
Sorot mata Pak Andi begitu menampilkan kebencian pada Haikal. Pak Andi mengira Haikal mau bertanggung jawab, dan tidak menolak mentah-mentah Nina.
Tiba-tiba saja Nina berpura-pura menangis di depan ayahnya, dia memukul-mukul dada bidang Haikal. Seraya berkata," kamu jahat mas. Kenapa kamu tega berkata seperti itu. Harusnya kamu tanggung jawab?"
Haikal belajar bersabar dan berkata bijak tidak tersudut oleh amarah sesaat. Memegang kedua tangan Nina agar berhenti memukul dada bidangnya." Aku tidak pernah menyentuhmu sedikit pun."
Nina menangis menjerit, badannya merosot ke atas lantai." Kamu tega mas. Padahal kamu yang maksa aku untuk melepaskan baju yang menempel dan kamu bilang akan bertanggung jawab atas semuanya!"
"Tanggung jawab apa? Aku tidak menyentuh tubuhmu, melihatnya pun aku tak ingin! Jadi stop membuat Fitnah Bu Nina!"
"Stooopp." Teriakan Pak Andi. Membuat Nina menghentikan tangisannya.
"Buktinya sudah jelas sekarang kamu tidak mau bertanggung jawab? Saya akan penjarakan kamu karna kasus pemerkosaan!"
Ancaman di layangankah oleh Pak Andi. Nina yang mendengarnya tertawa kecil, seraya berbisik dalam hati." Pasti Haikal akan memilih untuk menikah denganku? Dia tidak akan sanggup tinggal di penjara.
"Bagaimana?"
Tanya Pak Andi tegas, amarahnya seakan tak terkontrol membuat lelaki tua itu seketika merasakan sakit di sebelah dada kirinya.
Haikal berdoa meminta pertolongan pada yang maha kuasa dalam hati, agar pilihan yang Haikal pilih akan baik untuk dirinya.
"Baik, aku lebih baik masuk ke dalam penjara dari pada harus menikah dengan anak bapak. yang tidak pernah aku sentuh." Jawab Haikal dengan rasa penuh keyakinan. Bahwa pilihannya adalah yang terbaik untuknya.
Nina mendengar pilihan Haikal, membuat dirinya tak menyangka bahwa Haikal lebih baik memilih masuk ke dalam penjara dari pada menikahi dirinya.
"Haikal apa kamu gila, memilih masuk ke dalam penjara," ucap Nina. Menatap kedua mata Haikal. Nina tak menyangka jika Haikal sebodoh itu.
"Baik kalau itu pilihanmu, besok aku akan melaporkan semua kejahatanmu," ujar Pak Andi.
Haikal tertawa seraya berucap dengan begitu gagahnya dan percaya diri.
"Apa anda punya bukti?"
Pertanyaan itu membuat Nina terdiam pilu.
"Jelas, bukti pasti ada. Saya memasang cctv di setiap ruangan. Tak lupa di kamar anak saya!" jawab Pak Andi. Perasaan Haikal begitu lega. Karna ada cctv pastinya akan ketahuan mana yang bersalah dan tidak.
"Bagaimana kalau kita cek sekarang, biar bukti terlihat nyata di depan mata? Siapa yang bersalah dan tidak," ucap Haikal. Membuat Nina tampak panik dan juga takut.
Dia akan di hantui rasa malu oleh bukti dari rekaman cctv itu.
Sial, kenapa aku tidak tahu kalau papah memasang cctv di kamarku, gerutu hati Nina.
Saat itulah Pak Andi mengajak semuanya untuk menyaksikan rekaman cctv itu. Berbeda dengan Nina ia nampak sibuk dengan kepanikannya.
"Bagaimana ini," ucap pelan Nina. Menggigit jari jemari tangannya.
Semua berkumpul menyaksikan rekaman cctv itu, Nina benar-benar pasrah saat itu. Entah apa yang harus ia lakukan karna semua keadaan begitu menegangkan.
.
Gimana ini, gumam Nina.
Rekaman cctv itu di putar menampilkan Nina yang tengah merayu Haikal. Terlihat Nina mendekat dan mencoba membuka kancing bajunya sendiri, tapi tertahan oleh Haikal, yang mencoba menahan tangan Nina yang membuka kancing bajunya sendiri.
Kedua mata Pak Andi membulat, membuat kedua jari tangannya mengepal. Darah seketika naik pada otak, membuat rasa malu dan kesal beraduk menjadi satu.
Bisik mulut Dira pada telinga kiri Nina," ternyata kita tak jauh beda Nina. Wanita penggoda."
