Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 248


__ADS_3

Haikal berlari dengan terburu-buru, secepatnya memberitahu Pak Hasan jika istrinya masuk ke dalam rumah sakit.


Tok .... Tok...


ketukan pintu terus dilayangkan Haikal, berharap Pak Hasan langsung membuka pintu rumahnya.


"Pak Hasan. Pakkkk. "


Berteriak memanggil Pak Hasan, hingga di mana. Lelaki tua itu keluar.


Pak Hasan yang masih merasakan rasa kantuk kini menggerutu kesal pada Haikal, "ada apa sih?Malam-malam begini. Kamu teriak-teriak memanggilku. Hah, apa tidak ada waktu lagi."


Lelaki tua itu terus menggerutu Haikal tanpa jeda waktu, membuat Haikal Susah menjelaskan apa yang sudah terjadi pada Bu Nunik.


"Pak Hasan, Saya mau menjelaskan sesuatu sama anda," ucap Haikal berharap pak Hasan berhenti dari ocehanya


"Jelaskan apa? Hah, tengah malam begini kamu ini ya ganggu orang saja?" pekik Pak Hasan. Kedua matanya membulat, berusaha menampilkan ekfresi ketidak sukaanya pada Haikal.


"Pak Hasa, saya hanya ingin memberitahu bahwa Bu Nunik .... "


Belum perkataan Haikal terucap semuanya, Pak Hasan dengan sengajanya memotong pembicaraan Haikal. "istri saya tengah tidur. Jadi kamu jangan ganggu saya lagi, sana pergi."


Dengan kekesalan yang Pak Hasan rasakan, ia kini mengusir Haikal, akan tetapi Haikal tetap pada pendriannya untuk memberi tahu suami Bu Nunik.


"Istri bapak sekarang, masuk ke rumah sakit," ucap Haikal membuat Pak Hasan, terdiam sejenak.


Ia mendengus kesal di depan Haikal.


"kamu jangan mengada-ngada. Haikal."


"kalau memang bapak tidak percaya? Coba bapak cari istri Bapak di kamar bapak sendiri, masa bapak tidak tahu istrinya ada tidaknya?"


Pak Hasan, semakin kesal dengan ucapan Haikal. Saat itulah ia mulai melangkah ke dalam rumah, berjalan melihat ke kamar tidur.


Pak Hasan mulai memanggil-manggil istrinya, untuk bangun dari tidurnya. Ia berusaha mendekat sang istri membuka selimut dan ternyata itu hanyalah tumpukan bantal.


"Nunik, ke mana dia, bukannya tadi dia tidur bersamaku?"

__ADS_1


Raut wajah Pak Hasan begitu panik, setelah melihat istrinya tidak ada di tempat tidur. Ia hanya melihat tumpukan batal yang seakan sengaja ditumpuk dan ditutupi oleh selimut.


"Pak Hasan."


Haikal kini berteriak lagi memanggil Pak Hasan dari luar, membuat lelaki tua itu berlari menemui Haikal kembali.


"Gimana pak? istri Bapak ada di rumah?"


Lelaki tua itu menggelengkan kepala dan berkata ."benar apa kata kamu, istri saya tidak ada di rumah. Sekarang dia ada di mana?"


Haikal berusaha tenang dan bersabar dengan tingkah Pak Hasan yang menyebalkan." Ya sudah sekarang kita pergi ke rumah sakit, Bu Nunik sekarang ada di rumah sakit."


" Kenapa istriku bisa dibawa ke rumah sakit? Apa yang sebenarnya sudah kalian lakukan."


Haikal sudah kesal dengan tangisan Pak Hasan, " Nanti aja, nanti juga bapak tahu, sekarang saya antarkan bapak ke rumah sakit."


"Tunggu, tunggu."


" Ada apa lagi sih, Pak Hasan?"


" Kamu ini bagaimana sih Haikal. kamu tidak lihat saya hanya memakai sarung samping saja."


" Nanti kalau kita ke rumah sakit disangka dokter Bapak mau disunat."


Pak Hasan kini memukul kepala Haikal.


"kalau ngomong sembarangan kamu ini!"


Pak Hasan kini terburu-buru mengganti pakaiannya, Haikal yang dari tadi menunggu membuat dia kesal karena banyak nyamuk yang terus menghampiri dirinya.


