Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 182


__ADS_3

Pras yang ternyata sudah sampai di cafenya, kini menelpon suruhannya yang sudah Iya tugaskan untuk menjebak mobil Ardi.


Alya yang berada di samping Pras, hanya bisa diam, ia seakan berada gengaman Pras dalam acaman yang terasa berat.


" Bagaimana aku bisa menyusun rencanaku, kalau saja Pras lebih kejam dari apa yang aku bayangkan." Gumam hati Alya.


Kini panggilan telepon pun terhubung. Di mana Pras menelepon suruhannya.


"Halo, bos."


"Gimana, apa kalian sudah menculik Lina?"


"Maafkan kami bos, kami gagal!"


"Apa, kalian ini bisa kerja tidak."


"Kami sudah berusaha menjebak Ardi dan Haikal. Hanya saja mereka seperti sudah menyadari akan jebakan kami."


"Bodoh, kalian memang bodoh. Percuma saya membayar kalian dengan begitu malah, tapi pekerjaan kalian tidak ada yang benar semua."


"Maaf Bos"


" memang hanya dengan kata maaf, saya mengikhlaskan kalian dan membayar kalian begitu saja."


"Bos, kami akan berusaha keras lagi agar bisa menculik Lina."


"Aku tidak percaya, bisa saja kalian gagal lagi."


"Percaya pada kami."


Para suruhan terus meminta pada Pras untuk di beri kesempatan yang kedua kalinya.


"Baiklah, aku beri satu kesempatan sekali lagi. Jika kalian gagal, kalian akan tahu akibatnya."


"Baik bos."


Pras kini mematikkan ponselnya, ia tak mau banyak bicara.


Alya yang berdiri di samping Pras kini pergi begitu saja, membuat Pras menahan tangan Alya.


"Kamu mau ke mana, Alya."


Alya yang sudah tak tahan dengan bentakan Pras, mengabaikan panggilannya.

__ADS_1


"Alya, sekali lagi kamu melangkah kubunuh kamu."


Alya terus saja melangkah, hingga Pras menarik paksa tangan Alya, "Kamu tidak takut dengan ancamanku."


"Hah, sudahlah, kalau kamu mau bunuh. Bunuh saja aku, aku sudah lelah cape. Ayo bunuh aku," pekik Alya.


Pras mengusap kasar wajahnya, terkadang ia tak bisa memahami karakter wanita.


"Pras kenapa kamu diam saja, ayo bunuh aku. Semenjak pulang dari pemakaman kamu lebih sering mengancamku dan melontarkan kata kata kasar, apa kamu tidak pernah bisa berkata lembut dan memahamiku."


"Aku bukan tidak bisa memahamimu, hanya saja aku kesal dengan kamu yang masih terlihat berharap pada Ardi."


"Ya memang aku masih berharap pada Ardi, karna kamu yang selalu bertingkah kasar dan membuat aku selalu sakit hati."


Plakkk ....


Tamparan di layangkan Pras untul Alya, membuat air mata Alya menetes, Pras menjabak rambut Alya dan berkata,"sekali lagi kamu bicara seperti itu, aku tak segan segan menyiksamu."


"Sial, sekarang aku berada pada genggaman pria yang benar benar jahat. Aku menyesal telah mengadu kuluhanku pada Pras, yang di mana aku menjadi korban keganasan Pras dan segala emosi di hati Pras." Gumam hati Alya.


"Sakit Pras lepasakan." Alya terus saja berteriak meringis kesakitan.


Entah kenapa dengan Pras, tiba tiba saja ia marah dan meluapkan kekesalanya pada Alya. Pras terlihat begitu sensitif semenjak ke matian Dinda.


Pras kini melepaskan tangannya yang menjabak rambut Alya.


"Cepat ganti bajumu sebentar lagi, akan ada Ardi dan yang lainya."


Alya menatap lekat pada Pras, saat itu ia terburu buru pergi, untuk segera masuk ke dalam kamar untuk sekedar menganti baju.


