
Tangan Pras kini ia hempaskan dari gengaman Alya yang terus memohon mohon, membuat Pras berkata," jika aku membunuhmu, itu tidak akan mengobati lukaku."
Pras kini mulai melangkah pergi, menjauh dari hadapan Alya. Tak ada rasa iba sedikit pun dari hati Pras untuk Alya, calon suaminya begitu egois.
"Pras, kenapa kamu pergi. Hah." Teriak Alya.
Pras tak mempedulikan teriakan Alya, ia fokus berjalan untuk pergi dari hadapan wanitanya.
"Pras, kamu pencundang." Teriak Alya.
Dengan isak tangis tak henti henti Alya, terus berteriak.
Lelaki berbadan kekar itu, menyuruh para pelayan untuk membawa Alya masuk ke dalam kamar..
"Cepat bawa wanita itu ke dalam kamar. Lalu ikat dia dengan tali tambang, oh ya sebelum kalian mengikatnya, dandanin dia hingga bersih dan wangi. Karna aku tak suka melihat penampilanya yang bersipuh darah hewan."
"Baik, tuan."
Pelayan wanita kini mulai mendekat ke arah Alya, kedua mata Alya membulat dan berkata," mau apa kalian."
"Ayo nona, sebaiknya kita mandi dan bersihkan dulu badan nona," ucap pelayan wanita mulai memegang tangan Alya.
Akan tetapi Alya mencoba menghempiskan tangan ke dua pelayan dan menjawab," lepaskan tanganku, aku tidak mau mandi, biarkan aku seperti ini."
"Tapi tuan menyuruh kami untuk segera membersihkan, Nona," ucap Kedua pelayan wanita, setengah memaksa.
"Tapi, aku tidak mau," teriak Alya. Berusaha melepaskan tangan yang mencekram erat tangan Alya.
Kedua pelayan merasa kesal dengan Alya yang begitu susah di atur, membuat kedua pelayan menyuruh pelayan lain membantu mereka.
Dengan bantuan empat orang, kini Alya mampu di bawa paksa menuju Vila, memasukki kamar yang sudah tersedia kusus untuk dirinya.
"Aku tidak mau di bawa lagi ke sini, cepat lepaskan aku sekarang juga," ucap Alya meronta.
"Sebaiknya nona menurut saja apa kata tuan, dari pada nona tersiksa," balas pelayan yang memaksa Alya masuk ke dalam kamar.
"Aku tidak peduli, aku tidak mau menuruti apa kata si Baj*n**n itu," teriak Alya.
Para pelayan sepakat membuat Alya jatuh pingsan, agar ia tak melawan terus menerus.
Saat itulah, salah satu pelayan mulai memukul bahu Alya. Akan tetapi.
"Tuan Pras."
Pelayan yang berniat memukul Alya. Kini menggurungkan niatnya saat salah satu temanya, melihat kedatangan Pras tiba tiba.
"kenapa kalian diam saja, bukanya tadi ...."
"Tuan Pras."
Para pelayan menundukkan kepala, setelah melihat Pras datang menghampiri Alya.
"Heh. Pras, kamu kasih tahu mereka. Aku bukanlah orang yang mau seenaknya menurut pada kamu," pekik Alya.
Pras memberikan kode kepada para pelayannya untuk segera pergi dan melepaskan tangan Alya.
Para pelayan itu kini pergi, sedangkan Alya terduduk di atas lantai, sembari tersenyum kecil.
__ADS_1
"Ckk."
Pras mendekat ke arah Alya, memegang dagu wanitanya dan berkata," padahal, dari tadi aku menyuruh pelayan itu segera mungkin membersihkan kamu, tapi ternyata mereka tak sigap."
"Untuk apa kamu menyuruh pelayan memandikanku, biarkan saja aku begini, agar kamu jijik," cetus Alya.
Tangan Pras mulai membuat dagu Alya menengah ke atas, membuat Alya tak nyaman.
"Sepertinya kamu susah di atur."
Kini Pras mulai melepaskan dagu Alya, " Aku bukan robot yang bisa kamu atur seenaknya."
Pras tertawa dengan apa yang di katakan Alya.
Tanpa sepengetahuan Alya, Pras tiba tiba membopong tubuh Alya. Membuat Alya tentulah kaget.
"Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku Pras," teriak Alya meronta ronta.
