Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 86


__ADS_3

Saat itulah Dinda mulai berucap serius lagi kepada Ardi," jadi itu jaminan dan keseriusan kamu?"


"Ya, ini bukti cintaku pada Lina!" jawab Ardi menatap ke arah Lina. Yang hanya bisa menundukkan pandangan.


Brakkk ...


Dinda tiba tiba saja memukul meja ruang tamu, membuat Lina dan yang lainnya kaget bukan main.


"Kakak ini, apa apaan sih?" tanya Lina pada sang kakak.


"Kakak senang Lina , karna ternyata Ardi akan menikahi kamu!" jawab Dinda. Menatap Lina dengan wajah bahagia.


Ardi yang mendengar ucapan Dinda langsung bertanya?" jadi kakak setuju dengan Ardi yang akan menikahi Lina."


Dinda menganggukan kepala dan menjawab!" ya saya setuju."


Ardi tersenyum senang, ia mulai menghampiri Lina dan berusaha memeluk Lina. Hanya saja Dinda langsung mendorong tubuh Ardi hingga duduk di kursi.


"Kalian bukan muhrim, jangan coba coba." Tegas Dinda.


Kedua insan itu saling menundukkan pandangan. Haikal yang mendengar semua itu merasa senang dan bahagia. Walau hatinya entah kenapa merasa ragu.


Lina berusaha menerima semua keputusannya, walau dengan hati terpaksa. Ia berusaha menerima orang yang akan menikahinya dan mencintainya dengan tulus.


"Oh ya, Kakak mau tanya tentang keluarga kamu?" Tanya Dinda.


Hati Ardi mulai merasa tak enak, saat Dinda bertanya tentang keluarga. Membuat Ardi malas untuk membahas masalah keluarganya yang tak pernah selesai.


"Kenapa Ardi, kenapa kamu malah diam. Saat saya bertanya tentang keluarga kamu?"


Haikal, tahu akan masalah yang di hadapi Ardi begitu berat, apalagi mengenai masalah keluarga. Yang di mana ibunda Ardi dan juga Ayah handa Ardi yang tak pernah akur. Membuat Haikal takut akan berdampak pada pernikahan Lina dan Ardi.


Ardi tetap saja diam, ia tak menjawab pertanyaan Dinda. Mengepal kedua tangan merekat erat. Air mata Ardi tiba tiba keluar perlahan.


"Ardi, saya tanya loh sama kamu? Kenapa kamu malah diam saja?"


Pertanyaan Dinda, membuat Haikal berdiri dan kini menarik tangan sang istri.


"Sayang, ada yang mau aku bicarakan sama kamu."


Dengan terpaksa Dinda ikut perkataan suaminya, Haikal membawa Dinda masuk ke dalam kamar dan berkata." Sebaiknya kamu jangan membahas keluarga Ardi, kemarin kan aku sudah cerita. Keluarga Ardi ...."

__ADS_1


Belum perkataan Haikal terucap semuanya, Dinda langsung memotong pembicaraan suaminya." Mas. Bagaimana pun, kita berhak tahu tentang keluarganya, dan masalah keluarganya itu urasan dia. Aku hanya ingin tahu dari mulutnya bagaimana dengan keluarganya apa keluarganya mau menerima Lina?"


"Ya, tapi tidak saat situasi seperti ini!" jawab Haikal.


Haikal bingung menjelaskan semuanya, saat itulah Dinda ke luar dari kamarnya. Membuat Haikal langsung memegang tangan Dinda.


"Dinda tunggu."


"Apa lagi sih mas, ini situasi yang tepat. Yang di mana kita akan tahu tentang keluarga Ardi," ucap Dinda.


"Tapi."


Dinda menghempaskan tangan Haikal, ia segera ke luar untuk menemui Ardi yang masih duduk di kursi ruang tamu.


Haikal tak bisa menahan sang istri, ia berdiam diri di dalam kamar. Duduk di ranjang tempat tidur.


"Dinda, kenapa kamu tidak bisa mengerti situasi orang sih." Gumam hati Haikal.


Ardi masih duduk, dengan menahan rasa sesak. Lina yang tak jauh dari kursi tempat duduk Ardi mulai bertanya dengan mengusap pelan bahu Ardi.