Pras duduk di kursi cafe, memijit keningnya dan pelan." AKH, sial aku malah terpancing emosiku pada Alya, seharusnya aku lebih sabar dan tahan. Karna rasa cemburu membuat aku mampu menyakiti orang yang aku cintai."


tak terasa saat itulah, mobil Ardi tiba di cafe Pras.


yang di mana Pras tengah duduk merasakan rasa pusing karena seharian marah-marah.


"Ardi, sepertinya Ommu tengah memikirkan sesuatu?" tanya Haikal di dalam mobil.


Ardi menatap ke arah Cafe sang om," benar juga. Sepertinya dia tengah fustasi berat."


"Orang jahat mana ada Frustasi," ucap Haikal.


"Benar juga apa katamu," balas Haikal.

__ADS_1


mereka kini turun dari mobil untuk segera menemui Prans yang tengah duduk di cafe dengan wajah terlihat gelisah.


"akhirnya kita sampai juga di Cafe."


"Jadi ini Cafe ommu."


"Ya."


Mereka kini melangkah masuk. Begitu pun dengan Ardi yang menyapa sang om.


"Eh, ternyata Omku sudah sampai duluan. Padahal tadi kita barengan loh?" pertanyaan Ardi membuat Pras langsung menatap ke arah keponakannya yang tiba-tiba saja datang.


Pras berusaha bersikap tenang tidak menampilkan dirinya yang tengah direndungi rasa kesal, akibat para suruhannya yang gagal dan dirinya yang selalu membentak Alya tanpa alasan tak tentu.


"kamu ini nggak tahu aja. Om ini kan pembalap mobil jadi ya bisa lebih cepat dari kamu."


balasan Sang Om membuat Ardi seketika berkata.


"Oh ya, om. Tadi pas Ardi di dalam perjalanan, tiba-tiba saja ada orang yang jahil melemparkan darah pada kaca mobil Ardi. Dan Untung saja Ardi tidak turun dari dalam mobil? Apa Om tidak mengalami hal yang sama seperti Ardi yang alami saat tadi di jalan."


ucapan Ardi tentulah membuat Fras bingung menjawab apa yang harus ia katakan pada keponakannya.


"Mm, Masa sih kita kan barengan. Mana mungkin ada orang yang jahil melemparkan darah ke kaca mobil, dari tadi aman-aman aja dalam perjalanan. Mungkin ada hewan yang tak sengaja kamu tabrak."


" kemungkinan besar, Tapi jujur saja, saat di perjalanan aku melihat di kaca luar ada beberapa orang yang sepertinya bersiap-siap menunggu kita keluar dari dalam mobil, dan entah apa niat orang itu, yang jelas orang itu sepertinya sudah. Merencanakan hal yang jahat terhadap kita di dalam perjalanan. Apakah kemungkinan itu suruhan Om sendiri? yang mungkin Om perintahkan untuk menangkap kami."


Deg ....


Ardi menghampiri Pras menepuk bahu Omnya itu dan berkata," wajah wajah Om kenapa, kok langsung panik seperti itu. Padahal aku hanya bercanda loh nggak serius"


Ardi seakan memancing amarah dari diri Pras, sengaja ingin membuat Pras mengatakan kejujurannya.


" Jadi maksud kamu, kamu menuduh Om melakukan semua itu?"


tanpa Sadar Pras sedikit bernada tinggi, membuat Ardi tersenyum sinis, ia seakan senang memancing emosi Omnya untuk mengatakan kejujuran yang sudah dilakukan sang om.


"Hey, Om. Ardi kan cuman bercanda. Mana mungkin Om melakukan semua itu, serius amat."


Pras mengigit giginya menahan kekesalan yang terus ia tahan karna Ardi.


Haikal menatap ke cafe itu, ia baru pertama kali datang ke tempat yang namanyan cafe membuat ia melihat lihat seisi Cafe itu.


"Ini yang namanya Cafe."

__ADS_1


Maklum lah, semasa di kota Haikal tidak seperti anak muda lainya, ia terbilang sederhana tak banyak gaya walau pun sekarang ia bekerja di kantor. Gaji yang lumayan besar selalu ia sisikan untuk menambung. Membeli rumah untuk Dinda.


__ADS_2