
Alya kini membantu pras membukakan pintu mobil, membuat Pras dengan mudahnya meletakan Sisil.
Dengan tergesa gesa, Pras langsung masuk ke dalam mobil, menancabkan gas mobil dan pergi ke rumah sakit.
"Ahk. Sakit ...."
Terdengar suara Sisil menjerit kesakitan, membuat Alya sedikit panik.
"Kamu tahan dulu ya, kami akan mengantarkan kamu ke rumah sakit secepatnya."
@@@@
sedangkan di rumah sakit, Bu Tia kini terbangun dari pingsannya, ia melihat ke ranjang tempat tidur anaknya.
"Sisil, ke mana dia?"
Bu Tia tampaklah panik, dirinya tak melihat Sisil tidur dirancang rumah sakit.
membuat pelayan pengantar makanan itu terbangun, pelayan itu memegang kepalanya yang terasa sakit akibat pukulan yang dilayangkan oleh Sisil.
"Kepalaku sakit."
sampai di mana pelayan itu melihat dirinya yang tak memakai baju, iya tampaklah kaget dengan penampilannya yang hanya memakai kain dalam saja.
"Bajuku ke mana?"
pelayan pengantaran makanan itu tidak melihat bajunya di ruangan pasien. Iya hanya melihat baju pasien tergeletak tak jauh dari hadapannya.
dengan terpaksa pelayan itu mengambil baju pasien dan langsung memakaikan baju itu pada dirinya.
"Sisil. Di mana kamu."
Bu Tia tampaklah panik ia mencari keberadaan Sisil hingga ke toilet ruangan rumah sakit, akan tetapi Bu Tia tak menemukan keberadaan anaknya sendiri.
Bu Tia menatap ke arah pelayan yang memakai baju pasien dengan terburu-buru, ia mencurigai jika anaknya kabur dengan memakai baju pelayan pengantar makanan.
"Sisil kamu kabur nak."
Bu Tia tanpa lah khawatir dengan keadaan anaknya yang belum sembuh total.
__ADS_1
Bu Tia, berusaha keras mencari keberadaan anaknya Yang mungkin menurut dirinya masih di sekeliling rumah sakit.
pelayan makanan itu kini berpamitan kepada Bu Tia, dengan pakaian pasien yang selalu dikenakan Sisil.
'Saya permisi dulu, saya mau menganti pakaian saya."
"Mbak. Maafkan kelakuan anak saya."
pelayan itu hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum kecil, hatinya merasa tak ikhlas dengan apa yang dilakukan pasien di ruangan yang baru saja ia antarkan makanan.
Bu Tia kaget dengan apa yang ia lihat, saat dirinya berjalan keluar. Iya melihat seorang lelaki turun dari mobil dengan membawa seorang gadis yang sama persis dengan wajah anaknya.
"Apa itu Sisil?"
Bu Tia Yang penasaran, ini langsung menghampiri lelaki yang membopong gadis yang persis dengan anaknya.
para suster yang dengan sigap membawa gadis itu ke ruangan UGD, membuat boot ya terlambat melihat wajah gadis itu.
dengan rasa khawatir, Bu Tia tak pantang menyerah, wanita tua itu langsung bertanya kepada lelaki yang membopong sorang gadis yang begitu sama persis dengan wajah anaknya.
lelaki itu duduk dengan perasaan kuatir, ditemani dengan seorang wanita yang terus bertanya.
"Maaf, Mas apa saya boleh tahu, gadis itu siapa namanya? Kenapa dengan dia?"
penjelasan lelaki itu membuat Bu Tia yakin jika yang dibawa lelaki itu adalah anaknya.
"Apa ibu mengenal gadis yang saya bawa ke rumah sakit?"
"Ya, dia anak saya! Yang baru saja kabur, hanya karna ingin menemui seorang lelaki tua yang selalu memenuhi keinginannya!"
