Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 224 Rencana Nining dan Lina


__ADS_3

Hati Nining masih merasa tak karuan, saat ia berdekatan dengan Ardi. Walau hanya beberapa jengkal.


Tanpa di sadari mobil Ardi berhenti, sedangkan Nining masih menatap ke arah Ardi tanpa berkedip.


"Kenapa?"


"Eh, enggak!"


"Ayo turun."


"Iya."


Nining kini dibukakan mobil oleh Ardi, terlihat wajah Ardi yang begitu berseri. Membuat Nining tak henti menatap wajah tampannya.


"Kenapa?"


Nining menggelengkan kepala, menelan ludah dan menjawab. Tidak apa-apa?


"Mm."


kedua Paman Haikal kini keluar dari dalam rumah, melihat Nining di antarkan pulang oleh lelaki tampan dengan mobil mewahnya.


"Ning, kamu?"


Nining tersenyum mendekat ke arah ibunya, "hehe."


"Maaf bu, pak. Saya lagi cari teman saya bernama Haikal."


sang paman yang memang tak mengerti bahasa Indonesia yang terlontar dari mulut Ardi, membuat ia bertanya pada istrinya.


sang istri mulai menjawab apa yang dikatakan Ardi, kepada suaminya. saat itulah sang suami menyuruh istrinya untuk mengajak mengobrol tentang apa yang sudah terjadi di rumahnya.


"Jadi ini teh tunangan neng Lina. Ya?"


"Iya."


Deg ... hati Nining seakan kecewa, saat Ibunya bertanya bahwa lelaki yang sudah mengantarkannya pulang itu adalah tunangan Lina.


" Ya sudah atuh, ke dalam dulu, biar kita bahas di dalam."


Ardi menganggukkan kepala saat wanita tua itu menyuruh Ardi masuk ke dalam rumah.


Ardi mulai duduk pada kursi kayu, dia melihat ruangan rumah itu terlihat menyejukkan. dengan desain ala desa.


Wanita tua yang menjadi ibu Nining, kini mengambilkan sebuah minuman hangat, untuk sang tamu yang baru saja datang.


sedangkan suaminya, disuruh untuk mencari Haikal di ladang.


"Ning, kamu teh diam aja. Bukannya panggil Neng Lina."


ada rasa kecewa pada wajah Nining, saat sang ibu menyuruhnya memanggil Lina.


"Teh."


Lina tengah menyisir rambutnya, ia memakai baju Nining yang terlihat begitu ayu seperti gadis ala ala desa.


"Teh Lina teh cantik, pantas saja tunanganya datang."


Deg ....


Saat ucapan Nining terlontar, Lina tentulah kaget.


"Maksud kamu, Ning?"

__ADS_1


"Tunangan teteh udah sampai, dia lagi duduk di ruang tamu!"


Lina tak menyangka, jika secepat itu Ardi datang ke desa Haikal,


"Maksud kamu, Ardi?"


"Ya siapa lagi atuh teteh!"


Lina tampak gelisa, membuat Nining mengerutkan dahinya. Melihat kegelisahan itu begitu jelas terlihat oleh kedua matanya.


"Teteh teh kenapa? Harusnya senang kalau ada tunangan datang. Ini mah malah panik gitu!"


"Nining, kamu enggak bakal tahu apa yang aku rasakan."


"Ya sudah atuh, Nining hanya ngasih tahu aja, kalau teteh di tunggu di ruang tamu."


Nining mulai membalikkan badan untuk segera pergi dari kamarnya, Lina membisikan sesuatu pada telinga Nining.


membuat Nining tersenyum dan juga setuju.


" Emang teteh nggak bakal kecewa, kalau Nining melakukan semua yang Teteh perintah."


"Tidak kamu tenang aja."


"Tapi teteh yakin kan?"


"Iya."


"Ya sudah atuh."


entah apa yang akan mereka rencanakan, sedangkan di ruang tamu, Ardi tak sabar menunggu Lina yang menghampiri dirinya.


@@@@@@


"Kamana si Haikal teh?"


(Ke mana si Haikal ya?)


setelah menelusuri sawah dan juga ladang, saat itu juga Paman Haikal menemukan Haikal. Iya berteriak kepada Haikal Untuk menghentikan pekerjaannya.


