Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 164


__ADS_3

Bu Maya belum juga kembali, Pak Anton masih menatap bibirnya yang bengkak, ya kini menaruh kaca yang dia pegang pada tempat tidur.


10 menit, datanglah Maya membawakan beberapa obat untuk dibalurkan pada bibir Pak Anton. Pak Anton merengek kesakitan di depan istrinya itu, Maya yang tak tega melihat bibir suaminya yang bengkak, dengan perlahan mengusap pelan bibir suaminya dengan air yang sedikit terasa hangat.


"Aduh du ... du ..."


"Kenapa Anton?"


"Sakit Maya!"


"Ya ampun maaf Anton, aku enggak sengaja."


Pak Anton malah menunjukkan bibir bengkaknya di hadapan sang istri dengan berkata?" cium dulu."


Maya yang serius mengobati suaminya itu, kini tanpa sadar menampar bibir bengkak Anton.


Plak ....


Bertapa sakitnya tamparan tangan Maya pada Anton, membuat Anton mengeluarkan air mata.


"Aduh, sakit." Rengek Anton.


"Makanya kalau lagi serius jangan banyak bercanda." Gerutu Maya. Memerat handuk pada air panas untuk di baluri pada bibir suaminya.


"Makanya kalau jadi suami itu jangan jail, kena karmanya kan." cetus Maya di hadapan Anton.


kedua mata Anton berkaca-kaca, setelah mendengar ucapan yang terlontar dari mulut istrinya yang terdengar begitu pedas.

__ADS_1


"Ya maaf, aku kira tidak akan seperti ini." balas Anton.


Maya memainkan bibirnya seakan mengejek suaminya sendiri,'' terasa sendiri kan akibatnya, Makanya jadi orang itu baik-baik jangan suka jahil."


nasehat Maya terus terlontar untuk Anton yang tengah merasakan rasa sakit pada bibirnya yang benar-benar bengkak.


" bibir kamu sudah aku kompres, sekarang udah terlihat mendingan. Ya sudah kamu cepat istirahat dulu aku mau segera mandi dan bergegas pergi menemui sahabatku Ita."


ucapan Maya membuat Anton langsung bertanya?" sahabatmu Ita, bukannya ibunya Sisil."


" iya, itu kamu tahu sendiri. Aku ada urusan penting dengan dia!" jawab Maya meraih handuk untuk menutup dan langsung melingkari tubuhnya dengan handuk.


" Tunggu dulu Maya, Untuk apa kamu mau menemui Ita lagi. Bukannya aku sudah membuat penjelasan kepada kamu dan berkata jujur dengan apa yang aku dulu rahasiakan, Jadi untuk apa kamu menemui sahabatku lagi," ucap Anton. seakan tak suka dengan Maya yang masih berhubungan sebagai seorang sahabat dengan ibunda Sisil.


" Mana mungkin aku bisa memisahkan persahabatanku dengan Ita. Biarkan saja anaknya yang seperti itu, asalkan sahabat Ita tidak seperti anaknya sendiri. Yang bisanya merayu suami orang. Aku yakin Ita itu orang yang sangat baik, dia tak mungkin menghianatiku sebagai seorang sahabat. Jadi kamu jangan terlalu mengkhawatirkan aku, jika aku bersahabat dengan Ita," balas Maya menyakini suaminya.


Anton hanya menarik nafasnya secara perlahan walaupun mengeluarkannya terasa sedikit sesak, karena balasan sang istri yang masih membela sahabatnya itu.


Maya langsung menolak perkataan suaminya sendiri, ia bisa sendiri tanpa diantar oleh suaminya.


Maya kini bergegas pergi ke kamar mandi untuk segera mandi. Karna tak tahan dengan keringat dingin yang bercucuran.


@@@@


sedangkan Sisil yang masih merasakan rasa sakit pada kakinya, kini memaksakan diri untuk bertemu dengan Pak Anton, yang di mana lelaki tua itu akan memberikan uang untuk pengobatannya dan sehari-harinya selama di rumah sakit.


entah apa yang berada di pikiran Sisil saat itu, kondisi tubuhnya yang belum membaik ya malah memaksakan diri untuk bertemu dengan pak Anton.

