Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 172


__ADS_3

Haikal yang berada di samping sang istri, kini berteriak kepada para suster untuk segera datang ke ruangan Dinda. Tetapi teriakan Haikal seakan tak ada yang peduli, saat itu Haikal mulai bergegas keluar ruangan untuk mencari para suster yang berjaga di rumah sakit.


antara rasa senang dan juga sedih bercampur aduk padahal hati Haikal, kini Haikal melihat seorang suster berjalan, membuat ia melangkah lebih cepat menghampiri Suster itu dan berkata," suster, istri saya sus?"


Suster itu sedikit tak mengerti apa yang dikatakan Haikal," maksud Bapak apa? Coba bapak tenangin dulu, tarik nafas terlebih dahulu. Lalu bilang apa yang ingin bapak sampaikan kepada saya?"


Haikal langsung menuruti metode yang diberikan Suster itu, saat itulah ia mudah berbicara kepada sang suter," suster istri saya tangannya gerak-gerak."


"Ya sudah ayo kita ke ruangan istri bapak," ucap sang suster .


langkah sang Suster itu begitu cepat melangkah ke ruangan Dinda, ya dengan sigap pengecek keadaan Dinda.


yang di mana nafas Dinda tiba-tiba teengah engah. Membuat sang suster sedikit panik.


Haikal yang tak mengerti haya menatap kearah suster yang berlari mencari dokter.


"Suster, kamu mau ke mana. Keadaan istri saya bagaimana?"


betapa paniknya Haikal melihat suster berlari tanpa mengucap satu patah kata pun, nafas Dinda terlihat tak stabil. Membuat Haikal semakin mendekat ke arah istrinya.


"Dinda, bertahanlah aku yakin kamu pasti kuat."


Haikal memegang tangan Dinda dengan begitu erat, mencium tangan istrinya beberapa kali. Tak terasa kedua mata Haikal mengeluarkan rintikan air, hingga di mana air itu mengenai kedua pipi Haikal.


"Dinda bertahanlah, aku yakin pasti Kamu kuat Dinda."


kata semangat tak henti-hentinya terlontar dari mulut Haikal, Haikal terus saja berdoa meminta pertolongan kepada yang maha kuasa.


hingga beberapa menit kemudian, Suster itu datang kembali membawa seorang dokter untuk memeriksa keadaan Dinda.


yang di mana Haikal tadi sedikit mengira bahwa Suster itu kabur tak mau menangani istrinya.


Haikal sedikit melangkah mundur menjauhi sang istri, di mana sang dokter langsung memeriksa Dinda.


"Ini gawat sus. Cepat ambilkan perlaratan medis."


suster dan dokter seakan panik, membuat hati Haikal tak tenang dengan melihat kepanikan para suster dan dokter.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan istriku."


tiba-tiba saja suster menyuruh Haikal untuk keluar dari ruangan, awalnya Haikal menolak karena ia masih ingin berada di sisi istrinya sendiri. Akan tetapi suster mengatakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan pada Haikal.


kini sang suster langsung menutup pintu ruangan Dinda, Haikal yang kini menangis dan juga panik hanya bisa duduk menunggu kepastian dokter dengan keadaan istrinya.


"Dinda, Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu."


baru saja Haikal merasakan rasa senang akan kakinya yang bisa berjalan kembali, kini ia di hadapkan dengan keadaan istrinya yang seakan memburuk.


"Sembuhkan lah istriku."


hanya itulah yang terus terlontar dari mulut Haikal, tanti-hentinya ia mendoakan sang istri akan kesembuhan.


entah apa yang dilakukan dokter di dalam ruangan, membuat Haikal semakin tak tenang.


" Kenapa dokter belum juga keluar, Sebenarnya apa yang terjadi dengan Dinda di dalam sana."


rasa tak tenangnya membuat Haikal kini duduk perlahan di kursi, membuat ia tak sadar akan dirinya yang tiba-tiba terlelap tidur.


rasa kantuk yang tiba-tiba datang dsn membuatnya tertidur, beberapa kali Haikal mengusap kasar wajahnya agar tidak tertidur, menunggu dokter keluar dari ruangan istrinya.


