Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 119


__ADS_3

Dreet .....


Haikal berusahan menghubungi adiknya beberapa kali.


Tut .....


Panggilan telepon pun tehubung.


"Halo, Lina," ucap Haikal pada sambungan telepon.


"Siapa ini?" tanya Lina. mengangkat panggilan Haikal, yang memakai nomor sang suster.


"Ini kakak Lina, Kak Haikal!" jawab Haikal membuat Lina terkejut.


Lina yang berada di dalam mobil bersama Ardi, kini menunjukkan ponselnya kepada Ardi dan memberitahunya bahwa yang menelpon itu adalah Haikal,


"Kak Haikal meneleponku, Ar."


"Halo Lina," ucap Haikal dalam sambungan telepon.


saat itulah Lina mulai menempelkan kembali ponselnya pada telinga," iya kak, sekarang kakak ada di mana. Dan kak Dinda?"


"Sekarang kakak ada di rumah sakit!" jawab Haikal membuat Lina heran.


"Rumah sakit?"


"Ya Rumah sakit, kakakmu sekarang tengah keritis!" jawab Haikal.


Lina terdiam saat mendengar Haikal berkata bahwa Dinda tengah kritis.


"Kenapa Lina?" tanya Ardi.


"Kak Dinda ada di rumah sakit, kak Dinda keritis!" jawah Lina masih tak percaya dengan ucapan Haikal.


Untung saja Ardi dan Lina tidak pergi menemui orang misterius yang terus mengancam dirinya, " kamu yang sabar ya, kita akan temui kakak kamu sekarang."


Lina menganggukkan kepala dan berkata," iya, Ar."


Saat itulah Ardi memutar balikan mobilnya untuk menemui Haikal dan Dinda di rumah sakit.


"Halo Lina," ucap Haikal.


"Iya kak, kenapa?" tanya Lina masih dengan rasa tak percaya.


"Jika ada yang menelepon memakai ponsel kakakmu, kamu jangan percaya. Ponsel kakakmu di ambil oleh orang yang entah kakak tidak tahu dia siapa!" jawab Haikal.


"Iya Kak," ucap Lina.

__ADS_1


Panggilan telepon pun di matikan sebelah pihak, Haikal belum memberi tahu Lina rumah sakit yang harus ia datangi.


"Halo, Halo."


" Kenapa Lina?" tanya Ardi.


"Panggilan teleponnya terputus!" jawab Lina.


Sampai di mana satu pesan datang, dan ternyata pesan dari Haikal. lelaki itu mengirimkan pesan di mana Dinda di rawat.


"Pesan dari siapa?" tanya Ardi.


"Dari kak Haikal!" jawab Lina.


"Apa katanya?" tanya Ardi.


"Rumah sakit cahaya kita!" jawab Lina.


Ardi dan Lina langsung menghampiri rumah sakit yang sudah di sebut namanya oleh Haikal. dengan mengendarai mobil berkecepatan tinggi.


@@@@@


Haikal sangat berterima kasih sekali kepada suster yang mau meminjamkan hp-nya, Iya langsung menyodorkan ponsel ke pemiliknya dengan berkata," terima kasih sus."


sang suster hanya menganggukkan kepala, Seraya mengambil ponselnya kembali." sama sama."


"Bapak kenapa?" tanya sang suster.


"Hanya sedikit pusing!" jawab Haikal. memegang kepalanya dengan tangan kanan.


Suster itu tak tega melihat wajah Haikal yang terlihat pucat, saat itulah ia mengambilkan kursi roda untuk membantu Haikal dan membawanya ke ruang pasien.


" Ya sudah sebaiknya bapak, saya antar ke ruang pasien."


ucap Suster itu berniat membantu Haikal, dengan sigap mengambil kursi roda dan menyuruh Haikal untuk cepat duduk.


"Ta usah sus, saya bisa jalan sendiri," balas Haikal. menolak pertolongan super itu. iya harus terburu-buru menemui Dinda tengah sendiri.


"Tapi ke adaan bapak, tidak memungkinkan untuk bapak harus berjalan," ucap Suster itu memberi penjelasan tentang kondisi Haikal saat ini.