"Pak Hasan, bisa cepetan dikit tidak," Teriak Haikal, membuat Pak Hasan terburu buru.


" Iya Haikal, sabarlah. Kamu ini bagaimana." Balas Pak Hasan tak kala berteriak.


Pak Hasan kini keluar setelah mengganti pakaiannya, ia mengeluarkan motor untuk segera pergi ke rumah sakit dengan Haikal.


Saat itulah mereka melajuka motor, pergi untuk ke rumah sakit.

__ADS_1


Sedangkan Ardi dan juga Nining yang sudah sampai di rumah sakit begitu panik dengan keadaan bu Nunik, dimana wanita tua ituterus menjerit-jerit menahan rasa sakit.


Dengan sigap sang dokter langsung menangani Bu Nunik saat itu juga.


Nining hanya bisa menunggu, begitupun dengan Ardi.


Berharap luka bakar Bu Nunik bisa di sembuhkan dengan cepat.


"Saya bangga dengan kamu Ning, walaupun kamu tersakiti, kamu tetap baik kepada orang yang sudah menyakiti kamu."


Nining tersenyum dan mendekat ke arah Ardi, "jangan terlalu memuji saya Aa Ardi, nanti hidung saya yang pesek ini terbang entah ke mana."


Ardi langsung tertawa mendengar ucapan calon istrinya, yang begitu terdengar lucu.


Saat Ardi dan juga Nining tengah bercanda, saat itulah Haikal dan juga Pak Hasan datang mendekat ke arah Ardi dan juga Nining menanyakan tentang keadaan bu Nunik.


"Bagaimana keadaan istri saya? Apa dia baik-baik saja," Terlihat raut wajah panik Pak Hasan membuat Nining berusaha menenangkan lelaki tua itu dan berkata," Bapak tenang dulu ya. dokter baru saja menangani Bu Nunik"


"Sebenarnya istri saya kenapa? kenapa dia bisa masuk ke rumah sakit, Memangnya apa yang kalian lakukan terhadap istri saya, sampai Istri saya masuk ke dalam rumah sakit?" pekik Pak Hasan, yang memang tak tahu alasanya.


Ardi kesal dengan pertanyaan Pak Hasan, saat ity juga Ardi ingin sekali meluapkan kekesalannya, akan tetapi Nining berusaha menahan emosi calon suaminya itu, dengan berkata." Aa Ardi, harus tenang ini rumah sakit."


Saat itulah emosi Ardi, mereda karena ucapan lembut Nining yang terdengar dari kedua telinganya.


" Semalam itu Bu Nunik hampir saja membakar rumah saya, akan tetapi rencana Bu Nunik ternyata gagal, ia kaget karena melihat saya keluar dari dalam rumah. Membuat tangannya yang memegang bensin dengan spontan langsung mengguyur tubuhnya begitu saja, di mana korek apa yang menyala membakar tubuh Bu Nunik saat itu juga."


Mendengar penjelasan Nining, membuat Pak Hasan kini menangis ia tak menduga jika istrinya masih melakukan hal-hal yang tidak baik, padahal baru saja Pak Hasan menasehati istrinya itu agar tidak melakukan hal-hal yang tidak baik kepada keluarga Nining, tapi kenyataannya Bu Nunik malah melampiaskan nafsunya hingga nafsu itu malah merugikan dirinya sendiri.


Haikal berusaha menenangkan lelaki tua yang berada di sampingnya." Pak Hasan tenang ya, mungkin ini adalah cobaan untuk Pak Hasan agar kedepannya hidup bapak itu manjadi lebih baik lagi."


Pak Hasan hanya menganggukkan kepala setelah mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Haikal, yang berusaha menenangkan dirinya saat itu.


" Kenapa istriku tidak tidak berubah?" Hasan menahan kesedihan yang kini melanda dirinya.


Haikal mengerti apa yang terjadi dengan keluarga Ruslan, adalah teguran, untuk bisa membuat dirinya berubah.


"Nining, saya tidak tahu jika istri saya melakukan kekejaman yang tak seharusnya terjadi."

__ADS_1


"pak Hasan tenang saja, aku sudah maafkan pak Hasan."


__ADS_2