepada anaknya. Kedua mata wanita itu mengalir.


"Sudah Bu, cukup, jangan kejar lagi wanita itu. belum tentu wanita itu sahabat ibu, bisa saja wanita itu Sama persis dengan almarhum sahabat ibu." ucap Ardi mencoba menenangkan sang ibu. Berharap sang ibu tak


sang Ibu menangis terisak-isak, seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat. dirinya begitu yakin bahwa wanita penjual gorengan itu adalah sahabatnya


tapi Ardi wanita penjual gorengan itu begitu jelas wajahnya begitu sama dengan sahabat ibu yang tak lain ialah ibunda Sisil balasan Ibu seakan yakin dari hatinya


tapi Bu Sisil bukannya pernah bilang bahwa ibunya itu sudah meninggal, dan mana mungkin Ibu Sisil itu bisa bangkit lagi dari kematiannya. ucap Ardi yang terus menyadarkan ibunya


Ardi tahu bahwa ibunya tidak bisa melupakan sahabatnya yang sudah membantu dirinya, sehingga ia melihat wajah sahabatnya yang begitu persis dengan wanita penjual gorengan itu. seakan tak percaya bahwa penjual gorengan itu bukan sahabatnya.


tapi bisa saja kan Sisil berbohong bahwa Ibunya sudah meninggal, Kamu lihat sendiri wanita penjual gorengan itu wanita yang kumuh bisa saja Sisil malu akan mengakui ibunya sendiri. ucap sang ibu.


mana mungkin ada seorang anak yang tidak mengakui ibunya, sejahat jahat pun Anak itu tidak ada anak yang tidak bisa mengakui ibunya sendiri. kalaupun ada dia tidak tahu berterima kasih bahwa dirinya bisa hidup Karena kedua orang tuanya." balas Ardi.


Ardi langsung merangkul bahu ibunya, membawa sang ibu masuk ke dalam mobil.


Baru saja Ardi mau membawa ibunya untuk masuk ke dalam mobil, Lina langsung menyusul dan membantu Ardi.


Lina membukakan pintu mobil, saat itulah Ardi mendudukkan ibunya di kursi mobil.


"Ibu tenang ya, kita pulang sekarang."


Ibunda Ardi masih memikirkan wajah wanita penjual gorengan itu.


"Tia, apakah kamu masih hidup." Gumam hati Ibunda Ardi.


Ardi melihat dari kaca mobil yang di mana sang ibu tengah melamun.

__ADS_1


"Bu, sudahlah jangan memikirkan ibu penjual gorengan itu. Nanti ibu sakit," ucap Ardi yang begitu perhatian kepada ibunya sendiri.


Sang ibu langsung mengusap pelan air matanya yang sudah jatuh pada kedua pipinya.


"Ya, Ardi. Tapi ...."


Belum perkataan sang ibunda terlantar semuanya, Ardi langsung menasehati ibunya kembali." Sudahlah bu, dengar apa kataku. Dia bukan sahabat ibu, melainkan orang yang sama dengan wajah sahabat ibu. Oke."


Sang ibu hanya bisa menuruti apa perkataan anaknya, dia tak bisa melawan, karna pikirannya seakan kacau.


Saat itulah Ardi mulai mengantarkan sang ibu pulang.


Setelah sampai di rumah, Ardi melihat sang ayah tengah mengobrol begitu mesra di dalam telepon. Membuat ia mendelik dan tak menyapa ayahnya sendiri.


"Kalian baru pulang?" tanya sang ayah kepada istri dan juga anaknya.


Ardi tak menjawab perktaan ayahnya, dia membawa ibunya untuk segera beristirahat, sedangkan Lina hanya menunggu di luar rumah.


Saat itulah sang ayah keluar rumah, sampai di mana ia terkejut. Melihat gadis berpakaian sederhana tengah duduk di kursi depan rumah. Membuat lelaki tua itu menyapa sang gadis.


