Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 113


__ADS_3

Sopir itu langsung meraba saku celananya untuk mencari ponsel, dia berusaha mencari pertolongan kepada sahabat-sahabatnya. Akan tetapi ia lupa, kalau ponselnya berada di dalam mobil. tangannya memukul keningnya sendiri dan berkata," sial, ponselku ternyata ada di dalam mobil."


dirinya mendudukan tubuhnya, memukul-mukul kepala merasa menyesal karena terlalu ceroboh menyimpan pistol di belakang mobil, kini kesempatan untuk mendapatkan uang telah sirna.


apalagi mobil satu-satunya telah dibawa pergi," Hah, aku harus ke mana ini. Mana sudah malam."


Sopir itu gini berjalan melalui hutan, Iya Menelusuri jejak ban mobil yang masih terlihat. dengan perasaan tak tenang dirinya terus fokus berjalan menatap kearah depan jalanan.


Ada rasa takut menghantui dirinya, apalagi di hutan itu terkenal sekali banyak hewan buas.


Suara hewan terdengar dari kejauhan, gerungan yang menakutkan.


"Suara apa itu?"


Rasa takut terus menghantui sang sopir yang berjalan perlahan demi perlahan, membuat buluk kuduknya merinding,


"Hah, di hutan ini. Banyak memakan korban karna hutan yang penuh dengan hewan buas." Ucap pelan sang sopir.


Kini suara burung hantu semakin terdengar jelas, pada kedua telinga sang sopir. Membuat rasa takut semakin mencekram.


Geraman terdengar semakin dekat, membuat rasa was was pada hati sang sopir.


Rasa penasaran akan suara itu, membuat sang sopir menatap ke arah semak semak belingkar. " Suara menakutkan apa lagi itu."


.


Sang sopir melihat mata merah yang menyala, membuat tubuhnya bergetar, Mata merah itu kini mendekat, membuat sang sopir berlari.


"Ahkkkk, Harimau."


Berlari semakin jauh, membuat kedua mata merah itu mengejar sang sopir hingga jatuh ke atas tanah.


Brug ....


"Ampun, ampun." Suara teriakan sang supir membuat kedua mata merah itu bersuara.


"Meong, Meong."


Kaget yang di rasakan menjadi rasa malu tak tertahankan, bagaimana tidak sopir itu sudah lari ketakutan dan kecing di atas celana.


Ia membalikan badan, melihat kucing itu menjilati kedua pipinya.


"Hah, hanya seekor kucing."


Sang sopir itu memejamkan kedua matanya, untuk tidur di atas tanah dengan di temani kucing kecil,


@@@@@@

__ADS_1


Sedangkan Dinda masih berada dalam mobil, Haikal belum juga menemukan rumah sakit di daerah sana.


"Dinda kamu yang sabar, ya."


Hati Haikal sudah tak karuan, hatinya benar benar hancur melihat sang istri terkulai lemah tak berdaya.


"Kamu yang sabar ya Dinda, aku pasti akan membawamu ke rumah sakit."


Hingga beberapa menit kemudian, Pada akhirnya Haikal menemukan sebuah rumah sakit, ia dengan sigap menurunkan istrinya, membopong dengan berteriak memanggil para perawat dan juga dokter di rumah sakit.


Dengan sigap suster berdatangan, mereka langsung menangani Dinda membawa ke IGD.


"Suster tolong istri saya."


"Bapak tenang dulu ya, Kami akan berusaha menyelamatkan istri bapak."


Suster menyuruh Haikal untuk menunggu bersabar.


"Dinda kamu harus kuat."


.@@@@@


"Kak, Dinda."


Lina terdiam, iya kaget Kenapa dirinya berada di tengah-tengah hutan, Lina berjalan menelusuri hutan itu dengan melihat pemandangan yang terlihat begitu indah.


Lina melihat sosok wanita memakai baju seperti yang di pakai kakaknya, membuat ia tak sengan memanggil orang itu dengan sebutan kakaknya sendiri... wanita itu tetap saja duduk seakan menikmati indahnya pemandangan sungai.


