Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 38


__ADS_3

"Coba kamu dobrak saja, Haikal. Aku takut jika istrimu di dalam kenapa napa," ucap Ardi.


Saat itulah Haikal langsung mendobrak pintu rumahnya, dengan beberapa kali. Sampai pintu itu kini tebuka lebar.


Bertapa kagetnya Haikal. melihat Dinda tergeletak di atas lantai. Membuat Haikal dengan sigap membangunkan istrinya.


"Dinda, Dinda bangun."


Dinda tak sadarkan diri, sedangkan dengan Lina ia hanya tersenyum senang melihat keadaan kakaknya yang tergeletak di atas lantai.


"Bagus, kini kakakku pingsan tiba tiba. Mungkin karna pengaruh obat yang sudah aku tukar." Gumam hati Lina.


Ardi menatap wajah Lina, merasa curiga dengan tingkah Lina dan gerak geriknya.


"Kenapa perasaanku tak enak pada gadis itu, ya." Gumam hati Ardi.


Saat itu, Dinda terbangun. Ia memegang kepalanya yang begitu terasa sakit. Membuat Haikal, langsung membopong tubuh sang istri.


"Mas Haikal."


"Akhirnya kamu bangun juga, Dinda. Aku sangat kuatir dengan keadaanmu saat ini," ucap Haikal. Mencium punggung tangan Dinda.


"Mas, kepalaku sakit sekali," balas Dinda.


"Kamu sudah ngapain, kenapa bisa pingsan di dapur?" tanya lembut Haikal.


"Tadi aku hanya meminum obat, dan setelah meminum obat itu. Kepalaku sakit sekali!" jawab Dinda.


"Ya sudah, sekarang kamu istrirahat dulu. Jangan beraktipitas yang berat berat," ucap Haikal.


Saat itulah Dinda mulai menurut, ia mengistirahatkan tubuh. Terlelap untuk tidur.


Sedangkan Ardi yang merasa curiga dengan tingkah Lina, langsung mengikuti adik Dinda itu hingga Lina masuk ke dalam kamar.


"Sebenarnya kenapa dengan wanita itu, gue heran tingkahnya seakan mencurigakan." Gumam hati Ardi.


Perlahan, mengikuti. Pintu kamar Lina. Ardi mengintip di balik pintu yang terbuka sedikit.


Lina tengah tersenyum dengan memegang kunci.


"Kunci rumah. Wanita itu." Gumam hati Ardi.


Tanpa di segaja, Ardi malah menjatuhkan Vas bunga, membuat Lina kaget. Terburu buru melihat ke luar kamar.


Sedangkan Ardi, berdiri di pintu kamar Lina. Berpura pura dengan tangan yang ingin mengetuk pintu kamar Lina.


"Kamu." Ucap Lina kaget melihat Ardi berdiri di pintu kamarnya.


Ardi tersenyum dengan wajah polosnya, menyapa Lina dengan berkata," hay. Aku cuman mau bertanya pada kamu. Toilet di mana, ya?"

__ADS_1


Lina kira lelaki itu mengintip di kamar, saat itu juga ia menunjuk kamar mandi.


"Kamu tinggal lurus saja, nanti ada pintu warna biru, itu kamar mandi bukan toilet."


Ardi menggaruk rambut kepalanya yang mungkin tidak terasa gatal, ia tersenyum tipis. Sedangkan Lina menampilkan wajah juteknya.


"Terima kasih, adik manis."


"Iya."


Lina langsung menutup pintu kamarnya dengan begitu keras. Membuat Ardi mengedipkan kedua matanya.


"Buset deh cetus amet." Ucap Ardi.


Lina membuka kembali pintu kamarnya dan berkata," kamu ngomong apa tadi."


"Oh enggak kok, adik cantik."


Mengerutkan dahi, Ardi langsung pergi dari hadapan Lina. sedangkan lina langsung menutup kembali pintu kamarnya dengan begitu keras.


Ardi mulai berjalan perlahan menuju kamar mandi, Iya tiba-tiba saja melihat sebuah bungkus kecil berwarna putih.


"Bungkus apa ini?"


