
Lina pernasaran dengan suara lelaki yang datang ke rumah, ia mengintip di balik tembok. Sosok lelaki gagah dengan paras tampan tengah mengobrol dengan Dinda.
"Siapa lelaki itu." Gumam hati Lina.
Lina merogok saku celannya, mengambil gambar sang kakak dengan lelaki itu yang tengah bercanda bergurau.
"Hah, lumayan untuk di tunjukan pada kak Haikal." Senyuman licik terpancar jelas dari wajah Lina.
Lina dengan terburu-buru masuk lagi ke dalam kamar, sebelum Dinda mengetahui apa yang ia lakukan.
Dinda berjalan melewati kamar Lina, ia menatap sekilas ke arah pintu kamar adiknya.
Ingin menghampiri kembali sang adik, tapi ia mengurungkan niatnya. Karna percuma jika mengajak ngobrol lagi Lina, dalam ke adaan Lina yang egois. Bukan membuat Lina sadar tapi membuat Lina semakin menjadi jadi.
Dinda mengusap perutnya dan berkata," kita pasti bisa melewati cobaan ini."
Jam masih menunjukan pukul satu siang, Dinda bergegas untuk beristirahat.
Ia lupa menaruh obat sembarangan.
Setelah masuk ke dalam kamar, Dinda merebahkan tubuhnya dan terlelap untuk tidur. Namun tidak dengan Lina, ia mengendap ngedap. Melihat obat yang tergeletak sembarangan di meja makan.
Membuat dirinya dengan berani mengganti obat.
"Maafkan adikmu ini kak, kalau saja kakak mau dengan ikhlas membagi Kak Haikal denganku. Mungkin aku tidak akan melakukan hal seperti ini."
@@@@@
Sedangkan di dalam kantor.
Terlihat wajah Haikal, tersenyum berseri. Merasakan kebahagia, dalam hidupnya.
Satu sapaan terdengar dari telinga Haikal yang tak lain ialah, Ardi sahabatnya.
"Cie, yang lagi bahagia." ucap Ardi pada Haikal.
"Apa sih, kepo saja dari kemarin," balas Haikal. Dengan wajah yang berseri seri.
"Menjadi seorang sahabat itu, harus selalu ada dalam suka mau pun duka," ucap Ardi.
"Lebai," balas Haikal.
"Oh, ya. Gue boleh menginap di kontrakan lu malam ini kan?" tanya Ardi. Membuat Haikal heran.
"Menginap, memangnya di rumah kenapa?" tanya balik Haikal.
"Ya, gue pengen aja. Soalnya sumpek, kali kali menginap lah di rumah lu Haikal!' jawab Ardi.
" Hah, ya sudah. Hanya saja di rumah gue itu lebih sumpek karna kontrakan," ungkap Haikal.
"Enggak papa, cuman semalam ini. Ya . Ya. Ya."
Ardi memohon mohon kepada Haikal, membuat Haikal dengan terpaksa mengiyakan ucapan sahabatnya itu.
__ADS_1
Memegang tangan Haikal, dan tersenyum senang. Haikal mengerutkan dahi menatap pada tangan Ardi yang memegang tangannya.
"Ihhh, apa sih lu. Pegang pegang."
Ardi tertawa dan meminta maaf pada Haikal, " Ya maaf. Gue itu kesenangan sampe lupa diri pegang tangan lu."
Haikal bergidig ngeri dengan tingkah Ardi, membuat ia bergegas bekerja.
"Ya elah lu, memangnya gue ini laki jadi jadian, ampe sebegitu ngerinya." Ungkap Ardi.
"Emang lu, laki jadi jadian." sindir Haikal.
Ardi yang terkesan jail, dengan sigap mencium pipi Haikal.
"Muach."
Haikal terkejut membulatkan kedua matanya, mengusap kasar pipinya.
"Ardi, apa kamu gila." Teriak Haikal. Tanpa sadar semua orang menatap ke arah wajahnya. Sedangkan Ardi dengan sigap berlari dan tertawa ke ruanganya.
"Si Ardi ini, kalau bercanda keterlaluan," cetus Haikal. kembali bekerja.
Menatap layar leptop, mengerutu kesal pada hatinya," setelah pulang dari kantor. Aku harus mencuci pipiku ini dengan 7 lapis tanah. Sekalian mandi kembang."
.
