Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 231 Bagaimana dengan ke adaan Lina.


__ADS_3

Siapa lelaki itu?


Kedua mata Nining membulat, melihat sosok lelaki berbadan kekar, dengan tangan berotot. Membopong sosok seorang wanita dengan baju yang pernah ia pinjamkan kepada Lina.


Mobil berwarna hitam kini membawa wanita yang diduga ialah Lina, Nining ingin sekali menghampiri mobil bercorak hitam.


hingga di mana Nining nekat, berlari menghampiri mobil hitam yang ternyata sudah melaju dengan kecepatan tinggi.


Haikal mengusap kasar wajahnya, tak percaya dengan aksi Nining yang begitu ceroboh.


Dengan sigap Haikal berlari menghentikan Nining yang mengejar mobil hitam itu.


"Ning, kamu itu apa apaan, nekad kamu." Bentak Haikal, dengan perasaan kuatir pada keponakanya itu.


"Tapi, wanita yang di bopong tadi, kaya Teteh Lina. Baju yang di pakai wanita itu sama kaya Teteh Lina yang minjem baju Nining," ucap sayu Nining pada Haikal.


Kedua mata Nining berkaca kaca, ia merasa semakin bersalah.


"Sudahlah Ning, sebaiknya kamu tenangin dulu hati kamu. Biar urusan ini, Aa Haikal dan Ardi yang urus," balas Haikal, mencoba menenangkan kekuatiran yang di rasakan Nining.


" Tapi tetap saja, Nining teh merasa semakin bersalah setelah melihat Teteh Lina dibawa oleh orang yang tidak dikenal Nining," ucap Nining terdengar begitu sayu.


Api kini sudah padam. Di mana para warga mulai masuk ke dalam rumah kosong mencari tahu apa penyebab kebakaran yang terjadi. Padahal di rumah kosong itu tidak ada listrik sama sekali, ataupun orang yang sengaja tinggal, karna tempat yang sudah lama terbengkalai.


Pencarian warga membuat Haikal penasaran, saat itu ia mulai mendekat ke arah warga untuk melihat apa yang terjadi di dalam rumah kosong.


saat itu Seorang warga berlari, memberitahu apa yang sudah ia temukan di dalam.


Haikal yang mendengar ucapan lelaki itu kini mengikuti warga melihat apa yang sudah ditemukan.


mereka terkejut dengan mayat yang sudah terbakar hangus, membuat para warga saling membisik satu sama lain. heran jika di rumah kosong ada yang berani menempati.


Haikal tentulah sangat penasaran dengan mayat yang sudah terbakar habis, dia mendekat dan melihat mayat itu dengan begitu dekat.


ternyata mayat itu bukanlah mayat seorang wanita, melainkan mayat lelaki dengan posisi terbunuh.


Nining yang hanya menunggu di luar, hatinya merasa Tak sabar menunggu kedatangan Haikal.


" Gimana, Aa, tadi warga menemukan apa?"


" Mayat, Ning!"

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Haikal, Nining begitu kaget. dia takut jika mayat yang terbakar adalah Lina.


" kamu tak usah khawatir Nining, mayat yang terbakar itu bukan mayat wanita, melainkan mayat seorang lelaki."


"Laki laki?"


"Iya, Ning!"


Haikal seakan menebak bahwa semua ini sudah dasar rencana, akan tetapi Haikal tak tahu siapa yang sudah merencanakan semua ini?


@@@@


Ardi yang masih berada di dalam rumah, tampak gelisah dan tak bisa tenang. sesekali iya bolak-balik ke sana kemari, menunggu kedatangan Ardi dan juga Nining.


" Kenapa mereka belum datang juga? Apa mereka baik-baik saja?"


Ardi benar-benar tak tenang, ia kini keluar dari rumah Haikal saat itu juga, untuk mencari keberadaan Nining dan juga Haikal.


Perasaannya sudah tak karuan, langkahnya semakin ia percepat, agar segera sampai di tempat tujuan.


terlihat asap menggembul ke atas langit. Membuat heran.


langkah Ardi kini mulai mendekat ke rumah kosong itu, dia melihat rumah kosong yang sudah hangus terbakar. membuat kedua matanya membulat tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Hingga di mana Haikal melambaikan tangan ke arah Ardi, membuat Ardi tergesa-gesa menghampiri Haikal.