"Tak apa sus, ini hanya pusing sedikit," balas Haikal. yang bersikukuh tak ingin dibantu oleh suster.


saat itulah Haikal mulai berpamitan pada suster yang sudah baik meminjamkan ponselnya, dengan berjalan gontai sembari memegang kepala. Haikal memaksakan diri untuk segera datang ke ruangan sang istri.


Di tengah perjalanan menuju ke ruangan Dinda, Haikal merasakan rasa sakit kepala yang sangat luar biasa. membuat dirinya tak sanggup lagi berjalan.


"Kepalaku pusing sekali," ucap Haikal pelan.

__ADS_1


Ternyata Suster itu terus mengikuti Haikal, Suster itu merasa kasihan terhadap Haikal yang memaksakan diri untuk berjalan menuju ke ruangan sang istri.


" Cowok itu keras kepala sekali, di bantu malah ngeyel." Gerutu sang suster.


Haikal seakan tak tahan dengan rasa sakit di kepalanya, Iya tiba-tiba terjatuh ke atas lantai, kepalanya terus berdenyut kencang membuat rasa sakit tak tertahankan.


"Kepalaku kenapa sakit sekali," ucap Haikal.


Tiba-tiba saja Haikal tak sadarkan diri, iya terkurai Lemah di atas lantai. suster yang terus mengikutinya kini berlari menghampiri Haikal. meminta bantuan kepada perawat yang berada di rumah sakit.


"Tolong pasien ini."


Beberapa perawat langsung berdatangan membawakan sebuah ranjang untuk membawa Haikal,


@@@@


setengah jam berlalu, Haikal bangun dari pingsannya, kedua matanya terbuka," Di mana aku sekarang."


Betapa kagetnya Haikal, dia langsung duduk di ranjang rumah sakit, melihat ke sekitar ruangan. suster yang baik itu langsung berkata kepada Haikal," kamu tengah menjalani perawatan. Karan kondisi tubuh kamu yang kurang sehat."


"Suster jadi ...."


Belum perkataan Haikal terlontar semuanya, sang suster langsung berkata," sudah jangan banyak bicara. Aku sudah bilang dari awal tapi kamunya itu ngeyel."


Suster itu dengan baiknya langsung memeriksa kondisi Haikal, membuat Haikal merasa malu dengan dirinya yang egois tak mau menuruti apa perkataan suster yang mau membantunya.


"Kamu ini kurang istirahat, jadi gampang sakit kepala," ucap suster yang tiba tiba saja berbicara seperti orang yang sudah akrab dengan Haikal.


Padahal dari tadi suster itu selalu memanggilnya dengan sebutan bapak dan sekarang berbeda jauh, entah kenapa dengan sang suster.


"Maaf sus, saya harus segara menemui istri saya," ucap Haikal pada sang suster.


"Tidak bisa, kamu harus istirahat di sini dulu. Takut jika nanti kondisi kamu memburuk," balas sang suster


"Tapi sus, Istri saya butuh saya sekarang," ucap Haikal. Melepaskan infusan dan beranjak untuk turun dari ranjang rumah sakit.


Suster itu langsung menahan tubuh Haikal agar tidak pergi ke mana mana," sebaiknya kamu turuti apa perkataanku."


Entah kenapa suster itu begitu perhatian pada Haikal, padahal mereka baru saja bertemu, tapi suster itu begitu terlihat baik sekali pada Haikal.


"Suster tidak ada hak melarang saya untuk tidak bertemu dengan istri saya. Jadi stop untuk menghalagi halangi saya," tegas Haikal pada suster itu.


Sang suster langsung diam berdiri, saat Haikal berkata tegas seperti itu.


pada akhirnya sang suster tidak melarang Haikal lagi, ia membiarkan Haikal mencabur jarum infusan dan pergi menemui sang istri.


Hanya saja saat jarum infusan itu dibuka dari tangan Haikal oleh dirinya, saat itulah Haikal mulai berjalan dan merasakan rasa sakit yang luar biasa pada kepalanya. membuat ia seakan susah untuk berjalan ataupun pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


hingga di mana Haikal terkulai jatuh di ke atas lantai, sang suster dengan sikap membantu kembali Haikal.


__ADS_2