Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 230 Rumah Kosong kebakaran.


__ADS_3

Ada ari mata di ujung sana, ya air mata itu jatuh dari kedua mata Ardi. Ia tidak bisa menahan apa yang dikatakan Nining, sakit. Terlalu sakit. Namun, harus bagaimana lagi. Semua itu harus terjadi pada Ardi.


Cinta memang tidak bisa dipaksakan, sampai kapanpun kamu berjuang. Jika hati memang tak bisa menerima. Dia akan menyerah.


"Aa Ardi teh tidak kenapa kenapa kan?" Tanya Nining dengan raut wajah merasa bersalah.


Ardi membalikan badan, menatap ke arah Nining, walau hatinya rapuh, Ardi berusaha tetap tersenyum.


di mana senyumannya itu mampu membuat hati Nining klepek-klepek.


membuat jantung Nining berdetak takaruan, Bagaimana bisa Nining menahan ketampanan Ardi yang begitu memukau.


Beruntung sekali Lina bisa mendapatkan lelaki begitu baik dan juga sangat mencintainya dengan tulus, akan tetapi ketulusannya itu disia-siakan begitu saja. Bagaimana jika nanti Lina menyesali semua itu.


Di mana dia akan merasakan hal yang terjadi seperti apa yang dirasakan Ardi saat ini, tercampakan.


Haikal mulai mengajak Ardi untuk mencari keberadaan Lina, akan tetapi Ardi malah mundur ia berkata kepada Haikal," Carilah dia Jika kamu yang mencarinya. Dia mungkin akan keluar dari persembunyiannya. Akan tetapi jika aku yang mencari dia, dia akan terus bersembunyi karena tak mau melihat diriku."


"Tapi kamu yang berhak mencari dia. Bukan aku, kamu adalah calon suaminya. sedangkan aku adalah kakaknya."


"Percuma aku menjadi calon suaminya, jika aku hanya mendapatkan raganya, tidak dengan hatinya."


Apa yang dikatakan Ardi memang benar, percuma raga dimiliki jika hati tak memiliki.


Nining memegang dada merasakan sesak di daerah sana, hatinya benar-benar merasakan Rapuh akan sakit hati yang dirasakan Ardi.


Apakah Nining bisa menggantikan hati Lina di hati Ardi.


Apa mungkin gadis desa seperti Nining bisa menikah dengan lelaki kota seperti Ardi?


"Ya sudah atuh, Nining teh mau pergi dulu, Nining juga mau mencari keberadaan Teteh Lina sama ibu sama bapak."


Haikal kini menimpa perkataan Nining, "Ya sudah atuh Neng. Aa Haikal juga ikut saja sama Nining, biar tidak ada kesalahpahaman lagi nanti."


"Terus dengan Aa Ardi bagaimana?"


"Sudahlah Ning, kamu jangan mengkhawatirkan Aa tampan ini, dia bukan anak kecil lagi, dia ini udah gede."


Gurauan dilayangkan Haikal, mencoba mengubah suasana agar tidak terasa menegangkan.


"Lanjutkanlah pencarian Lina demi gue."


Haikal memperlihatkan jempol tanganya, tanda ia akan menemukan Lina dan membawa Lina pada Ardi.


Saat itulah Nining dan Haikal mulai mencari keberadaan Lina, Ardi berharap jika Lina dapat ditemukan.


Sebagai lelaki Ardi tidak boleh banyak berharap kepada Lina, setelah mengetahui perasaan Lina yang sesungguhnya.


Walau terkadang hatinya terasa rapuh, akan tetapi ia harus kuat dan tegar.

__ADS_1


@@@@@


Saat dalam perjalanan, Nining mulai membuka obrolan di depan Haikal.


"A, Nining teh merasa kesal sama teh Lina!"


"Kesal kenapa, Ning?"


Wanita muda yang sudah berani memulai obrolan kepada Haikal, Nining gadis lugu, ia seakan mempunyai harapan jika menbicarakan perasaanya lewat Haikal.


"Masa teteh Lina, enggak bersyukur di cintai sama lelaki tanpa kaya Aa Ardi!"


Haikal mulai mencerna ucapan Nining.


"Ya terus."


"Ya kenapa malah menyia nyiakan, Aa Ardi."


