
#Kau_Buang_Istrimu_Seperti_Sampah_Ku_Pungut_Dia_Seperti_permainsuri
#judul#Dia_Anugrah_Terindahku
Bab 7
Pak Hasan membuat lamunanku seketika membuyar, ia menepuk pundak ku seraya berkata." Jangan Di lamunin kalau jadoh enggak bakal kemana-mana."
"Ya elah Pak Hasan bisa aja," ucapku. Terseyum tipis.
Kami melanjutkan perjalanan untuk menarik angkot, mencari penumpang. Ternyata angkot Pak Hasan begitu ramai, semua ibu-ibu berdatangan ingin menaiki angkot Pak Hasan.
Mereka malah ingin berpoto denganku, sampai ada yang menatapku seakan tak berkedip. Sampai mencolek tanganku.
"Angkot bapak banyak penumpangnya, kayanya liat aden deh. Yang ganteng ini," ucap Pak Hasan membuat aku terkekeh ketawa.
"Ya elah, Pak Hasan bisa aja!" jawabku.
"Beneran den, kalau bapak punya anak cewek tak jodohin sama aden. Tapi sayangnya anak bapak cowok semua," ucap Pak Hasan.
Aku yang mendengarnya terkekeh ketawa, ada-ada ajah Pak Hasan ini. Membuat tawaku sampai tak berhenti.
"Ngomong-ngomong, aden ganteng ini punya pacar enggak?" tanya Pak Hasan. Saat menghitung uang pendapatan hari ini.
"Belum Pak!" jawabku yang menatap ke arah bawah tanah. Yang memang terlihat kering karna terik matahari yang begitu menyegat membuat tanah seakan retak.
"Masa si, sebelumnya udah pernah punya pacar?" tanya Pak Hasan yang masih penasaran. Rutinitas menghitung uang pendapatan ia hentikan, seakan penasaran dengan ceritaku.
"Mau pacaran gimana pak, aku sibuk ngurisin emak yang sudah tua. Belum lagi kegiatan kuliah, sampai aku lupa namanya wanita," ucapku. Menundukan pandangan, menulis-nulis di tanah dengan batu kecil.
"Terus, emak aden sama siapa sekarang?" tanya Pak Hasan.
"Emak sekarang sendiri di rumah. Awalnya saya enggak tega ninggalin emak, cuman karna emak maksa. Katanya demi kebaikan saya turutin, dari pada emak terus ngoceh," ucapku. Membuat bulir bening Pak Hendra seketika mengalir.
"Yang sabar ya den, emak aden mungkin ingin yang terbaik untuk diri dan masa depan aden," ucap Pak Hasan. Membuat aku hanya menganggukan kepala, pasrah dengan semua keadaan.
Bertekad bulat, membawa kesuksesan pada emak saat pulang nanti. Sampai emak terseyum dan bangga dengan kerja kerasku.
"Maaf, apa bisa nganterin saya ke jalan mangga dua kertasinaja," ucap sosok wanita dihadapanku.
Menatap ke arah suara wanita itu, ternyata itu adalah Dinda.
"Dinda," ucapku berdiri dihadapan wanita yang tengah menyoren sebuah tas besar.
"Bapak lagi, kenapa bapak bisa ada di sini. Bukanya ...."
Aku segera memotong pembicaraan wanita berhidung pesek itu.
"Aku sudah di pecat dari kantor, dan sekarang menjadi kenek angkot!"
"Kenapa bisa?"
"Entahlah! Kamu mau kemana? Membawa tas besar? Dimana suamimu?"
__ADS_1
Dinda yang mendengar perkataanku ia, langsung mengalihkan pembicaraan. Bertanya pada Pak Hasan.
"Pak supir bisa antarkan saya?" tanya Dinda pada Pak Hasan, aku yang dari tadi berdiri bertanya padanya. Malah membiarkan aku dalam seribu jawaban, ia seakan tak memperdulikan perkataanku.
"Bisa neng, ayo naik!" jawab Pak Hasan.
Aku semakin yakin pada Dinda, ada yang ia sembunyikan hingga ia berlagat sok mengabaikan.
Dengan penuh keberanian, aku menarik lengan tangan nya. Membuat dia mentap kearah wajahku. Menatap serius pada wajahnya seraya berkata," aku tahu suamimu sering melakukan tidak kekerasankan?"
Pak Hasan yang mendengar perkataanku langsung tertohok kaget.
Kedua mata Dinda terlihat berkaca-kaca, ia seakan ingin mengatakan sesuatu. Tapi ragu, hatinya seakan di penuhi rasa ketakutan.
"Dinda, jangan takut bicara lah padaku. Mungkin aku bisa membantumu?
Kedua matanya membulat menatap tajam kearah wajahku. Mata yang berkaca-kaca kini mulai meneteskan bulir bining air mata secara perlahan.
Aku melihat wanita di hadapanku, seakan mempunyai beban yang sangat lah berat. Membuat dia harus menahan semuanya.
"Maaf, tolong lepaskan lengan tangan saya," ucap Dinda. Tangan kanannya mulai mengusap pelan bulir yang hampir jatuh mengenai pipinya.
"Aku tidak akan melepaskan tanganmu, setelah kamu berkata sebenarnya," ucapku, Yang sedikit bernada tinggi.
Dinda melepaskan tanganku. Namun aku mencoba menekan jawabannya.
Ia turun dari mobil, menujuk pada dada bidangku seraya berkata," apa urusanmu. Semua lelaki sama mereka keji, jahat."