Nina mendorong tubuh Dira hingga terentak ke lantai, sang papah yang melihat kelakuan anaknya langsung menampar pipi kiri Nina begitu keras.
Plakkk .....
Nafas Nina begitu tak beraturan kesal dengan bisikan Dira dan juga tamparan sang papah.
"Kamu ini sudah bikin malu papah, Nina. Kenapa kamu melakukan semua ini," hardik sang papah. Menunjuk pada wajah Nina.
Nina terdiam sembari memegang pipi bekas tamparan papahnya.
Dira tersenyum sinis menatap Nina, Pak Andi langsung membantu Dira untuk segera berdiri.
"Kenapa kamu mendorong Dira Nina? Asal kamu tahu dia akan menjadi istri papah, kamu harus menghormati dia?" ujar sang papah.
Nina yang mendengar perkataan sang papah berkata," aku tidak sudi."
Nina pergi dengan kekecewaan hatinya, rencananya gagal. Haikal begitu susah untuk di dapatkan olehnya.
__ADS_1
Ingin rasanya Haikal berlari mengejar Nina, namun apa daya hatinya sudah kesal karna fitnahan yang di lontarkan Nina.
Dengan terpaksa Haikal pergi meninggalkan rumah Nina dan berpamitan pada ayahnya.
Haikal berucap dalam hati, sembari menunggu angkot yang lewat. Maafkan saya Bu Nina, saya tahu kamu pasti tengah tertekan. Tapi seharusnya kamu tidak harus melakukan hal yang tidak baik dan dapat merugikan orang lain. Karna apa pun yang kamu mulai dengan hal yang tidak baik akan balik lagi ke diri kamu sendiri Bu Nina.
Di sisi lain Dinda memikirkan Haikal yang tak kunjung pulang, pikiran negatipnya terus terngiang di kepala. Membuat kecemasan melanda hati.
"Apa Haikal baik-baik saja." Ucap Dinda, membuka gordeng melihat di balik jendela. Menunggu Haikal pulang.
Druh mobil angkot berbunyi membuat Dinda tak sabar melihat ke luar, siapa yang turun dari mobil.
Ternyata sosok itu bukan Haikal yang pulang, hanya Ibu Marni.
"Kenapa perasaanku enggak enak ya." Ucap Dinda, dengan perasaan cemas dan bulak balik ke kiri ke kanan. Hatinya benar-benar gundah.
"Kaka kenapa?" tanya Lina. Yang baru saja terbangun dari tidurnya, melihat jam sudah menujukan pukul 22:00 malam.
"Kaka lagi nunggui Haikal Lin, sudah jam segini dia belum pulang juga!" jawab Dinda. Menggigit kuku jempol tangannya, ia begitu kuatir sekali.
"Kaka, nanti juga Ka Haikal pulang. Lebih baik kaka istirahat dulu," ucap Lina. Menghampiri sang kaka, menenangkan kegudahan pada hati sang kaka.
"Tapi kaka cemas sekali, takut Haikal kenapa-napa," jawab Dinda.
Lina hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, seraya mengusap pelan punggung sang kaka.
"Sudah biarkan saja, nanti juga Ka Haikal pasti pulang."
Dinda menarik nafas beratnya dan mendengarkan perkataan adiknya, untuk segera tidur karna hari sudah mulai larut malam.
Haikal yang menunggu kendaraan lewat begitu tak kunjung datang, tiba-tiba seseorang memukul pundaknya hingga ia terjatuh dan pingsan.
Saat adzan subuh berkumandan .... Dinda sudah terbangun dari tidurnya, ia bergegas bersiap-siap untuk mandi. Mengambil ai wudhu dan segera Menunaikan shalat subuh.
Pagi menjelang, Dinda buru-buru ke kontrakan Haikal untuk melihat apakah Haikal sudah pulang dengan menenteng nasi uduk buatanya.
Tok ... tok ..." Assalamualaikum."
Pintu pun terbuka, Aidan menjawab salam," Waalaikum salam."
"Ka Haikal belum pulang dari semalam Ka Dinda!" jawab Aidan.
Dinda begitu panik, apa yang di pikirkannya terjadi. Apa benar Haikal tergoda dan terjebak oleh Nina, sampai pagi dia tak pulang-pulang.
"Ya sudah ini nasi uduk buat kamu sarapan." Dinda menyodorkan nasi uduk yang ia bawa untuk Aidan sarapan.
Dinda pulang ke kontrakan dengan keadaan sedikit kesal.
