Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 21


__ADS_3

Setelah beres menyetrika pakaian dan mengantarkan baju kepada semua tetangga, Lina dan juga Dinda bergegas untuk pergi ke penjara menemui Fras dan juga Burhan menanyakan apa mereka telah menyekap Haikal.


Setelah sampai di dalam penjara untuk menemui mantan suami dan sahabatnya. Dinda Melihat mereka dari kejauhan, ternyata mereka tengah memarahi teman sepenjara.


Ternyata sifat kasar mereka tidak berubah, gerutu hati Dinda.


"Apa kita yakin bertanya pada mereka?" tanya Lina. Yang masih menatap jauh Burhan dan Fras. Lina kesal jika melihat mereka berdua di depan mata.


"Kaka yakin, pasti mereka penyebabnya. Mereka bukan orang sembarang. Lina!" ucap Dinda.


Dengan percaya diri mereka berdua menghampiri Burhan dan Fras, walau sebenarnya hati mereka kesal.


"Wah ... wah ... ternyata ada pujaan hatiku datang. Sudah lama ya kita tidak bertemu sayang," ucap Burhan. Melihat kedatangan Dinda.


"Aku ingin bertanya padamu Abang, apa yang telah Abang Burhan lakukan pada Haikal? Abang pasti menyuruh orang untuk menyekap Haikal, kan?" tanya Dinda sedikit bernada tinggi. Menuduh Burhan adalah penyebabnya.


"Hey, sayang. Apa kamu gila ya, mana mungkin aku menyuruh orang untuk menghabisi lelaki itu. Bukanya sekarang aku ada di penjara," ucap Burhan tertawa kecil.


"Aku berkata baik-baik, padamu Bang Burhan. Apa bisa kamu berubah menjadi orang baik. Tidak mengganggu kebahagiaan orang lain," ucap Dinda. Membuat Burhan dan Fras tertawa terbahak-bahak.


"Kebahagiaan apa Dinda? Aku tidak sudi jika kamu bahagia dan aku di sini di penjara," hardik Burhan. Menunjuk-nunjuk wajah Dinda.


"Bang jika kamu di penjara, itu salah kamu! Asal kamu tahu aku sudah berkorban untuk bisa membahagiakan kamu. Tapi kenapa kamu membuat aku selalu menderita, selama ini aku sabar, tapi kamu malah mengijak-ngijak harga diriku menyiksa dan menghina mengagap aku di matamu seperti sampah. Wanita mana yang akan bertahan, wanita mana yang akan sanggup jika diperlakukan seperti itu, tidak ada bang. Mereka pasti tidak akan bertahan. Dan Wanita mana yang ingin bercerai dengan suaminya? Tidak ada. Semua wanita ingin bersama pasangannya sampai maut memisahkan, sampai di surga menyatukannya setiap pasangan. Semua orang mendambakan hal seperti itu. Begitu pun dengan aku bang, aku juga ingin seperti itu."


Ucapan itu terlontar dari mulut Dinda, membuat Fras terdiam, ada air mata keluar dari matanya.


Berbeda dengan Burhan, dia memegang jeruji besi menggoyangkannya keras dan tertawa terbahak-bahak seraya berkata," sudah curatnya."


Lina yang mendengar Burhan tertawa, ingin rasanya dia meremas kepala botaknya hingga pecah.


"Benar-benar Ka Burhan tidak punya hati," hardik Lina. Berkacak pinggang layaknya seorang bos yang memarahi pegawainya.


Burhan semakin tertawa keras, membuat Fras menggeleng-geleng kan kepalanya.


"Tahu apa kamu anak kecil, untung aku ada di penjara, coba kalau aku bebas sudah ku nikmati tubuhmu rame-rame," ucap Burhan mengedipkan sebelah matanya membuat Lina merasa jijik.


Saat itulah, Lina berani menonjok wajah Burhan yang tengah tertawa di dalam penjara lewat jeruji besi yang terbuka sedikit besar.


Brug ... membuat badan kekar berotot Burhan terhempas ke atas lantai.


"Gimana enak," ucap Lina.


"Heh gadis cilik berani kamu," teriak Burhan.


"Sorri Ka Burhan tanganku gatal ingin tinju mulut Ka Burhan yang tidak bisa di jaga itu," sindir Lina.


Fras tertawa, melihat Burhan yang kalah dengan Lina. Begitu pun dengan Dinda yang menutup mulut menahan tawa.

__ADS_1


"Sudah lah, mengaku saja Ka Burhan yang telah menyekap Haikal kan?" tanya Lina. Dengan lantang.