"Dinda, kamu sembuh," ucap Haikal.


Dinda melayangkan senyuman manisnya terhadap Haikal, membuat Haikal kini berdiri dan memeluk istrinya yang terasa begitu dingin.


"Badanmu dingin, Dinda?"


Haikal seakan tak ingin melepaskan pelukannya, Iya terus memeluk erat sang istri mengusap rambut panjangnya.


"Akhirnya kamu ssmbuh juga sayang, aku tak sabar ingin segera pulang dan menikmati lagi masakan kamu."


Haikal meneteskan air mata. Iya bingung dengan dirinya sendiri, Kenapa bisa Dinda langsung berjalan menghampiri dirinya, padahal tadi keadaan Dinda sangatlah memburuk. Dinda masih terkulai lemah di atas ranjang dengan ditangani beberapa suster dan juga dokter yang begitu panik.


"Dinda kenapa seluruh badanmu dingin?"


ada rasa aneh yang dirasakan Haikal saat itu, tubuh Dinda begitu dingin tidak seperti biasanya.

__ADS_1


perlahan Haikal mulai melepaskan pelukannya," Dinda, kenapa kamu diam saja, saat aku bertanya. Apa yang sekarang kamu rasakan."


Dinda tetap saja memperlihatkan senyumannya pada Haikal, wajahnya begitu berseri. Walaupun memang terlihat begitu pucat, tapi Haikal melihat wajah Dinda begitu indah dan sangat cantik.


"Mas, aku pergi dulu bersama anak kita. Kamu jaga dirimu baik baik, jangan sedih. Aku bahagia bersama anak kita."


"Dinda, apa maksud kamu. Kenapa kamu berbicara seperti kamu sudah meninggal."


"Mas, aku sangat mencintai kamu. Aku pergi dulu."


Tangan Haikal yang memegang tangan Lina, kini Lina lepasakan, membuat Haikal terdiam.


"Kamu jaga dirimu baik baik ya, Mas. Aku pamit pergi dulu."


Haikal menangis menitihkan air mata, " Dinda. Kamu jangan bercanda, Sebenarnya kamu ini mau pergi ke mana. Kalau kamu marah padaku cepat bilang apa salahku saat ini, Kenapa kamu berpamitan pulang kepadaku."


"Mas, aku tinggal dulu ya."


perlahan Dinda pergi meninggalkan Haikal yang tengah berdiri memandangi wajah istrinya.


"Dinda kamu mau ke mana tunggu aku."


Teriak Haikal, tak membuat Dinda berhenti dari langkahnya, wanita itu terus saja berjalan tanpa menengok sedikitpun ke arah belakang.


"Dinda cepat berhenti, kamu mau ke mana."


pada akhirnya Haikal berlari menghampiri sang istri yang terus berjalan tanpa menjawab panggilannya, dengan sekuat tenaga Haikal terus berlari. Kenapa saat ia berlari seakan dirinya tak sampai-sampai untuk meraih tangan istrinya sendiri.


"Ada apa ini, kenapa aku tidak bisa meraih tanganku istriku sendiri."


"Dinda berhenti, kamu mau ke mana."


nafas Haikal terasa terengah-engah, dirinya seakan tak sanggup lagi berlari mengikuti langkah sang istri. padahal Haikal melihat istrinya itu berjalan pelan seakan cepat jika Haikal berlari mengukiti langkah kaki istrinya.


" Apa yang sebenarnya terjadi, Kenapa istriku begitu cepat berjalan, Padahal aku melihat istriku begitu lambat berjalan. Tapi saat aku mengejarnya, langkah Dinda begitu cepat. seakan tak ada cela untuk aku meraih tangan istriku itu."


keringat ingin bercucuran pada wajah dan juga tubuh Haikal, perlahan membuat Haikal perlahan mengusap kasar wajahnya yang begitu basah dengan keringat karena berlarian mengejar sang istri.

__ADS_1


saat Haikal mengusap kasar wajahnya, saat itulah ia melihat ke arah depan, di mana istrinya yang tengah berjalan tiba-tiba hilang begitu saja di depan matanya.


__ADS_2