
Dor ....
Beberapa tembakan terdengar dari luar rumah Pras, membuat lelaki itu tentu saja kaget. Baru saja ia memerintahkan para suruhannya yang berotot, tiba tiba mereka datang kembali.
"Ada apa?"
Pertanyaan Pras membuat mereka bertiga langsung menjawab." Maaf sebelumnya bos, di luar ada tiga orang lelaki datang ke sini. Yang saya kenal hanya ada satu orang."
"Siapa?"
Pras membalikkan badan dengan memutar Kursi rodanya.
"Tuan Ardi, bos. Keponakan Bos!"
Jawaban dari sang suruhan membuat Pras tersenyum sinis.
"Apa kita habisi mereka saja."
Para suruhan itu terlihat bersemangat ingin menghabiskan ketiga pemuda yang datang. Menghampiri Pras.
Pras memperlihatkan telapak tanganya, dan berkata," sebaiknya. Kalian tidak usah melawan, biar saya saja yang akan menghampiri mereka langsung."
"Tapi bos, jika mereka melakukan sesuatu?"
Pertanyaan sang suruhan membuat Pras menjawab!" sudah tak usah kuatir, saya bisa menangani ketiga lelaki itu."
Teriakan dari luar kini terdengar semakin nyaring, sedangkan para suruhan itu, hanya terdiam jika sang bos sudah menyuruh agar tidak bertindak.
"Baiklah kalau memang kata bos seperti itu saya kami akan menurut."
"Pras, keluar kamu."
Sepertinya teriakan dari Ardi, membuat sang om yang tak lain ialah Pras kesal. Kedua tangan lelaki itu mengepal erat.
Pras kini menghampiri ketiga lelaki yang sudah berani menginjakan kaki ke rumahnya.
Sang suruhan dan para pelayan, menjaga Bos besar, ia seakan tak mau jika sang bos terluka.
Kedua pintu dibuka, tatapan ketiga pria dan juga Pras saling beradu.
__ADS_1
Karna tak ada serangan maka ketiga lelaki itu tidak banyak menghabiskan tenaga.
Pras dengan kursi rodanya, kini berhadapan dengan ketiga pria dengan beraninya." ada apa kalian datang ke sini?"
Ardi lelaki yang paling kesal terhadap omnya, kini menjawab," aku datang ke sini ingin membuat perhitungan padamu, Pras."
"Wah, keponakanku sendiri berani menyebut panggilan pamanya ini dengan nama," ucap Pras. Menepuk kedua tanganya.
Ferdi melihat ke arah Pras yang hanya memaki korsi roda." Aku tak menyangka jika seorang lelaki gagah perkasa yang sudah menganiaya Alya. kini duduk di atas kursi roda, sungguh menyedihkan."
Pras tersenyum sinis, saat perkataan tidak menyenangkan itu terlontar dari mulut Ferdi." Waw, memangnya kenapa?"
"Tidak kenapa kenapa. Hanya saja sungguh menyedihkan!"
Perkataan Ferdi membuat suruhan Pras kesal, mereka mulai menghampiri ketika pria itu, akan tetapi Pras mencoba menahan sang suruhan.
" Ada apa kalian datang ke sini? Jika kalian ingin mengatakan hal penting, coba katakan sekarang. Aku tidak suka orang yang suka banyak basa-basi."
Ferdi yang benar-benar kesal dengan Pras, semakin mendekat ke arah lelaki itu, sedangkan dengan leluasanya Pras membiarkan Ferdi mendekat ke arah dirinya.
" kami datang ke sini untuk membalaskan apa yang sudah kamu lakukan terhadap Alya."
"Cih. Jangan munafik kamu Pras!" jawab Ferdi menatap tajam ke arah Pras.
"Sudahlah Ferdi, tak usah banyak bicara. Kalaupun kalian mau balas perbuatanku, ayo silahkan. Bunuh aku sekalian," ucap Pras.
"Membunuh, aku tidak seperti apa yang kamu pikirkan," balas Ferdi.
Ferdi yang kesal kini menggengam kerah baju Pras dan berkat." gara gara kamu Alya, hamil."
Deg ....
Kedua bola mata Pras membulat setelah mendengar perkataan Ferdi. " Hamil?"