"Jangan asal tuduh! siapa yang mau menyekap si idiot itu," hardik Burhan yang tak mau mengaku.


Fras seketika mencuil dagu Lina membuat tangan Lina tak segan-segan melilitkan tangan Fras, membuat tangan itu terdengar suara retakan.


"Lina sakit," teriak Fras.


Karna tak tega Lina melepaskan tangannya.


"Makanya jangan main-main sama gadis kecil!" jawab Lina.


Dinda heran dari mana Lina bisa mempunyai jurus-jurus seperti itu. Karna selama ini Dinda hanya melihat Lina sebagai tukang cuci baju saja.


"Ayolah kalian mengaku?" tanya Dinda.


Burhan dan Fras tidak tahu menahu soal penyekapan Haikal, mereka sudah menjelaskan ke tidak tahuannya.


Saat itulah Dinda dan Lina pasrah, mereka pulang dalam kesal. Dan kecewa.


Burhan dan Fras tidak mau mengaku.


Baru beberapa langkah, Nina datang dengan suruhannya.


"Dedemit itu lagi ka," ucap Lina.


"Ya, de. Dia mengandalkan suruhannya, pengecut!" jawab Dinda.


"Siap ya. De, satu dua tiga."


Kabuuuuuuurrrrrrrrrrr


Mereka berlari kuncar kancir, membuat Nina kesal dan menyuruh mengejar mereka.


"Gimana ini ka, mereka banyak."


"Tenang de, pake jurus mulut."


"Oke."


Sambil berlari tanpa tengok kanan kiri. Mereka mengeluarkan suara nada tinggi mereka.


"Tolong ... Tooooolonggg ...."


Hingga warga di sekitar sana membantu mereka berdua. Membuat suruhan Nina di kepung warga dan di bawa ke kantor polisi.


"Syukirin loe, emang enak."

__ADS_1


Lina dan Dinda saling menepuk tangan, tanda keberhasilan.


Begitulah dengan Nina ia kabur tanpa suruhannya tahu.


"Awas saja akan ku balas kalian."


Lina dan Dinda meneruskan perjalanan, mencari Haikal, sesaat mereka berjalan Dinda melihat lelaki terkulai lemah di pinggir jalan.


Berlari menghampiri lelaki itu.


"Haikal ... Haikal ... akhirnya Haikal ketemu juga."


Dengan sigap mereka membawa Haikal pulang ke kontrakan. Entah kenapa Haikal bisa ada di pinggir jalan dengan keadaan babak belur.


Tanpa hentinya Dinda mengompres bekas luka pukulan pada wajah Haikal, membuat detaran di dada seakan tak karuan.


"Cie ... cie di pandangin terus," sindir Lina. Yang berdiri di samping kakanya.


Dinda mencubit pinggang sang adik.


Saat itulah Haikal terbangun, Dinda dengan sigap membantu Haikal untuk bangun dan menyenderkan punggungnya.


"Sudah mendingan? Ada yang sakit? Mau makan? Mau minum?" Pertanyaan Dinda membuat sang adik tertawa.


"Terimaksih tawarannya!"


Dinda terseyum melihat Haikal sudah baikan.


Saat itulah mereka bertanya kenapa Haikal bisa babakbelur dan berada di pinggir jalan.


Haikal menjelaskan semuanya.


Bahwa Haikal bisa seperti ini karna saat menuju pulang ke kontrakan saat di jalan ada seorang lelaki membawa pisau, dan memukul punggungnya hingga pingsan. Lelaki itu adalah perampok yang mau mencuri dompet dan ponsel Haikal.


Dinda yang mendegar penjelasan Haikal, membuat dia merasa bersalah pada Burhan karna telah menyalahkannya.


"Bagaimana ini Lina kita sudah menyalahkan Bang Burhan, "ucap Dinda pada sang adik.


Lina yang mendengar perkataan kakanya tak menggubris dia hanya menjawab.


"Tak perlu di sesalkan ka, memang mereka pantas mendapat hukuman seperti tadi."


"Tidak ada rasa bersalah memang kamu Lina?" tanya sang kaka


"Tidak ada ka!"jawab Lina


Di dalam penjara, Burhan kesal karna Dinda begitu membela Haikal.

__ADS_1


Burhan marah-marah berani memukul teman sepenjaranya. Polisi sudah memindahkan Burha dan Fras ke tempat lain.


Karna Fras dan Burhan selalu membuat keributan di penjara.


__ADS_2