@@@@@
Entah tujuan apa Ardi ingin menginap di rumah Haikal, begitu tiba-tiba, awalnya Haikal Curiga Tapi ia mengurungkan niat curiganya itu. Mana mungkin sahabat lamanya berniat jelek di rumah Haikal. Karna Haikal sudah mengetahui sifat Ardi sudah lama.
"Rasanya hatiku tak sabar ingin segera bertemu dengan, Dinda dan calon bayiku."
Saat Haikal terburu buru, menaiki bis. Saat itu pula Ardi menarik tangannya dan berucap," hai sayang."
Haikal kaget bukan main, ia langsung mendorong tubuh sahabtanya itu.
"Ardi, bisa tidak lu. Bikin gue enggak kaget sehari saja."
Ardi tertawa terbahak bahak, melihat Haikal kaget dan ketakutan, ia mulai berucap." Apa lu lupa dengan perkataan gue tadi siang."
Haikal mulai mengigat ngigat perkataan Ardi, yang saat itu ia ingat." Oh ya. lu mau menginap di rumah gue malam ini kan."
Ardi menganggukan kepala dan mejawab," ya betul. Jadi ayo."
Ardi mulai menunjukan mobilnya," ayo kita naik mobil."
Mau tidak mau, Haikal langsung menaiki mobil Ardi pada saat itu juga.
"Ngapain sih Lu, mau menginap di rumah gue. Kan lu tahu sendiri gue tinggal bukan di rumah melainkan di kontrakan."
"Ya elah lu, ya gue ingin mendapatkan suasana baru. Gue bosen hidup mewah terus." Ucap Ardi.
Ardi adalah anak dari bos di kantor Haikal bekerja, Haikal beruntung bisa berteman dengan anak bos yang tidak sombong dan selalu membantunya dalam bekerja.
__ADS_1
"Ya gue percaya sama anak bos. Dari pada gue di pecat," cetus Haikal pada Ardi.
Ardi dengan lantang mencubit pipi Haikal, membuat Haikal semakin kesal.
"Ya tuhan, bisa tidak aku di jauhkan dengan laki jadi jadian ini."
Ucapan doa Haikal, membuat Ardi tertawa terbahak bahak. Cara bercanda Haikal memang seperti itu. Membuat Ardi selalu ingin mengodanya dan membuat Haikal bergidik ngeri.
"Haikal, Haikal."
"Oh ya, kalau sudah ada di rumah gue. Jangan kaget ya."
"Hah, kaget untuk apa."
"Nanti juga lu tahu sendiri."
setengah jam berlalu Haikal dan Ardi sudah sampai di rumah, Haikal langsung turun dari mobil. ia mulai berjalan ke arah pintu rumah. Tak sabar ingin bertemu dengan sang istri.
"Dinda, Dinda."
beberapa kali mengetuk pintu rumah, tapi Dinda tak membuka pintu rumah.
Ardi hanya menunggu di dekat mobil, ia belum berani mengikuti langkah kaki Haikal.
"Dinda."
tiba-tiba saja perasaan Haikal terasa tak enak hati, karna Dinda yang begitu lama membuka pintu rumah.
"Ke mana Dinda, kenapa di begitu lama membuka pintu."
"Dinda. Dinda."
Beberapa menit kemudian, Lina datang.
"Kak Haikal sudah pulang."
Melihat Lina pulang dengan pakaian rapi, membuat Haikal heran.
"Lina kamu dari mana. Terus kakak kamu."
"Kakak Dinda ada di rumah. Lina hanya keluar sebentar untuk membeli baso. Kebetulan Lina pengen yang pedas pedas."
"Terus kakak kamu, kenapa tidak membuka pintu rumah."
Lina menganggkat kedua bahunya dan berkata," entahlah."
Ardi yang menunggu lama di mobil, mendekat ke arah Haikal dan berkata." Loh. kok lu belum masuk rumah. Istri lu enggak ada di rumah emang?"
"Entahlah, dari tadi gue gedor gedor. Tak ada jawaban sama sekali," balas Haikal.
"Memangnya pintunya di kunci kak?" tanya Lina.
"Ya, tumben sekali Dinda mengunci pintu rumah. Tidak biasanya!" jawab Haikal.
__ADS_1
Ardi menyarankan untuk mendobrak pintu rumah Haikal.
Karna kuatir dengan keadaan Dinda.