"Kenapa kaka ko cemberut gitu?" tanya Lina. Yang tengah mengikat rambutnya sendiri.
"Haikal belum pulang juga dari semalam!" jawab Dinda. Wajahnya begitu murung, membuat Lina sedikit ingin tertawa.
"Kayanya gara-gara di tolak sama kaka. Pindah ke lain hati," ucap Lina. Merayu kakanya, membuat Dinda memegang dada.
"Apa ya seperti itu?" tanya Dinda.
"Hus, mana mungkin Haikal seperti itu ka, dia lelaki baik-baik tidak mungkin dia mudah tergoda oleh wanita lain!" jawab Lina.
"Iya sih."
Lina menarik legan kakanya ke kamar mandi, ia memberitahu bahwa cucian numpuk.
Rezeki hari ini begitu banyak. Tetangga pada berdatangan untuk mencuci bajunya pada mereka berdua.
Mereka ketagihan karna hasilnya yang sangat bagus dan puas.
"Alhamdulillah, Lina."
"Ya Alhamdulillah, Ka."
Setelah selesai mencuci, Lina menjemur pakaian yang telah mereka cuci. Saat Lina melebarkan baju yang mulai ia jemur, terlihat di depan matanya seseorang tengah berdiri melipatkan kedua tangannya.
__ADS_1
Terlihat Kaki yang putih bersih mulus sudah berada di depan mata, Lina mulai melihat dari ujung kaki hingga ke atas ternyata orang yang tengah berdiri di hadapannya adalah Nina.
"Ngapain kamu berdiri di depanku?" tanya Lina cetus. Gadis manis itu mengibas-ngibaskan baju yang ia tengah jemur di depan Nina hingga air dalam baju itu bercipratan pada wajah Nina.
Lina tertawa menyaksikan Nina yang terkena cipratan air, membuat wajahnya basah. Tanpa segan-segan Lina mengguyur air bekas jemuran pada wajah Nina.
"Hentikan," teriak Nina. Membuat Dinda yang tengah mencuci baju keluar tergesa-gesa.
"Ada apa Lina?" tanya Dinda. Ia melirik pada Nina yang sudah basah kuyup, ulah adiknya sendiri.
"Lina apa yang telah kamu lakukan, kamu sudah membuat Nina basah kuyup," ucap Dinda. Mendekat kearah Nina, Dinda melihat genangan air kotor di pinggir kaki Nina, saat itulah niat jahatnya terpikir.
Menginjak genangan air kotor itu, membuat air itu muncrat pada badan Nina dan membuat baju seksinya begitu kotor.
"Ahk, kalian benar-benarnya membuat aku muak." Hardik Nina, berjalan meninggalkan Lina dan Dinda.
Namun, Lina menarik lengan Nina hingga wanita berambut panjang itu terjatuh.
Brug." Ahk, kalian."
Kedua pipi Nina memerah menahan amarah yang menggebu.
"Aku ke sini datang baik-baik untuk menanyakan Haikal, tapi kalian malah mengerjaiku habis-habisan. Awas saja kalian." Ancam Nina berusaha berdiri. Tapi jalanan tanah begitu licin banyak lumpur membuat Nina terjatuh beberapa kali.
Nina pun pergi dengan keadaan kotor dan basah kuyup, mereka berdua begitu senang dan puas melihat wanita licik itu mendapat ganjaran yang setimpal.
Siang hari di mana rutinitas mencuci dan menjemur selesai.
Dinda terpikir ucapan Nina saat itu.
ia tengah mencari Haikal, bukankah Haikal semalam mengantarkan Nina? Tapi kenapa Nina mencari Haikal? Harusnya Nina tahu keberadaan Haikal?
"Hey, kenapa kakak melamun." Ucap Lina membuat lamunan sang kakak membuyar.
"Kaka kenapa melamun?" Tanya Lina.
Dinda berjalan hingga keluar rumah, di ikuti oleh sang adik. Terduduk di kursi depan kontrakan.
"Kenapa ka?" tanya Lina.
"Kaka ke pikiran Haikal, apa dia dalam bahaya sekarang? Nina pun tak tahu keberadaan Haikal ada dimana?" jawab Dinda dengan semua pertanyaan yang menari-nari di kepalanya.
"Ya, ka Lina juga merasa seperti itu," ucap Lina.
"Apa kita cari Haikal?"
Lina menyenderkan punggungnya pada tiang seraya menjawab!" kita cari ke mana ka?"
Dinda sungguh takut jika Komplotan Burhan dan Fras menyekap Haikal.
__ADS_1