
"Selamat ya pak," ucap dokter tersenyum pada Ardi.
Lelaki berbola mata hitam, mengerutkan dahi heran dengan kata kata selamat.
"Maksud dokter?" tanya Ardi.
"Istri bapak hamil!"
Deg ....
Hamil.
Kata kata itu membuat relung hati Ardi seakan retak, setelah mendengar apa yang di katakan sang dokter. Bagaimana mungkin Lina bisa hamil? Sedangkan Ardi tak pernah sedikitpun menyentuh gadis manis bermata sipit dengan rambut pendek lurus.
"Pak?"
Dokter mulai membuat lamunan Ardi seketika membuyar, ia mengusap kasar wajahnya dan berkata," ya. Dok."
"Saya permisi dulu, untuk menangani pasien lain," ucap sang dokter.
Ardi masih di ambang kebingungan, dengan apa yang dikatakan dokter. Ia seakan tak percaya dengan ucapan dokter yang baru saja keluar dari ruangan Lina.
"Apa mungkin mereka melakukan semua itu, tanpa aku tahu?"
Pikiran Ardi semakin kacao, ia seakan tak bisa mencerna lagi akal sehatnya. Menjambak rambut, merasakan rasa pusing dan kesal.
Pelayan menghampiri sang majikan dan bertanya?" Apa tuan sakit?"
"Mm, saya tidak kenapa - napa!"
Rasa malas ingin menemui Lina, membuat ia menyuruh pelayan menghampiri Lina terlebih dahulu di ruangan.
"Kamu temui, wanita itu di dalam ruangan sekarang."
Sang pelayan menunjuk dirinya dengan tangan, seakan heran dengan apa yang dikatakan sang majikan.
"Saya tuan, masuk ke ruangan?"
__ADS_1
Ardi yang sudah di landa kemarahan, tanpa sadar membentak pelayannya," IYA SIAPA LAGI, KALAU BUKAN KAMU."
Tangan pelayan itu bergetar ketakutan, membuat ia membalikkan badan dengan segera masuk ke dalam ruangan Lina.
sedangkan Ardi hanya menunggu di luar rumah sakit. Entah kenapa dengan lelaki yang akan menjadi calon suami Lina. ia terlihat begitu tak mau menghampiri Lina yang terbaring sakit di ranjang rumah sakit.
pelayan yang sudah menunggu dari tadi, membuat Lina terbangun dengan memegang kepalanya yang terasa sakit, menatap ke arah lelaki yang berdiri di sampingnya. Lina mengira jika lelaki itu adalah Ardi, calon suaminya. Namun ternyata yang berdiri di sampingnya hanyalah seorang pelayan.
pelayan lelaki itu kini membantu Lina untuk duduk di ranjang tempat tidur.
" Kenapa denganku? kenapa aku ada di rumah sakit?"
Lina terlihat panik, saat melihat ke sana ke mari.
"saya menemukan Nona di depan pintu kamar tuan Ardi."
"Ke mana dia sekarang?"
" Tuan Ardi berada di depan. Entahlah Nona, Tuan Ardi malah menyuruh saya menemui nona!"
"Bagaimana kalau sekarang saya panggilkan Tuan, untuk masuk ke dalam ruangan menemui nona?"
Lina ingin sekali Ardi datang ke dalam ruangannya, akan tetapi dia juga tak mau. Jika ia menyuruh pelayan untuk Ardi datang ke ruangannya. Lina takut di mana Ardi malah menolak permintaan Lina untuk menemui dirinya.
"sebaiknya jangan panggil dia, kamu temanin saya dulu saja di sini."
"baik Nona, apa Nona Butuh sesuatu yang bisa saya ambilkan?"
"Tidak usah. saya tidak perlu apa-apa, saya hanya ingin beristirahat sebentar."
"Ya sudah kalau memang Nona mau beristirahat. Saya mau pergi untuk menemui Tuan kembali."
