
Menarik nafas secara perlahan, kini Ardi berusaha tetap tenang, melihat kedua mata sahabatnya yang menatap tajam ke arahnya," Apa ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Tidak ada! sebelumnya terima kasih atas waktu luang anda!" jawab Ardi.
Kini Ardi mulai berdiri dan tersenyum ke arah Jerry hingga di mana." tunggu Pak, anda jangan dulu pergi."
Ardi berdiam diri, saat Jerry menyuruhnya menunggu. lelaki berseragam polisi itu tengah mencari lembaran kertas yang tertumpuk begitu banyak.
saat itulah Jerry mulai mengambil 1 lembar kertas yang berada pada tumpukan kertas putih yang terlihat begitu banyak.
"Ini kertas untuk pengajuan anda di sini. Tolong tanda tangan di sini ya pak," ucap Jerry mengedipkan sebelah matanya. Membuat Ardi bergidig ngeri sedikit kesal, karna Jerry tak mau membantunya.
"Baik pak," balas Ardi masih bersikap ramah terhadap sahabatnya itu.
Ardi mulai melangkahkan kakinya setelah selesai menandatangani surat-surat yang terbilang begitu rumit bagi dirinya, dia tak membaca sepatah kata pun dari surat itu, dirinya hanya fokus menandatangani apa yang diperintahkan sahabatnya.
Dengan perasaan kesal pada akhirnya Ardi pergi tak menatap ataupun berkata terima kasih kepada Jerry, Iya hanya pergi dengan membawa satu lembar kertas yang diberikan Jerry pada Ardi.
setelah sampai pada pintu mobil, Ardi menggerutu kesal, tangannya tak sadar ia layangkan pada pintu mobilnya sendiri, membuat rasa sakit yang tiba-tiba terasa pada tangannya karena ulah dirinya sendiri.
" untuk apa punya sahabat status polisi, kalau seorang sahabat itu tidak bisa membantu sahabatnya sendiri dalam masalah yang terasa sulit seperti ini."
Ardi hanya menggerutu kesal di depan mobilnya sendiri, mengacak rambutnya sendiri.
"Dasar Jerry, coba kalau si Tom ada sudah di makan mentah mentah dia."
awalnya Ardi mulai merobek robek kertas itu, akan tetapi ia hampir lupa, hingga mengurungkan niatnya merobek kertas yang berada di genggaman tangannya, karena belum membaca satu patah kata pun dalam lembar kertas yang berada di tangannya.
kedua matanya membulat melihat isi dari kertas itu, ia benar-benar tak menyangka jika Jerry menolongnya dalam situasi yang begitu sulit.
Padahal dari tadi Ardi merasa kesal akan tingkah Jerry yang terlihat tak peduli akan keadaan Ardi.
__ADS_1
"Data, tahanan bernama Burhan?"
betapa senangnya Ardi saat itu, melihat data yang diberikan Jerry dengan berpura-pura meminta surat pengajuan.
sebenarnya itu adalah data rahasia yang tak boleh diberikan sembarangan kepada orang lain, akan tetapi Jerry sebagai sahabat Ardi begitu baik, Iya seakan tak takut jika suatu saat nanti dirinya bisa saja keluar dari kepolisian.
karena sudah membocorkan beberapa data tahanan di dalam penjara.
Jerry dari kejauhan menatap Ardi yang terlihat senang melihat kertas yang tengah ia pegang, hatinya merasa lega dan juga tenang, bisa membantu sahabatnya yang tengah kesusahan karena masalah yang terlihat begitu rumit dan juga besar.
Jerry melipatkan kedua tangannya, seraya dalam hati berucap," semoga masalahnya cepat selesai Ardi."
Ardi dengan terburu-burunya menaiki mobil, ia tak sabar memberi tahu Lina di rumah sakit.
"Lina, akhirnya aku membawa data tentang lelaki yang bernama Burhan. Aku berharap ada salah satu Tahanan bernama Burhan di data ini. Jadi tak usah susah payah."
Dreet ....
Suara pesan berbunyi. Kini Ardi mulai melihat layar ponselnya, (jika butuh apa apa, hubungi nomor ini saja.)