Ardi semakin penasaran dengan bungkus kecil itu, ia perlahan membuka bungkus kecil itu dan mencium bau bungkus kecil itu.


semenjak datang ke rumah Haikal, Ardi menemukan sesuatu yang sangat mencurigakan di rumah Haikal. apalagi dengan gerak-gerik Lina yang begitu mencurigakan sekali, membuat rasa penasaran pada hati Ardi.


saat itu juga Ardi mulai keluar dari kamar mandi, menghampiri Haikal. ingin menanyakan sebuah obat yang ia temukan di dalam kamar mandi.


namun saat ia melihat Haikal, Lina berada di sisi Haikal.


"Kak Haikal, maafkan Lina. Lina kira kak Dinda tidak pingsan saat Lina tinggalkan di rumah," ucap Lina menampilkan wajah sedihnya.


"Sudahlah, tak usah di pikirkan Lina. Kak Dinda tidak kenapa napa ini, semua bukan kesalahanmu," balas Haikal pada Lina.


Lina mencari Kesempatan Dalam kesempitan, ia memegang tangan Haikal dan menyenderkan kepalanya pada dada bidang Haikal.


"Lina tak tahu, jika Kak Dinda lemah."


Ardi yang melihat pemandangan itu, merasa semakin curiga dengan adik dari Dinda.


"Kenapa mereka begitu dekat, perasaanku seakan tak enak pada wanita bernama Lina itu." Gumam hati Ardi.


saat itulah Ardi mulai mendekati mereka berdua.


"Hem."


Membuat Lina yang berusaha mendekati kakaknya sendiri, malu dan mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"Lelaki itu lagi, untuk apa sih dia datang ke rumah ini." Gerutu hati Lina.


"Ardi, Sorry. Gue Hampir lupa sama lu, karna syok melihat istri gue yang pingsan," ucap Haikal kepada Ardi.


Ardi tersenyum dan menepuk bahu Haikal," tenang saja. Gue paham posisi lu, kalau istri lu lagi sakit."


"Iya, sorry."


Saat itu juga Haikal langsung memperkenalkan Ardi kepada Lina," oh ya. Lina kenalkan ini Ardi teman kantor kakak."


Lina menyodorkan tangannya kepada Ardi. tatapan Lina begitu kesal terhadap Ardi, membuat Lina langsung melepaskan tangannya yang menempel pada tangan Ardi.


"Oh ya, Lina. Ardi akan menginap di rumah ini, jadi tolong kamu Siapkan kamar untuk Ardi, dia hanya menginap .'untuk malam ini saja." pinta Haikal pada Lina.


Lina masih saja menatap kearah Ardi dengan mengerutu kesal pada hatinya." Kenapa sih. Lelaki ini malah datang di saat aku ingin bermesraan dengan Kak Haikal."


"Lina." Panggil Haikal.


"Oh, iya. Kak. Kenapa?" tanya Lina menatap ke arah Haikal.


"Ayo, kenapa kamu malah melamun! Kamu terkesima melihat wajah Ardi yang tampan ini kan?" tanya Haikal, menggoda Lina.


"Eh, apa. Ya sudah Lina mau antar dulu Kak Ardi ke kamarnya," ucap Lina mengalihkan pembicaraan.


"Ayo kak Ardi, ikut Lina. Biar Lina tunjukan kamar untuk Ka Ardi tidur," ucap Lina mengajak Ardi untuk mengikuti dirinya.


"Baiklah," balas Ardi. mengikuti langkah Lina pada saat itu juga.


Lina yang berjalan, terus saja menggerutu kesal dalam hatinya. saat mengantarkan Ardi ke kamarnya.


" seharusnya Malam ini aku menjalankan aksiku untuk mendekati Haikal, tapi ternyata terhalang oleh lelaki yang bernama Ardi. Bagaimana bisa lelaki bernama Ardi ini mau menginap di sini." Gumam hati Lina.


setelah sampai.


"Ini, kak Ardi. kamarnya," ucap Lina.


Ardi baru pertama kali melihat kamar yang begitu kecil dan sempit, Ardi menelan ludah. Apakah ia akan betah di kamar yang kecil dan sempit itu.


.


Namun demi mencari suasana baru Ardi harus bisa menerima, tempat tinggal di rumah Haikal.


Ia penasaran bagaimana rasanya hidup sederhana dalam sehari.


"Oh, ya. Terima kasih adik cantik," ucap Ardi. Merayu Lina.


"Sama sama," cetus Lina.


Lina langsung pergi dari hadapan Ardi, membuat Ardi. sedikit kesal karna baru pertama kali melihat wanita sejutek Lina. Padahal Ardi selalu di dekati banyak wanita cantik.

__ADS_1


__ADS_2