Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 188 jeritan Alya.


__ADS_3

Menujukkan sebuah rekaman dari ponsel Haikal membuat kedua mata Ardi membulat, ia tak menyangka jika sang om tega memukul Alya dengan sangat keji.


"Pras, kenapa dia begitu tega memukul calon istrinya." Gumam hati Ardi.


Haikal menyuruh Ardi untuk mendengarkan suara rekaman yang Haikal sengaja rekam.


Tentulah Lina yang mendengar rekaman itu membuat api cemburu pada hatinya.


Haikal menatap ke arah Ardi.


"Kenapa lu liatin gue seperti itu, kal."


"Gue enggak nyaka, lu pernah punya cewek. Gue kira lu itu enggak laku."


"Apa an sih."


Haikal berusaha membuat suasana agar tak terasa tegang. Ia membuat sebuah kata kata candaan agar Lina tak kesal, dengan apa yang ia dengar.


Lina melipatkan kedua tanganya dan berkata," tak usah kalian bersikap seolah olah Lina ini cemburu!"


Kedua lelaki itu saling menatap satu sama lain, mereka tertawa terbahak bahak.


Haikal merangkul bahu Lina dan berkata," Lina, kamu tenang aja dalam rekaman ini, memang Alya memuji dan mengatakan cinta pada Ardi di depan Pras. Akan tetapi kamu harus ingat di hati si Ardi itu hanya ada kamu, satu satunya. Benar tidak Ardi?"


Ardi kini tersenyum mendekat ke arah Lina," benar apa yang di katakan Haikal Lina, di hatiku hanya ada kamu."


Lina menarik nafasnya pelan dan berkata," apa sih lebay."


Haikal dan Lina tertawa, sedangkan Ardi, merasakan cemas dalam hatinya. Ia memikirkan keadaan Alya. Apa lagi dari video itu sudah terlihat Alya dianianya.


"Jika memang Alya tak mencintai Pras, kenapa Alya masih bertahan apalagi perlakuan Pras yang begitu kejam kepada dirinya, sebenarnya ada apa?" gumam hati Ardi bertanya tanya.


Haikal memukul bahu Ardi dan membisikan kata kata," aku tahu apa yang kamu pikirkan sekarang."


@@@@


Sedangkan di dalam kamar, Alya kini bangun dari pingsannya. Ia menatap ke arah ruangan yang di mana itu adalah kamar Pras.


Pras menyuruh para pelayan untuk membawa Alya ke kamarnya, karna ia tahu hanya kamarnya yang bisa membuat Alya nyaman.


Memegang kepala, kedua mata Alya membulat. Ia meraba pada badanya, kini baju Alya terlihat sudah diganti oleh para pelayan. Di mana kedua pelayan tengah menunggu sadarnya Alya


Bayangan kejadian yang menimpa Alya membuat rasa trauma masih terasa pada diri Alya, bagaimana tidak traumanya Alya pada saat kejadian itu. Kedua pelayan laki laki itu merobek paksa baju Lina.


Pras yang dari tadi menunggu Alya bangun, membuat ia langsung berdiri dari tempat duduknya. Melangkah menghampiri calon istrinya terlihat gelisah.


Tangan Pras berusaha menyentuh kening Alya yang bercucuran keringat dingin, ia sengaja ingin mengelap keringat pada kening calon istrinya.


Akan tetapi saat tangan Pras menyentuh kening Alya, saat itu juga Alya berteriak histeris. Membuat Pras mengepalkan kedua tanganya.


"Jangan ...."


Teriakan Alya membuat Pras kaget setengah mati,

__ADS_1


Pras tak menyangka jika Alya setrauma itu, hingga saat Pras ingin menyentuh kening calon istrinya, Alya langsung berteriak histeris. Seakan ketakutan.


"Bagaimana aku menanyakan tentang kejadian tadi siang, jika keadaan Alya seperti ini." Ucap Pras. Menatap sayu kearah Alya.


Ia sekarang ingat apa yang harus ia lakukan, berjalan keruangan yang ia tuju, setelah itu.


Pras kini berniat menghampiri Haikal dan kedua pelayannya untuk menemui Alya yang masih trauma.


Pras berjalan perlahan, mencari keberadaan kedua pelayannya. Akan tetapi saat Pras menghampiri kedua pelayannya itu, Pras melihat segerombolan pelayannya tengah berteriak tak berkerja sama sekali. Membuat ia geram dan kesal.


Dengan langkah cepat Pras menghampiri segerombolan pelayannya, yang entah ia tak tahu mereka tengah menyoraki siapa.