__ADS_1


para suster yang berada di sana menyuruh Sisil untuk tetap beristirahat di dalam ruangan. sedangkan Ibu Tia yang tengah menunggu di luar ruangan, melihat anaknya tengah berdebat dengan suster-suster di rumah sakit.


Untung saja wanita tua itu belum pergi, Iya bisa menghampiri Tia yang tengah berdebat dengan para suster di luar ruangan anak.


"Ada apa ini?" tanya Ibu Tia kepada para suster yang memegang tangan anaknya.


kini Sisil yang mencari akal untuk bisa keluar dari rumah sakit, memanfaatkan ibunya sendiri di depan suster-suster itu.


Sisil menangis di hadapan sang Ibu dan juga para suster yang memegang tangannya.


"Bu, Sisil mau pulang. Tolong bilang sama mereka kalau ibu itu ibu Sisil." ucap Sisil kepada Ibu Tia.


wanita tua itu tak tega melihat Sisil yang tengah dipegangi tangannya oleh para suster, saat itulah Bu Tia mulai melontarkan Semua ucapan yang mungkin bisa membuat Sisil segera pulang dari rumah sakit itu.


"Sus, ini anak saya." ucap Bu Tia kepada kedua pelayan itu.


"Maaf bu, kami sebenarnya tidak akan berbuat apa apa kepada anak ibu. Hanya saja anak ibu belum di izinkan pulang karna kondisi tubuhnya yang belum setabil sepenuhnya. Saya takut jika kaki anak ibu belum pulih normal," balas sang suster.


Alasan sang suster sangatlah kuat, Bu Tia tidak bisa membantu anaknya sendiri, karna wanita tua itu percaya dengan perkataan suster. Apalagi melihat kaki Sisil yang terlihat belum pulih benar.


"Sisil, benar apa yang di katakan suster di sini kamu tidak dulu di izinkan pulang, karna kondisi tubuh kamu yang belum setabil. Ibu berharap kamu mengerti nak." ucap sang Ibu menasehati anaknya, berharap Sisil mau menuruti Apa perintah sang suster dan juga ibunya.


Sisil yang mendengar perkataan yang terlontar dari mulut ibunya sangatlah kesal, seharusnya Ibunya bisa membela anaknya yang ingin segera pulang menemui Pak Anton.


apalagi Pak Anton akan berjanji, memberikan sebuah apartemen dan juga fasilitas, begitu pun dengan uang sehari-harinya untuk Sisil. Jika Sisil sekarang mau bertemu dengannya walau dalam keadaan apapun.


" Yaelah wanita tua Ini, kenapa sih. Tidak bisa diajak kompromi, wanita tua ini malah membela suster suster yang mencegahku untuk keluar dari rumah sakit ini. Bagaimana ini, waktunya sudah mulai mepet, aku harus segera menemui Pak Anton, kalau tidak semua yang aku inginkan akan sirna begitu saja. Aku tak mau kebahagiaan yang sebentar lagi datang menjadi sia-sia dalam hidupku, hanya karena aku berdiam diri di rumah sakit meratapi kakiku yang belum sembuh pulih ini." gumam hati Sisil, menatap ke arah ibunya yang terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan sang anak.

__ADS_1


" Bu aku ini ingin pulang, aku udah nggak betah di rumah sakit ini. Kenapa sih ibu malah membela suster-suster ini, harusnya Ibu membela aku sebagai anak ibu sendiri," ucap Sisil memperlihatkan wajahnya yang memelas meminta kepada sang ibu untuk segera pulang dari rumah sakit itu.


sang Ibu kini kembali menasehati Anaknya lagi," Sisil maafkan Ibu, ibu tak mau kamu kesakitan lagi karena kakimu yang benar-benar. Jadi kamu menerut saja dengan apa yang di katakan suster."


__ADS_2