Lina tak menjawab perkataan pelayan yang berpamitan kepadanya untuk menemui Ardi, ia kini membaringkan tubuh dengan rasa sesak di dalam dada. Hatinya benar-benar rapuh dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini, padahal itu bukan keinginan Lina. Waktu yang membuat Lina dan Haikal tiba-tiba saja Terperangkap Dalam fitnah.
Air mata kini jatuh dari kedua mata Lina secara perlahan, tangan lembutnya mengusap pelan air mata itu." Kenapa air mataku terus mengalir. Ya Tuhan rasanya sesak sekali saat ini."
di ruangan yang begitu besar, Lina tertidur sendirian. Tanpa salah satu orang menemani dirinya, ia rindu akan dekapan Dinda kakaknya yang sudah meninggal, ia Rindu akan bercerita kepada sang kakak tentang apa yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
air mata yang tadinya jatuh secara perlahan, kini terus berderai membuat suara isakan tangis pada mulut Lina.
"Kakak. kenapa Kakak pergi meninggalkan Lina sendirian di dunia ini? Lina sangat membutuhkan kakak."
sedangkan pelayan yang baru saja berpamitan untuk menemui Ardi, kini keluar dari ruangan Lina. Melihat Ardi yang tengah duduk dengan wajah gelisah, segera mungkin menghampiri pelayannya dan bertanya," Bagaimana keadaan calon istriku, apa dia baik-baik saja?"
" Saya lihat dia sudah agak baikan tuan, hanya saja Nona sedang beristirahat."
"apa dia mengatakan sesuatu?"
"Tadi ia bertanya tentang tuan, sampai di mana saya menawarkan untuk memanggil Tuan masuk ke dalam ruangan kepada Nona Lina, akan tetapi Nona Lina menolak dengan beralasan ia ingin beristirahat dan tidur untuk menenangkan pikirannya."
"Mm. Baiklah."
Ada rasa penasaran pada hati Ardi, akan tetapi ada rasa benci pada Lina. karena mendengar dokter yang berkata bahwa Lina hamil tanpa Ardi tahu.
"Jika, tuan ingin menemui Nona Lina, temui saja Nona Lina. ia tengah berbaring tertidur."
Dengan rasa amarah yang masih menggebu pada hatinya, Ardi kini mulai memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan calon istrinya. Iya melihat Lina menyampingkan tubuhnya dan terdengar isak tangis yang tak biasa dari telinga.
Lina menangis?
Perlahan langkah kaki Ardi semakin mendekat pada hadapan Lina, rasanya ia ingin sekali mendekap dan memeluk seseorang yang sudah membuat dirinya jatuh cinta kembali, tapi apa daya hatinya sekarang sudah hancur akan perlakuan dan pengkhianatan yang ia lihat di depan matanya sendiri.
Bagi Ardi itu semua terlalu menyakitkan, lebih sakit daripada ditinggalkan Alya Cinta Pertamanya dulu.
Tangan kekar Ardi mulai menyentuh rambut pendek yang begitu terlihat lurus. Hingga di mana isak tangis terdengar kembali dari mulut Lina.
" Kak Dinda kenapa Kak Dinda meninggalkanku sendirian di sini aku ingin ikut dengan Kak Dinda."
Begitu tertekannya Lina dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya, ia terus memanggil-manggil nama sang kakak yang sudah tiada. membuat hati Ardi sedikit iba.
"Kak Dinda, apa aku harus bunuh diri agar bisa menyusulmu di alam sana. Aku rindu padamu Kak aku tidak mau hidup dalam derita ini."
Ardi mulai mengurungkan niatnya untuk mengusap pelan rambut calon istrinya, ia kembali melangkah memutar balikan badan untuk pergi dari ruangan Lina. air mata sudah tak terbendung lagi pada akhirnya Ardi menangis menahan rasa sesak di dalam dada.
" Apa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus menikah walau dia tengah hamil dan sudah menghianatiku dengan Haikal?" Pekik Ardi pada dirinya sendiri.
__ADS_1