Lina Yang penasaran kini berjalan menghampiri wanita yang tengah duduk bersantai di dekat sungai, beberapa kali Lina memanggil wanita itu dengan sebutan kakaknya, tetap saja wanita itu tidak membalikkan badan dan juga kepalanya.


" kenapa orang itu Sama persis dengan Kak Dinda."


rasa penasaran yang semakin dirasakan Lina, membuat perlahan menghampiri wanita itu.


"Maaf, kakak lagi apa ya?" tanya Lina.


wanita itu tetap saja diam, saat Lina bertanya kepada dirinya.


" kenapa ya wanita ini diam terus, Padahal dari tadi aku panggil terus. apa dia ini budek ya." Gerutu Lina dalam hati.


Lina mendengus kesal, orang yang berusia panggil-panggil tak juga menatap kearah dirinya. membuat tangannya langsung memegang bahu wanita itu.


"Maaf, kak."


tetap saja wanita itu tak membalikkan wajahnya ataupun menjawab perkataan yang terlontar dari mulut Lina, membuat Lina geram dan membalikkan badan wanita itu dengan spontan.


betapa kagetnya Lina melihat wajah wanita itu begitu persis dengan wajah Kakaknya sendiri, wajah wanita itu terlihat begitu pucat kedua matanya sayu.

__ADS_1


"Kamu kak Dinda."


tiba-tiba saja kedua matanya mengeluarkan air mata, bibir wanita itu seakan keluar tak menjawab perkataan yang terlontar dari mulut Lina sedikitpun.


"Kak Dinda. Ini Kak Dinda kan."


Lina mengoyang goyankan bahu wanita itu, agar wanita itu berbicara.


"Kak, kenapa kakak diam saja, ini aku Lina, adik kakak."


Lina langsung memeluk tubuh kakaknya itu, Entah kenapa wajah kakaknya itu begitu terlihat pucat sekali, membuat rasa kuatir pada hati Lina.


"Kak, kakak kenapa?"


Tidak ada jawaban sama sekali, hingga sosok wanita itu menghilang. Membuat Lina berteriak.


"Kak Dinda."


"Lina bangun, Lina."


"Duh, kenapa dengan Lina," ucap sang mertua kepada calon menantunya.


"Kak Dinda."


Kini Lina terbangun dari tidurnya, membuat Maya langsung bertanya," Lina kamu mimpi buruk?" tanya Maya dengan perlahan mengusap pelan rambut Lina.


"Bu," Lina langsung menangis dengan memeluk tubuh Ibunda Ardi.


"Kamu kenapa, apa yang kamu mimpikan?" tanya sang ibunda kepada Lina. Perlukan itu sedikit menenangkan rasa takut Lina.


"Ayo cerita, apa yang kamu impikan?" tanya Maya.


Lina kini mulai menceritakan apa yang ia impikan, kepada Maya, dengan posisi yang masih memeluk tubuh Maya.


"Ayo cerita, jangan takut. ibu siap mendengarkan ceritamu, Lina," ucap wanita tua itu.


Maya benar benar berubah 100 pesen, seperti seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya, ia seakan menyadari kesalahannya. Karna telah menyakiti hati Lina.


"Ayo cerita."


Pelukan hangat itu, membuat bibir Lina akhirnya menceritakan apa yang ia impikan tadi, ia tak segan segan menangis di depan ibunda Ardi. Membuat sang ibunda melepaskan pelukan Lina dan mengusap pelan air mata yang terus berjatuhan.


Betapa sedinya Lina, saat bermimpi tentang kakaknya yang begitu terlihat seperti mayat hidup. Lina takut terjadi apa-apa dengan Dinda, karena ia tahu posisi dirinya dan juga keluarganya sedang terancam oleh seseorang yang tak ya tahu siapa orang itu.


"Itu hanya sebuah mimpi, bisa saja itu kecemasan dalam hati kamu, hingga terbawa mimpi. Sebaiknya kamu tenangi dulu hati kamu Lina. Nanti ibu bikinin minuman penenang agar kamu tidak sedih lagi," ucap Maya memperlihatkan perhatiannya.


Maya mulai beranjak berdiri dari tempat tidurnya, sedangkan Lina menahan tangan sang ibunda, agar tidak pergi.

__ADS_1


__ADS_2