"Sebenarnya kenapa dengan kamu Ardi?" tanya Lina. Ardi masih menundukkan kepala.


Lina kaget melihat, pipi Ardi sudah basah dengan air mata. Membuat tangannya perlahan mengusap pelan air mata itu dan berkata," apa yang kamu tangisi, Ardi?"


Tangan lembut Lina membuat rasa nyaman pada hati Ardi, membuat Ardi meraih tangan Lina dan mengecupnya pelan.


Kedatangan Dinda, mengagetkan Lina, membuat Lina menatap ke arah kakaknya dan menyingkir dari hadapan Ardi.


"Mm."


Ardi kini menundukkan kepala, sedangkan Dinda mulai duduk dan meneruskan pertanyaanya.


Haikal yang masih berdiam diri di dalam kamar, mulai bergegas berjalan menghampiri Ardi dan yang lainnya di ruang tamu.


"Ardi, aku tanya sama kamu sekali lagi?" tegas Dinda.


Lina yang tak tega dengan Ardi, mulai berucap pada sang kakak." kak, bisa tidak pertanyaan di ganti dengan pertanyaan yang lainnya!"


"Diam kamu Lina, ini urusan kakak. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang seharusnya di jawab oleh Ardi karna ini penting sekali untuk masa depan kalian berdua." Ucap tegas Dinda.


Lina terdiam, tak lagi membantah pertanyaan kakaknya.

__ADS_1


Haikal datang kembali lagi mendekat ke arah Ardi, membuat Lina langsung membentak Suaminya.


"Kalian ini gimana sih, kenapa kalian malah menghalangi halangi kakak untuk bertanya tentang keluarga Ardi," bentak Dinda pada mereka berdua.


Saat itulah, Ardi mulai menahan Haikal untuk tidak terus membelanya.


"Kakak Dinda, sebenarnya kaluarga saya sudah tak utuh."


Deg ....


Dinda seakan merasa menyesal, tapi ia mencoba menahan semua rasa kasihannya agar tahu selak beluk Ardi." Apa keluargamu mengetahui semuanya. Kalau kamu akan menikahi Lina."


"Tidak, ini mendadak. Saya belum memberitahu mereka berdua, karna ibu saya ...."


Lina mulai memotong pembicaraan Ardi dengan berkata," sebenarnya yang pertama merencanakan pernikahan ini adalah aku kak Dinda."


"Maksud kamu apa Lina?" tanya Dinda.


Ardi mulai menahan Dinda agar tidak berucap." sudah Lina."


"Tidak Ardi, kak Dinda harus tahu yang sebenarnya." Ucap Lina.


" sebenarnya apa yang sedang kalian sembunyikan, kenapa kamu malah berkata seperti itu, Lina?" tanya Dinda.


"Aku menikah karna, aku sudah ingin pindah dari rumah ini. Rumah ini sempit kumuh dan tak nyaman," pekik Lina berbohong.


Ardi hampir saja menutup mulut Lina jika apa yang di katakan Lina sebenarnya akan melukai lagi hati kedua kakak mereka.


"Lina, kamu ...."


"Sudahlah kak, aku tidak mau menjadi wanita munafik jadi aku ingin cepat menikah dan jauh dari kesederhanaan seperti sekarang." hardik Lina.


Dinda semakin pusing dengan penjelasan yang terlontar dari mulut adiknya. Saat itu juga ia langsung berucap pada Ardi." besok kamu bawa saja kedua orang tua kamu ke sini. Agar kita bisa menentukan tangal pernikahan kamu dan Lina."


Ardi hanya menganggukkan kepala, apa bisa Ardi membawa ke dua orang tuanya ke rumah Dinda dan juga Haikal yang terbilang hanya kontrakan kecil.


Karna kedua orang tuanya yang mempunyai kekayaan. Sedangkan Lina hanya seorang adik dari Dinda yang terbilang keluarga sederhana.


Ardi mulai berpamitan pada Dinda dan Haikal untuk segera pulang, dan menyampaikan pesan pada kedua orang tua mereka untuk besok datang ke rumah Dinda dan Haikal.


Lina langsung mengantarkan Ardi menuju mobil, membuat kekuatiran pada hati Lina karna wajah Ardi begitu terlihat cemas.

__ADS_1


__ADS_2