"Jadi Nining suka sama Aa Ardi?"


Pertanyaan Haikal membuat Nining langsung tak sadar mengatakan," Ya iya atuh Nining teh suka, sama Aa Ardi, makanya Nining ngomong kayak gitu."


" Jadi benar dugaan Aa Haikal, dari kemarin-kemari kamu memang suka sama Ardi sahabat Aa Haikal. Makanya kamu bisa menyetujui rencana yang diberikan Lina kepada kamu." Tekan Haikal, Nining hanya menundukkan pandangan, merasa salah dengan apa yang ia perbuat.


"Maafin, Nining. Aa. Nining teh jadi gelap mata, karna cinta," ucap Nining kepada Haikal.


Nining menganggukan kepala ia, mengerti apa yang dikatakan Haikal.


Warga berlarian, melihat rumah kosong yang akan dikunjungi Haikal terbakar. Membuat Nining dengan sepontan berteriak.


"Kebakaran, kebakaran. Ini teh bagaimana, Teteh Lina pasti ada di dalam, rumah kosong itu."


"Tapi kamu yakin, Ning. Lina ada di rumah Kosong itu?"


"Iya Aa."


Nining kini mengigat mimpi semalam yang datang pada dirinya, membuat rasa kuatir, kini Nining rasakan.


"Bagaimana ini? Jangan jangan."


"Jangan jangan, bagaimana kamu ini?"


"Iya itu, teteh Lina!"


Haikal segera berlari menuju rumah kosong yang sudah hampir terbakar sepenuhnya, warga hanya bisa berupaya semampunya, karna jarang di desa ada pemadam kebakaran, karna desa Haikal yang memang terkesan jauh. Dari kota dan tempat ramai.


"Teteh Lina, semoga Teteh Lina teh selamat."


Kekuatiran di rasakan Nining, rasa bersalah terus larut dalam bayangan Nining, bagaimana jika dalam mimpi itu menjadi kenyataan.

__ADS_1


Nining berusaha semampu yang ia bisa membawa air untuk memadamkan api, akan tetapi api semakin menyala nyala, menelan rumah kosong yang mewah itu.


Haikal tidak di izinkan masuk karna bara api yang begitu menyala nyala.


"Haikal, kamu teh jangan bertindak bodoh."


"Tapi pak, ada teman saya di sana."


"Sudah, jangan ngaur kamu, di rumah itu sudah tidak ada penghuninya, rumah itu sudah kosong, enggak mungkin ada orang."


"Tapi pak."


"Sudah tak usah tapi tapi."


Badan dan wajah Nining sudah kotor dengan debu asap, membuat gadis desa itu menangis.


"Teteh Lina, maafin Nining."


Menangis dan terus menangis, bayangan Lina seakan mengelilingi kepalanya.


Haikal menghampiri Nining untuk segera menjauh dari bara api yang terus menyala-nyala di rumah kosong itu.


Akan tetapi Nining duduk sembari menangis menyesali semuanya.


"Ning, ayo."


"Tapi."


Haikal berusaha mengajak Nining untuk mencari ke belakang rumah kosong itu, walaupun masih ada semburan api yang terus menyala.


"Ayo Ning."


Nining berdiri dengan langkah ngontai, hatinya sudah rapuh, melihat rumah kosong itu sudah hampir terbakar habis.


Mereka berdua kini berjalan menelusuri hutan, untuk melihat ke belakang rumah kosong itu, kebetulan rumah kosong itu dikelilingi pohon dan juga dekat dengan hutan.


Haikal dan juga Nining berjalan berhati-hati menginjak tanah di dalam hutan, ia takut jika menginjak ular, karna terkadang ular selalu ada di dalam hutan.


" sebenarnya Kenapa kita teh ke sini?"


saat itu Haikal melihat lelaki membopong seorang wanita, yang entah Haikal tak tahu siapa lelaki itu.


"Kenapa, Aa teh."


Haikal menutup mulut Nining dengan telapak tangannya, agar sang keponakan tidak banyak bicara.


"Kamu diam dulu Ning, jangan banyak bicara. Coba kamu lihat mereka."


Kedua mata Nining membulat. Melihat lelaki menaiki mobil dengan membopong seorang wanita.

__ADS_1


__ADS_2