"Diam, suruh siapa kamu susah di atur," cetus Pras.
"kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Alya.
"Nanti kamu juga tahu sendiri!" jawab Pras.
Alya berusaha memukul mukul dada bidang Pras, untuk berusaha lepas dari pangkuan Pras.
"Cepat lepaskan aku."
Ternyata Pras membawa Alya ke kamar mandi, membuat Alya membulatkan kedua matanya.
"Apa yang akan kamu lakukan padakku, Pras. Lepaskan." Teriak Alya.
Alya tentu saja syok, dan merasa kesal.
"Kurang ajar kamu, Pras."
Melihat Alya sudah berada di redtum, saat itulah Pras, perlahan mulai membuka kancing baju Alya.
"Mau apa kamu?" tanya sinis Alya, menutup kacing bajunya segera mungkin.
"Aku akan memandikan kamu sekarang juga, agar kamu wangi dan bersih!" jawab Pras.
"Tak usah, aku bisa sendiri," ucap cetus Alya.
Pras tetap saja duduk di atas lantai, sembari menatap Alya penuh cinta," ngapain kamu masih di sini."
"Hey, aku juga belum mandi," balas Pras.
"Ya sudah biar aku saja dulu yang mandi," ucap Alya secara tidak langsung mengusir Pras.
Pras malah berdiri, mulai membuka kancing bajunya.
"Mau apa kamu?"
"Ya, mandi sekarang lah! Biar kita mandi bareng."
Alya membulatkan kedua matanya. Mendengar Pras berucap.
__ADS_1
"Aku tidak mau."
Kini Alya mulai bangkit untuk segera pergi dengan ke adaan basah kuyup.
Saat itulah Pras menarik tangan Alya, membuat mereka saling bertatap muka.
"Kamu mau ke mana?" tanya Pras.
"Aku mau ke luar dari kamar mandi ini!" cetus Alya.
"Tapi kamu basah kuyup. Gimana kalau kita mandi bareng dulu, biar kamu enggak ke dinginan," ucap Pras menggoda.
"Aku tidak sudi," cetus Alya.
Wanita itu kini melepaskan tangan Pras, untuk segera ke luar dari kamar mandi.
Namun, saat pintu kamar mandi itu di buka. Betapa kesalnya Alya.
"Sial, pintunya di kunci."
"Kenapa, Alya sayang?"
Alya membalikkan badanya, melihat ke arah Pras dan berkata." jangan mendekat."
"Kenapa?"
Pras malah semakin sengaja mendekat ke arah Alya, "Hentikan langkah kakimu, atau aku akan ...."
Pras tak mempedulikan ocehan Alya, ia tetap saja berjalan mendekat dan semakin dekat pada Alya. Hingga membuat Alya berusaha mendorong tubuh Pras.
Akan tetapi saat tanganya mulai mendorong tubuh Pras, tiba tiba Alya terjatuh karna lantai yang sangat licin, membuat Pras dengan sigap menahan tubuh wanitanya.
"Apa aku bilang, kamu pasti akan kembali lagi kepelukkanku," ucap pelan Pras pada telinga Alya.
Alya dengan posisi memeluk Pras, kini mencoba menghindar, akan tetapi Pras menahan tubuh Alya agar menempel denganya.
"Lepaskan aku Pras."
"Biarkan saja seperti ini, ini sangat hangat sekali."
Alya mulai berusaha menyingkir, akan tetapi pelukan Pras begitu erat. Membuat Alya tak bisa lepas.
"Sudah begini saja, ini sudah hangat." Ucap Pelan Pras pada telinga Alya.
Memang apa yang di rasakan Alya sama seperti Pras, begitu hangat. Membuat rasa hati berdesit.
Tok .... Tok .... Tok ....
Ketukan pintu beberapa kali terdengar oleh telinga Pras, membuat ia kesal.
"Pras, cepat lepaskan aku, aku ingin mandi saat ini juga."
Pras kini mulai melepaskan pelukkan Alya, " cepat kamu mandi."
Pras melangkah maju untuk ke luar dari kamar mandi, membuat Alya berdecak kesal," tadi aja mesra, sekarang kaya orang gila. Dasar aneh."
Alya kini mulai membersihkan badan dan juga bekas darah yang menempel pada wajah dan juga tubuhnya.
__ADS_1
Darah itu begitu bau ayir dan membuat Alya ingin muntah saat membersihkanya.