"Sebenarnya mereka ini sedang apa, kenapa di jam kerja malah berkumpul seperti demo saja." Gerutu Pras.


Lelaki berbadan kekar itu, kini menghampiri segerombolan pelayan yang tengah berkumpul.


"Ada apa ini?" Teriak Pras.


Para pelayan berjajar, setelah mendengar suara Pras.


Hingga di mana kedua pelayan yang terpeleset kini terlihat oleh mata Pras.


"Kalian berdua?"


Pras berkacak pinggang setelah melihat kedua pelayannya terduduk di atas lantai, dengan bibir jontor.


"Kenapa dengan kalian?" tanya Pras, melihat kedua pelayannya seperti bibir ikan, rasanya Pras ingin tertawa. Akan tetapi ia berusaha menahan tawanya, tak ingin jika para pegawainya menganggap Pras itu bisa tersenyum.


Karna yang pelayan lihat dari sisi Pras, dia adalah pria dingin, jarang sekali tertawa. Jika dia tertawa itulah tawa kejahatan.


"Tidak tuan!" jawab para pelayan menundukkan pandangan.


"Terus kenapa kalian masih berdiri, cepat bekerja," pekik Pras.


Para pelayan kini mulai bubar untuk kembali bekerja.


"Baik tuan."


Pras mendekat kepada Abdul dan Wawan, kedua pelayan yang terpelesat pada lantai.


Lelaki berbadan kekar itu berjongkok dan tersenyum sinis." Bibir kalian sampai jontor seperti ini."


Abdul dan Wawan menundukkan pandangan." maafkan kami Tuan."


Pras mengusap kasar dagunya, dan berkata." yang berniat memperkosa Alya, kalian kan?"


Abdul dan Wawan tak menyangka jika Pras sang tuan mengetahui niat jahat mereka.


"Tuan. Sebenarnya ...."


Pras kini berdiri sembari merogok saku celananya." sudahlah kalian jangan mengelak, saya sudah tahu semuanya dari rekaman cctv."


Deg ....

__ADS_1


Wawan kini menangis di hadapan sang tuan dan meminta maaf," tuan. Maafkan kami berdua."


"Apa kalian bilang?" tanya Pras. Membalikkan badan menatap tajam ke arah Kedua pelayannya yang tak mampu berdiri.


"Maafkan kami berdua!" jawab sayu wawan.


Pras dengan lantangnya kini menampar kedua pelayannya dan berkata tegas," maaf. Apa dengan sebuah kata maaf kalian akan mengembalikan kewarasan calon istri saya."


"Kami tidak tahu jika kelakuan kami, membuat nona Alya trauma," balas Abdul.


Brug ....


Satu pukulan di layangkan kembali oleh Pras.


"Bagaimana rasanya, sakitkan. Ini belum seberapa, saya bisa saja membuat badan kalian hancur seketika."


Deg ....


Ucapan Pras benar benar membuat ketakutan, Abdul dan wawan.


"Tuan kami mohon maaf, kami tidak akan melakukan Kesalahan yang kedua kalinya."


"Hah, mudah sekali kalian berkata seperti itu."


Abdul dan Wawan menelan ludah merasa terancam dengan ucapan dingin sang majikkan.


"Tuan, kami akan lakukan apa saja demi menebus kesalahan kami."


"Mm, aku akan memikirkannya."


Salah satu pelayan wanita kini berlari menghadap Pras yang tengah mengobrol serius dengan Wawan dan Abdul.


"Tuan, nona. No-na."


"Ada apa dengan calon istriku."


"Nona Alya terus saja berteriak, tuan."


Pras kini berjalan, untuk menemui Alya kembali, akan tetapi saat ia melangkah bersama pelayan wanita Pras langsung berkata, " siap siap mati ditanganku?"


Wawan dan Abdul yang mendengar ucapan itu membuat mereka ketakutan setengah mati.


Setelah kepergian Pras, Abdul dan wawan saling menyalahkan satu sama lain.


"Abdul, lu liat kan apa yang akan terjadi sama kita."


Wawan memukul kepala sahabatnya dan berkata," ya elah lu, jangan bikin tegang napa. Gue tahu kita bakal mati."


"Ya terus apa yang sekarang kita akan lakukan?" tanya Abdul.


Wawan berusaha mencari ide untuk kabur dari cafe sang tuan. Akan tetapi.


Brug ....

__ADS_1


Hantaman menyakitkan mengenai mereka berdua. Siapa yang sudah melakukan semua itu?


__ADS_2