Jawaban yang terlontar dari mulut Bu Tia membuat Pras menduga, jika Pak Anton adalah kekasih gelap Sisil, karna setelah Pras mengenal Bu Maya. Pras sering melihat Pak Anton membawa Sisil jalan jalan. Le Mall dan cafe.
"Oh ya, Terima kasih ya anak muda kamu sudah menolong anak ibu, jika tidak ada kamu entah apa yang akan terjadi dengan anak ibu."
" Iya Bu tidak apa-apa, sebagai seorang manusia kita harus saling tolong menolong. apalagi keadaan anak ibu sudah kritis, jadi sepatutya Saya menolong anak ibu dan segera mungkin membawa anak ibu ke rumah sakit."
Bu Tia merasa lega, pada akhirnya anaknya ditemukan oleh seorang lelaki yang begitu baik dan juga ikhlas menolong Sisil.
Pras yang tak bisa berlama-lama di rumah, saat itu pamit kepada Bu Tia untuk segera pulang.
__ADS_1
"Bu, saya mau pamit pulang dulu. karena Kebetulan saya ada urusan mendadak."
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya nak. terima kasih sekali lagi karena kamu sudah menolong anak ibu."
" Iya tak apa-apa, mudah-mudahan anak Ibu segera mungkin cepat pulih."
"Amin, terima kasih nak."
Pras ini berjalan begitu cepat untuk Segera menaiki mobil, sedangkan alias sedikit kewalahan mengikuti langkah Pras yang terlalu cepat bagi dirinya.
setelah sampai di dalam mobil, Pras dengan segera mungkin menyalahkan mesin mobil.
Di dalam perjalanan menuju pulang. Pras bergumam pada hatinya sendiri.
"Sisil, padahal ke marin dia mengancamku karna aku sudah membuat ke rusuhan di rumah Pak Anton Dengan mengirim seorang wanita untuk membuat Lina sedikit gila dan trauma."
senyuman sinis Pras, membuat Alya kini bertanya," Kenapa kamu senyum-senyum begitu, ada yang kamu pikirkan atau kamu bayangkan?"
Pras mengangkat kedua alisnya, menatap ke arah Aulya wanita yang ia cintai, memberikan Satu Senyuman hebat di hadapannya.
"Ya, aku membayangkan bagaimana nanti indahnya pernikahan kita yang akan di gelar mewah."
Alya melayangkan Satu Senyuman palsu untuk lelaki yang berada di sampingnya, bukannya senang dengan ucapan yang terlontar dari mulut Pras, Alya malah mengerutu kesal," hah. Kalau saja Pras tak merenggut ke sucianku, aku tak sudi menikah dengan dia. Mana mungkin aku harus menikah dengan orang yang tidak aku cintai."
"Alya, Bagaimana kalau nanti sebelum pulang ke rumah, kita mampir dulu ke sebuah restoran untuk sekedar makan siang."
"Ide yang bagus, kebetulan perutku ini sedikit terdengar keroncongan."
di dalam perjalanan Alya masih memikirkan wajah gadis yang menjadi calon istri Ardi. Iya begitu cemburu dengan wanita itu. Bagaimana mungkin Ardi mencintai seorang wanita yang terlihat tomboy dan tak cantik seperti Alya.
Kenapa tiba-tiba saja selera Ardi begitu berubah drastis. semenjak Alya meninggalkannya ke luar negeri.
Pras yang terus memanggil nama Alya di dalam mobil, membuat Pras memukul pelan tangan Alya.
Alya terkejut, lamunannya seketika membayar saat pukulan kecil dilayangkan oleh Pras kepada dirinya.
"Kenapa, Pras."
"Kamu melamun. Apa yang tengah kamu pikirkan?"
__ADS_1
" Siapa yang melamun, dari tadi aku nggak hanya fokus melihat jalanan."
" aku tahu Alya, pasti kamu tengah memikirkan calon istri Ardi yang masih begitu muda dan berpenampilan tomboy, tidak seperti kamu yang cantik dan juga preminim." Gumam hati Pras. Sekilas menatap pada wajah Alya yang terlihat murung.