"Terserah kamu, jadi jangan halangi saya untuk pergi. Apa peduli kamu pada saya, kamu bukan keluarga atau pun saudara saya jadi jangan terlalu ikut campur urusan saya," hardik Dinda. Ia benar-benar begitu marah.
"Dinda, aku memang bukan kerabat kamu. Tapi asal kamu tahu, aku ingin membantu kamu," ucapku dengan nada sedikit kesal.
Wanita di hadapanku begitu keras kepala, rela menderita sendiri.
"Aku akan bantu kamu percaya lah," ucapku mengulur tangan pada wanita bermata bulat itu.
Wajahnya yang menunduk kini mengangkat sedikit kearah wajahku. Aku melihat bulir bening air mata itu mengalir begitu saja.
Rasanya tangan ini ingin sekali mengusap tetasan air mata yang sudah mengenai pipi cumby nya.
"Sekarang kamu mau kemana?" tanyaku.
"Entahlah, saya juga bingung. Sebenarnya saya sudah tidak punya keluarga, saya bingung harus pergi kemana?!" jawabnya.
Dinda menagis lagi. Rasanya aku tidak kuat melihat air mata wanita yang mengalir.
Masih ada kah lelaki yang mau menyakiti hati wanita, hingga menyiksa fisiknya.
Lelaki macam apa seperti itu, dimana hati nurani mereka. Padahal wanita sudah susah payah mengandung melahirkan dan membesarkan anak-anaknya hingga bertubuh besar. Sekarang lelaki seenaknya menyakiti hati wanita, tanpa berpikir jerni.
Mengusap kasar wajahku, air mata tak terasa mulai ke luar dari pelipih mataku. Ingin rasanya ku peluk wanita di hadapanku, menenangkan semua beban yang ia rasakan.
Ahk, apa daya aku bukan bagian dari hidupnya dan juga keluarganya. Andai saja kalau Dinda di buang di campakan seperti ini, akan aku pungut dia seperti permainsuri yang meraskan indahnya cinta dari seorang lelaki dan kasih sayang. Tak akan ku sia-siakan wanita secantik dan sesabar dia.
__ADS_1
"Sekarang kita laporin semuanya ke kantor polisi agar suamimu itu. Di penjara," ucapku begitu mudahnya.
Dinda malah diam, ia benar-benar ketakutan sekali.
"Kamu jangan takut, polisi akan menuntaskan semuanya," ucapku menyakinkan Dinda.
Wanita bermata lentik itu malah, mengeleng-gelengkan kepala seraya berkata." Jangan, suamiku bukan orang biasa."
"Maksud kamu?" tanyaku yang masih penasaran.
"Dia bisa menghalangkan berbagai cara, dengan apapun. Dia bukan lelaki sembarangan!" jawabnya. Dengan tangan gemetar.
Tanganku rasanya gatal ingin sekali memegang erat, tanganya yang gemetar karna ketakutan.
"Yakin padaku, demi kebaikanmu. Polisi pasti bisa menuntaskan semuanya," ucapku penuh keyakinan.
Dinda seakan tak yakin dengan rencanaku, ia tetap melarang aku untuk melaporkan semuanya.
"Ayolah Dinda, kita ke kantor polisi. Kamu jangan jadi wanita bod*h yang menunggu keajaiban datang. Di dunia ini kalau kita tidak bertindak, tidak akan ada keajaiban datang dengan percuma," ucapku.
"Oh, sekarang kamu ada di sini Dinda. Kabur dengan lelaki lain," ujar sosok seorang lelaki bertubuh kekar. Menghampiri kami berdua.
Aku memberi kode lewat mata ke arah Pak Hasan agar bersebunyi di angkot. Aku takut Pak Hasan terkena masalah ini.
"Bang Burhan, semua tidak seperti apa yang abang pikirkan," ucap Dinda. Lelaki itu menarik paksa lengan tangan Dinda.
"Jangan kamu tarik kasar dia," hardikku. Menghampiri lelaki bertubuh kekar dan berotot itu.
Lelaki itu malah mentertawakan aku, seraya mececar," Apa mau lu. Kerpeng."
Astaga lelaki ini menyebut ku, kerempeng dia tidak tahu ya. Begini-begini jago bela diri.
"Dari pada lu botak," sindirku. Semua nampak terasa panas. Hati pikiran, seakan menyatu membuat emosi menjiwa.
Dia menepuk kedua tangannya memanggil teman-temananya. Lelaki itu, ternyata tak sendiri ia membawa teman-temannya untuk melawanku.
Dinda berteriak kepadaku," lari pak. kamu tidak akan bisa melawan mereka."
Dinda memohon-mohon kepada suaminya dengan bertekluk lutut, agar tidak memukuli ku. Tapi lelaki itu malah, menarik rambut panjang Dinda yang terikat. Hingga wanita itu menahan sakit.
"Lepaskan dia, apa kamu gila. Dia adalah wanita," hardiku.
"Dia wanita, dia tak lain adalah sampah," cecarnya sembari tertawa. Memegang pipi Dinda begitu erat. Mencengkram begitu kuat.
Dia benar-benar keterlaluan sekali. Akal sehatnya sudah di kuasai dengan amarah yang menggebu.
Lelaki itu melepaskan Dinda membanting tubunya ke tanah seraya memberi dua jawaban." Ikut denganku pulang. Atau kamu pergi bersamanya, dan tentunya dia akan mati di tanganku."
"Aku ikut denganmu Bang!" jawab Dinda.
Aku segera menghampiri dia, namun di tepis oleh dua lelaki yang tiba-tiba menghajarku.
Mereka begitu banyak, membuat aku kewalahan menghajar mereka.
__ADS_1