"Kamu, siapa. Ya?" tanya Ayah Ardi. Membuat Lina berdiri dan menyapa lelaki tua itu.


"Om. Kenalkan saya Lina, teman Ardi!" jawab Lina seakan belum siap mengatakan bahwa dirinya adalah calon istri dari Ardi.


"Oh." balas lelaki tua itu pergi dari hadapan Lina.


Lina sedikit bingung dengan keluarga Ardi yang ia lihat, keluarga Ardi itu tidah romantis dan terlihat seperti orang lain yang tak memperdulikan rasa kasih sayang sebuah keluarga besar.


@@@@@@


Namun di sisi lain, Ibu Tia menangis terisak isak, dirinya berhenti di sebuah ruko yang sudah tutup. Kini ia duduk dengan menahan rasa lelah dan sedikit kecewa karna sudah membuat sahabatnya menangis.


"Aku tak menyangka jika aku akan bertemu dengan sahabatku di masa kecil dulu."

__ADS_1


Ita mengusap pelan air mata yang keluar dari kedua matanya, melupakan teriak dan juga sapaan dari sahabatnya di masa dulu. Dirinya tak mau jika sahabtnya itu melihat keadaannya yang begitu menghuatirkan, tidak sekaya dulu. Ia malu jika berhadapan dan saling menyapa dalam keadaan menjadi wanita penjual gorengan.


Saat itulah wanita itu pulang dengan berjalan kaki, hatinya masih merasakan rasa sakit karna berpura pura menjadi orang lain.


" Maafkan aku sahabatku, aku malu jika harus bertemu denganmu dalam ke adaan kumuh seperti ini. Apalagi kita tak se level."


Ita sampai di depan rumah, ia kaget saat melihat anaknya pulang dengan membawa barang barang belanjaan, membuat dirinya bertanya pada sang anak." dari mana kamu bisa membeli semua barang-barang mewah ini, Sisil?"


pertanyaan sang ibu, tak di jawab oleh Sisil. Gadis itu malah masuk ke dalam rumah, mengabaikan pertanyaan ibunya sendiri.


"Sisil, ibu tanya sama kamu. Kenapa kamu tak menjawab," hardik sang ibu.


Sisil terus berjalan menuju kamarnya, membuat sang ibu kesal dan menarik tangan sang anak." Ibu tanya itu kamu jawab. Kenapa kamu malah langsung pergi begitu saja, kamu itu tidak tuli Sisil."


Sisil langsung menghempaskan tangan sang ibu, membalikkan wajahnya kearah sang ibu dan membalas," itu bukan urusan ibu, mau aku punya barang mewah, mau Aku belanja dengan uang siapa pun . Itu semua bukan urusan ibu. Jadi sekarang ibu pergi dan urusi gorengan gorengan ibu itu yang nggak tahu pendapatannya seberapa."


Plakk ....


Satu tampar di layangkan oleh sang ibu untuk anaknya yang sudah berani membantah.


"Jaga ucapanmu, ibu menjadi tukang gorengan karna ibu berusaha mencari uang halal," pekik sang ibu.


"Alah, uang halal uang halal. Jangan sok alim lah bu," balas Sisil.


"Ibu bukan sok alim, ibu ingin hidup kita itu berkah," ucap sang ibu.


"Berkah, berkah. Apaan, mending ibu cari duit kaya bapak tuh yang korupsi dan bisa membuat kita kaya raya, bukan malah menjadi tukang gorengan," hardik Sisil.


"Jaga ucapanmu Sisil, seharusnya ...."


Belum perkataan sang Ibu terlontar semuanya, pada saat itulah Sisil langsung menutup pintu kamarnya dengan begitu keras. Iya tak mau lagi mendengar nasehat dari sang ibu yang selalu menasehatinya dengan sok alim.


"Sisil." Teriak sang ibu.

__ADS_1


__ADS_2