Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 189 Keadaan Alya.


__ADS_3

Pras berlari menghampiri Alya yang terus menjerit-jerit, ia tak tahu kenapa dengan Alya sampai begitunya ia menjerit-jerit seakan hilang kendali.


ternyata Alya duduk di ujung ruangan kamar Pras, Iya menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Seakan rasa traumanya itu tak bisa di sembuhkan.


Pras kini mendekat ke arah Alya dengan berkata ," Alya kamu kenapa?"


" jangan menyentuhku! Pergi?"


" Alya ini aku, Pras!"


"Tidak, aku tidak mengenalmu."


" Alya ini aku calon suamimu."


" tidak aku tidak mau, kamu bukan calon suamiku. minggir cepat jangan sentuh aku."


Pras berusaha berjalan mundur, menjauhi Alya. Iya seakan bingung apa yang harus ia lakukan.


sampai saat itu Pras mulai menelpon dokter untuk menangani calon istrinya yang tiba-tiba seperti orang yang tak waras.


Untung saja Pras mempunyai kenalan seorang dokter. Saat itulah Pras mulai menelpon dokter yang menjadi sahabatnya itu.


"Halo, Pras."


"Halo. Andi, sekarang kamu ada di mana."


"Tumben kamu nanya aku ada di mana, ya di rumah lah."


"Cepat ke sini."


"Ada apa, kamu nyuruh aku ke sana."


"Aku butuh kamu sekarang."


"Aku sibuk."


"Andi, kalau kamu tidak ke sini ku bunuh kamu sekarang."


"Ya elah lu. Iya, iya."


panggilan telepon pun gini dimatikan sebelah pihak, di mana Pras langsung pergi ke luar kamar.


"Kalian tunggu keadaan Alya, jika terjadi apa apa. Kasi tahu saya, saya mau ke luar menunggu sahabat saya."


"Baik tuan."


Dengan tergesa gesa, Pras mulai berjalan untuk ke luar cafe menemui Andi.


Sedangkan Haikal yang menunggu kepastian tentang Alya yang mengungkapkan semuanya, hanya bisa menunggu merasakan rasa sakit pada tanganya.


"Lu liat Haikal, sepertinya Pras pergi ke luar."


Haikal menatap ke arah Pras," mau ke mana dia?"


"Entahlah."


Lina kini menimpal pembicaraan Haikal dan Ardi.


"Kak Haikal, Lina sedikit heran dengan tempat ini," ucap Lina.


"Memangnya kenapa, Lina?" tanya Haikal.


"Masa tadi Lina masuk ke ruangan kosong saat mau mengambil air hangat!" jawab Lina.


Ardi penasaran dengan cerita Lina," kenapa kamu baru cerita sekarang," ucap Ardi.

__ADS_1


"Habisanya Lina takut salah ngomong, pas di ruangan itu ada salah satu cewek pake seragam pelayan minta selimut, lalu menghilang tiba tiba," ucap Lina.


"Masa sih, halusinasi mungkin," ucap Haikal.


"Benaran Lina lihat dengan mata kepala Lina sendiri," balas Lina.


"Ya sudah di mana jalan menuju ruangan kosong itu, apa kamu masih ingat, bisa saja kita menemukan bukti di sana untuk bisa membuat Pras Omku mengakui kesalahanya, atas kematian Dinda," timpal Ardi.


"Tapi kita hanya seorang tamu, masa main masuk aja," ucap Haikal.


"Kamu tenang saja, aku kan keponakanya. Mungpung kak Pras sibuk ngurusin Alya yang mungkin trauma akibat kedua pelayan itu," balas Ardi.


"Benar juga sih," ucap Haikal.


Saat Ardi dan Haikal mulai masuk ke dalam ruangan, saat itu juga Pras sudah muncul di depan mata.


"Mau ke mana kalian?"


Ardi terkejut dengan penampakan sang Om yang sudah berada di depan matanya.


"Kita mau melihat lihat ruangan," ucap Ardi. Menampilkan senyumanya.


"Pras cafemu besar juga, ya." ucap Sosok seorang dokter yang akan memeriksa Alya.


"Sudah ayo cepat masuk, jangan banyak ngomong. Calon istriku butuh penangananmu segera," balas Pras.