"Kemana saja selama Ini, kamu baru tahu Alya hamil, bukanya kamu merawat dia. Sampai hal sebesar ini kamu baru tahu!"
Perkataan Ferdi, membuat Pras, benar benar terdiam kaku. Ia tak menyangka apa yang sudah ia perbuat. Membuat wanita yang ia cintai hamil.
"Aku tahu. Ini semua hanya akal akalan kalian saja."
__ADS_1
Ferdi semakin kesal dengan apa yang di katakan Pras. Di tengah tengah seperti ini Pras malah tidak mengakui kesalahannya sendiri, apa yang sudah ia lakukan Sudah merugikan banyak orang.
"Kenapa kamu malah mengatakan bahwa semua akal akalan kami. Jika kamu tidak percaya kamu bisa, temui Alya di rumahnya."
"Aku tidak akan percaya."
"Terserah, hanya saja. Jika kamu tidak mau bertanggung jawab biar aku saja yang bertanggung jawab atas semuanya. karna aku bukan lelaki pecundang seperti kamu."
"Sok menjadi pangeran penyelamat."
"Aku tak peduli dengan perkataan kamu itu, yang terpenting aku bisa memiliki Alya, tidak ada rasa sesal. Karna sebagai seorang lelaki patutnya menghargai sosok seorang wanita."
"Sudah belajar menjadi orang pintar atau jadi penasehat."
Sindiran Pras terus ia layangkan pada Ferdi, Pras terlihat tak suka dengan Ferdi, yang dari tadi terus menghina dan membuat amarahnya semakin mengebu gebu.
"Sudahlah Pras, sebaiknya kamu mengakui kesalahanmu pada kantor polisi, karna kami hanya ingin kedamaian tidak suka berdebat."
Pras tertawa terbahak-bahak dengan apa yang dikatakan Ferdi kepada dirinya. Untuk menyerahkan dirinya yang bersalah.
Karna jika tidak, hukuman agar lebih berat lagi, hingga di mana ia berkata," memangnya aku orang bodoh yang mau menyerahkan diriku pada polisi. tidak semudah yang kalian pikirkan. aku akan tetap seperti ini agar bisa membalaskan dendam sahabatku. setelah aku puas membalaskan dendam sahabatku. baru aku akan membuat satu persatu kalian di sini menderita jadi jangan harap kalian bisa merubah diriku yang seperti ini."
"Jika itu keinginan kamu, kami tidak peduli, yang kami harapkan kamu bisa merubah dirimu sendiri dan menyesali apa yang sudah kamu lakukan, karena semua ini demi kebaikan kamu sendiri."
Ardi berusaha merayu sang om, tanpa harus berkelahi denganya.
"Terserah apa yang kalian katakan inilah Hidupku, Jalanku ya jalanku. Kalian tidak usah banyak menasehatiku saat ini. karena kalian itu masih muda masih banyak yang harus kalian lakukan."
"kalau memang itu kemauan kamu, jadi salahkan kamu mau lakukan apa yang menurut kamu senang. Tapi ingat, jika suatu saat kamu akan menyesal dan menderita sendirian."
Acaman Ferdi, berusaha membuat lelaki itu kapok dengan perbuatanya sendiri.
"Apa maksud kalian? Menderita, sendirian. aku tak peduli dengan apa yang kalian katakan terserah."
Ketidak pedulianya, membuat ia hanya bisa mengukuti alur yang ia ingingkan. Hanya disayangkan saja Pras tidak bisa berubah atas keinginan orangn lain."
Tiga pria itu kini mulai berpamitan kembali kepada Pras, mereka tidak mau membuat kekacauan yang akan merugikan diri mereka sendiri, maka dari itu mereka keluar dari kediaman Pras.
Akan tetapi Pras yang Licik kini menahan ke-3 pria itu, hingga di mana Ardi dan yang lainnya bergegas melepaskan pegangan dari suruhan dan juga pelayan.
__ADS_1
"Apa maksud kamu mau menangkap kami? Bukannya kamu berusaha berhenti dari kejaran kami berdua, kenapa sekarang kalian malah menangkap kami tidak akan ada satu orang yang mempercayainya kamu semua di sini."