(Salam Jerry.)
(Pantas saja bahasanya alay begini, ternyata si Jerry tikus kecil yang cerdik.)
Ardi tersenyum dan membalas pesan dari Jerry sahabatnya.(Oke. Thakn sobat.)
Jerry mengirimkan emojik tertawa kepada Ardi. Membuat Ardi menggelengkan kepalanya.
kini Ardi mulai melajukan mobilnya untuk segera menemui Lina di rumah sakit, Ya sudah berjanji kepada sang Ibu tak akan lama berpergian. karena ia tahu pasti sang ibu akan kesal dengan dirinya yang terlalu lama meninggalkan Lina di rumah sakit.
Rasa Tak sabar ingin menemui Lina saat itu juga, membuat Ardi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
@@@@
sedangkan di rumah sakit, di mana Ibu Maya tengah menunggu keadaan calon menantu, tak lupa ditemani dengan pak Anton yang tengah duduk bersantai sembari Menatap layar ponsel.
hati Bu Maya seakan direnungi rasa kesal yang tak tertahankan lagi, saat ia melihat suaminya yang terus saja Menatap layar ponsel, tak memperdulikan Bu Maya yang tengah bolak-balik mengkhawatirkan keadaan Ardi yang belum juga datang kembali ke rumah sakit
" dari tadi si tua bangka ini tetap fokus melihat layar ponselmu, seakan tidak peduli dengan kekuatiran istrinya daripada." gerutu Bu Maya sekilas menatap Pak Anton.
memang Pak Anton terlihat begitu sibuk dan fokus pada ponselnya, akan tetapi dari balik ponselnya itu. kedua matanya berusaha mengawasi Bu Maya yang terlihat begitu kuatir akan keadaan Ardi yang belum juga kembali.
" dari tadi Sebenarnya kamu itu mengkhawatirkan anakmu sendiri atau tidak sih, aku heran sama kamu Anton. bukannya melakukan sesuatu hal yang membuat Ardi cepat pulang, ini malah santai-santainya memainkan ponsel." hardik Bu Maya, sedangkan Pak Anton hanya terdiam tak memperdulikan amarah istri yang terus meluap-luap di depan matanya.
"Anton, kamu ini dengar tidak apa yang aku katakan, Sebenarnya kamu ini tuli apa pura-pura tak peduli." pekik Sang istri.
Pak Anton tetap saja memainkan layar ponselnya, dirinya benar-benar cuek dengan perkataan sang istri yang terus terlontar dari mulut seksinya.
Bu Maya yang tak tahan lagi dengan sikap sang suami, kini mengambil ponsel yang berada pada tangan sang suami.
Pak Anton langsung menatap ke arah Bu Maya yang mengambil ponselnya, lelaki tua itu berdiri di hadapan sang istri dengan berkata." Kembalikan ponselku Maya."
Maya malah memegang ponsel suaminya dengan begitu erat, ia sengaja memegang ponselnya kebelakang pinggang.
Membuat Pak Anton tentulah tak suka dengan tingkah istrinya itu.
" cepat kembalikan ponselku, atau aku ...."
belum perkataan Pak Anton terlontar semuanya, Bu Maya langsung memotong perkataan sang suami dengan lantangnya.
"Atau apa? kalau berani ayo cepat ambil, padahal ponselnya masih aku pegang. Untung saja ponsel ini tidak aku lempar ke luar, kalau aku lempar kemungkinan besar Kamu tidak akan menghubungi gadis yang menjadi selingkuhanmu itu."
" Apa maksud dari Perkataanmu itu, Maya. gadis selingkuhan apa?"
__ADS_1
" Sudahlah tak usah mengelak lagi Anton, aku sudah tahu dari dulu sifat Kamu tidak akan pernah berubah. Apalagi kamu selalu selingkuh dengan gadis-gadis cantik di luar sana, tanpa memikirkan perasaanku sedikitpun."
Pak Anton mengusap kasar wajahnya, seakan sang istri mengatakan apa yang tak harus dikatakan di depan calon menantunya.