Pras mulai membawa sahabatnya yang menjadi seorang dokter untuk segera memeriksa keadaan Alya.


"Ardi. Om berharap kamu jangan pergi dari sini begitu pun dengan sahabatmu ini. Sebelum Alya sadar." Ucap Pras. Menatap ke arah Haikal dengan tatapan penuh kebencian.


"Baikalah om Pras."


Padahal baru beberapa detik Pras keluar, tiba tiba ada di depan Ardi.


Ternyata, dokter bernama Andi itu adalah tetangga Pras. Rumah Dokter Andi bersebelahan dengan cafe Pras.


@@@@@


Andi kini masuk bersama Pras ke dalam kamar untuk melihat ke adaan Alya.


Alya terlihat murung, membuat Andi langsung menghampiri wanita itu.


"Hai, Alya."


"Siapa kamu?"


"Kamu jangan takut, aku akan segera mengecek keadaan kamu!"


"Menyingkir, kamu pasti orang jahat."


"Tenang, aku akan membuat kamu rileks oke."


"Aku tidak mau."


Entah apa yang di berikan Andi pada Alya, membuat Alya pingsan seketika.


"Apa yang sudah kamu lakukan, Andi," ucap Pras terlihat kuatir pada Alya.


"Kamu tenang saja akukan seorang dokter," balas Andi pada Pras.


"Aku tahu itu, tapi ...."


Belum perkataan Pras terlontar semuanya Andi langsung menghampiri Pras.


"Wanita itu hanya berpura pura."

__ADS_1


Deg ....


Berpura pura, apa yang di maksud Andi Alya berpura pura menjerit.


"Terus sekarang ke adaanya."


"Aku buat dia pingsang seketika saja. Nanti juga dia akan bangun. Sebenarnya kamu sudah buat dia kenapa? Sampai dia berpura pura tak waras."


Pras malah tak menjawab perkataan Andi, ia malah mengerutu kesal pada hatinya," untuk apa Alya melakukan semua ini, dia berpura pura trauma di depanku. Dia tidak tahu kalau aku membawa Andi sahabatku yang tak lain dokter."


"Heh, Pras. Mana."


Andi menyodorkan telapak tanganya, membuat Pras mengerutkan dahi.


"Mana apa?"


"Ya elah lu, gue kan dokter. Ya bayarlah!"


Pras mulai menyodorkan lembaran uangan lima ribu pada Andi.


"Apa apaan lu, banyar pake uang gini."


"Udahlah lu terima aja."


"Dasar lu."


"Lu kan sahabat gue jadi geratis."


"Dasar cowo berdarah dingin. Pelit lu."


"Sudahlah lu balik aja sana."


Andi menepuk bahu Pras berulang kali dan berkata," jadi calon suami itu harusnya lebih perhatian jangan galak-galak, jadinya kan calon istri lo itu pura-pura tak waras seperti tadi. Dan membuat lu panik sendiri. Dari dulu memang lu tak berubah-rubahnya, pantesan saja kamu lu enggak pernah dapat cewek. Dingin sih. Terus galak."


"Gue bunuh lu."


"Sabar, sabar."


Andi kini berpamitan untuk segera pulang, di saat ia berjalan, Ardi menatap tajam ke arah dokter yang menjadi sahabat Pras.


"Ardi, keponakan Pras. Tumben ada di sini?"


"Hanya nangkiring saja di cafe Om Pras!"


"Oh ya, Ommu Pras enggak nyaka bisa ngeembat pacar keponakannya sendiri."


Ucapan Andi membuat Ardi terdiam, ia hanya tersenyum kecil.


"Bukan jodoh."


"Iya juga sih, kayanya si Alya pura pura trauma hanya buat ngejauhin om lu yang galak itu ya."


"Mm."


Tiba tiba saja Pras datang, membuat Andi. Tersenyum kecil.


"Eh lu keluar." Ucap Andi pada Pras.


Pras membulatkan kedua matanya, memberi kode untuk Andi agar pergi dari Cafenya segera mungkin.


"Ya sudah, om Dokter pamit dulu ya. Ardi."


Andi kini pergi, melambaikan tangan ke arah Pras.


Saat Pras mulai masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Apa yang di maksud dokter itu, Om?"


__ADS_2