" Di mana Lina?"


Pertanyaan Ardi membuat Nining menundukkan pandangan. Ia tak menjelaskan apa yang sebenarnya sudah terjadi. dirinya takut sekali Jika Ardi membenci apa yang sudah ia lakukan.


Seharusnya Nining tidak usah membantu Lina pada saat itu, jika kejadiannya akan seperti ini.


"Kenapa kalian diam saja, saat aku bertanya?"


"Haikal. Ayo jawab kenapa kamu diam saja dari tadi?"


Haikal kini menatap sekilas ke arah Nining, yang memang Ia bingung dengan apa yang harus ia jawab kepada Ardi.


Para warga yang sudah memadamkan api kini segera pergi dari rumah kosong itu, dengan mengangkat mayat yang sudah menghitam oleh kobaran api.


Ardi membulatkan kedua matanya, dengan apa yang ia lihat, seorang mayat yang terbakar

__ADS_1


Haikal langsung menjelaskan apa yang ia lihat.


"kamu jangan salah sangka dulu, itu bukan mayat Lina, itu mayat seorang lelaki."


"Seorang lelaki?"


"Iya tadi kami berdua. melihat Lina di bawa paksa oleh seorang lelaki berotot, mereka membawa Lina masuk ke dalam mobil hitam dengan plat yang sudah aku ingat,"


"kurang ajar. Siapa yang sudah melakukan semua ini terhadap Lina?"


"Entahlah, aku tidak tahu, Kenapa dia sampai tega membakar rumah kosong ini dan juga membawa Lina. Apa tujuan orang itu?"


"Sepertinya, ini tidak salah lagi!"


"Maksud kamu, apa Ardi?"


"Dalang dari semua ini. Pasti pamanku sendiri!"


"Maksud kamu Pras."


"Iya, siapa lagi? Hanya dia orang yang jahat di keluargaku saat ini!"


"Tapi dia sekarang adalah buronan, mana mungkin dia merencanakan kembali kebusukannya?"


"Walaupun seorang burona. Paman Pras adalah orang yang sangat licik, mempunyai banyak anak buah, ia bisa bersembunyi di mana saja tanpa polisi tahu!"


Dari tadi Nining hanya diam saja ,dia masih memikirkan Lina yang dibawa paksa masuk ke dalam mobil, membuat Ardi langsung bertanya pada gadis desa itu.


"Ning, kamu kenapa? Wajah kamu terlihat tegang begitu. Apa yang kamu pikirkan saat ini?" Haikal, merangkul bahu keponakannya, menenangkan setiap rasa bersalahnya. karena sudah membantu Lina hingga di mana Lina di bawah paksa oleh seorang lelaki yang tidak tahu siapa lelaki itu.


"kamu jangan khawatir Ning, semua ini bukan salah kamu seorang."


"Tapi Nining, benar-benar merasa bersalah, Aa Haikal."


"Sudah sebaiknya kamu pulang lupakan segala masalah dan kesalahan yang kamu perbuat. Semua ini tidak ada urusannya denganmu, Nining."


Ardi mengusap pelan kepala rambut Nining membuat Nining seketika, tersenyum merekahkan bibirnya, menatap ke arah Ardi.


"Haikal yang melihat semua itu hanya tertawa dan berkata Awas nanti jatuh cinta ketiga kalinya, tahu-tahu. Nanti seperti ini lagi."


Sindiran keras dari sang sahabat membuat Ardi langsung memukul pelan bahu Haikal.

__ADS_1


"Namanya cinta itu bisa tumbuh di mana saja, hanya saja butuh proses untuk bisa mengenal rasa cinta itu, gue kan masih normal Haikal, sedangkan lo normal juga sudah menikah dan merasakan kebahagiaan yang namanya istri. Walau Hanya sekejap, tapi gue salut sama lo mampu bertahan dari godaan Lina, adik lu sendiri."


__ADS_2