Haikal yang mendengar teriakan sang paman, kini bergegas menghampiri pamannya.


sang Paman langsung memberi tahu bahwa ada orang yang mencari Haikal, di mana Haikal bergegas untuk segera menemui tamu yang di katakan pamannya.


mereka berdua berjalan terburu-buru, untuk segera menemui Ardi di dalam rumah.


Haikal yang baru saja masuk ke dalam rumah, membuat Ardi tertohok kaget melihat penampilan sahabatnya itu.


"Haikal."


"Ardi."


pelukan persahabatan kini dilayangkan Ardi dan Haikal.


"Lina?"


Haikal tak melihat Lina berada di ruang tamu, saat itulah ia mulai bertanya kepada wanita tua yang menjadi bibinya.


"Bi, ke mana Lina?"


"Lagi di panggil sama Nining!"


wanita tua yang menyuruh anaknya dari tadi, seakan curigaan.

__ADS_1


saat itulah ia melangkah maju, untuk menemui anaknya yang tengah memanggil Lina.


setelah sampai di kamar Nining,


"Ning, Ning."


wanita tua itu terus memanggil-manggil nama anaknya, akan tetapi tidak ada sahutan dari anaknya.


"ke mana Nining, kok pintunya di kunci seperti ini?"


wanita tua itu berusaha membuka pintu kamar anaknya, lihat apa yang sudah terjadi pada Nining dan juga Lina.


Tok .... tok ....


sedangkan Lina dan juga Nining di dalam kamar, begitu sibuk menyusun rencana. untuk terbebas dari Ardi.


Lina berusaha menghindar dari Ardi, ia sudah berpikir dan kedua kalinya, bahwa dirinya tak mau menikah dengan Ardi. Lina ingin mempertahankan rasa cintanya pada Haikal.


wanita tua itu berusaha mencari kunci cadangan kamar anaknya, karena dari tadi mengetuk pintu. Lina dan Nining tak kunjung keluar.


" Sebenarnya ada apa dengan mereka?"


setelah pintu di buka, terlihat Nining tergeletak di atas ranjang, pipi Nining memerah, seakan habis di tampar.


Sang ibu tampak syok. Wanita tua itu langsung menghampiri Nining dan bertanya." Nining kamu teh kenapa? Kok bisa kaya gini?"


Nining memegang pipi kirinya, menunjuk ke arah jendela dengan perasaan gelisah," bu, teteh Lina kabur."


"Apa."


Wanita tua itu menghampiri jendela yang sudah terbuka lebar, melihat apakah Lina masih terlihat.


Tapi sayangnya Lina sudah tak nampak lagi, wanita itu kabur begitu saja.


"Ning, kenapa kok bisa sampai kabur?"


"Entahlah, teteh Lina teh kaya enggak mau bertemu dengan tunangannya!"


"Aduh ini teh gimana atuh, jelasinya pada Haikal?"


"Nining enggak tahu bu."


"Ya sudah ayo kita samperin Haikal, dan kasih tahu apa yang sebenarnya terjadi. kalau enggak gitu pasti Haikal akan menuduh kamu yang tidak tidak."


"Nining jadi takut menjelaskan semuanya teh, ke Aa Haikal."


"Sudah kamu teh jangan takut, kan ada ibu."


Haikal yang menunggu dari tadi penasaran karna sang bibi dan juga Nining tak kunjung ke luar membuat Haikal terpaksa menghampiri mereka.


"Ning, bi."


Terlihat Nining dan juga sang bibi tengah berpelukan membuat Haikal bertanya," ada apa ini?"


pelukan mereka kini terlepas saat Haikal bertanya kepada sang ibu, Haikal melihat pipi Nining begitu merah akibat tamparan keras.


"Kenapa dengan wajag kamu, Ning."


pertanyaan Haikal membuat Nining menundukkan kepala, ia seakan enggan berbohong dengan Haikal, karna Haikal bukan tipe lelaki yang bisa di bohongi.


Karna Haikal tahu cara gelagat orang berbohong dan tidak.


Sang Bibi mulai membela anaknya di depan Haikal.

__ADS_1


"Si Lina yang kamu bawa ke rumah bibi, tega teganya menampar Nining, anak bibi. Hingga pipinya merah seperti ini." Hardik sang bibi.


__ADS_2