
Lina kini kembali ke kamarnya, ia melewati kamar Dinda kakanya yang menutup.
"Sudah di dapur, pindah ke kamar, dasar enggak punya malu."
Entah kenapa Lina akhir akhir ini, sering marah marah tak jelas. Apalagi setelah melihat Haikal dan kakaknya yang semakin hari semakin mesra.
Apa Lina merasakan rasa cemburu pada hatinya, apa dia tak nyaman dengan semua tingkah Haikal dan kakaknya.
Sore hari, pada saat itulah Dinda mulai menyiapkan makan malam, ia melangkah maju ke dapur. Yang ternyata di dalam dapur ada Lina tengah memasak.
"Lina, kamu sedang apa?" tanya sang kakak kepada adiknya.
Lina begitu fokus memotong motong sayuran, ia mejawab perkataan kakaknya dengan sedikit bernada cetus.
"Memangnya kakak enggak bisa lihat, aku sedang apa !"
Deg ....
Hati Dinda merasa heran, kenapa nada suara adiknya seperti itu. Tidak seperti biasanya.
"Biar kakak bantu, ya," ucap Dinda. Memegang sayuran yang tak jauh dari hadapan Lina
Lina menatap sekilas ke arah tangan kakaknya yang memegang sayuran yang tengah ia potong sebagian.
"Tak usah ka, semua sudah mau beres. Kakak tinggal duduk aja." Ucap Lina.
Dinda mulai melepaskan sayuran yang ia pegang saat itu, sedangkan Lina begitu sibuk memotong sayuran yang berada di hadapannya.
"Kenapa dengan adikku?" gumam hati Dinda.
Dinda membalikkan tubuhnya pergi dari arah dapur, dia membiarkan Lina memasak sendirian.
Lina mulai merapikan meja makan, hingga Lina datang membawa hidangan yang ia masak sendiri.
"Kak, jangan diam aja. Tuh bawa, masih banyak." Printa Lina dengan lancangnya pada sang kakak.
"Iya Lina."
Dinda kini membantu sang adik membawakan semua hidangan ke meja makan, hingga Haikal tiba dengan tersenyum senang, mencium bau masakan yang menusuk pada hidung.
"Mm, wanginya."
Dinda tersenyum melihat sang suami datang, begitu pun dengan Lina. Sang adik dengan sigap menyediakan air putih untuk Haikal minum terlebih dahulu.
"Ini ka, minum."
"Wah, Lina baik baget."
Lina tersenyum dengan pujian yang terlontar dari mulut Haikal, sedangkan Dinda hanya terdiam keluh. Ia heran dengan tingkah adiknya yang berbeda akhir akhir ini.
"Lina, kamu yang masak?" tanya Haikal.
Lina menggangukkan kepala, menjawab dengan senyum bahagia." Iya ka. Ayo kak di coba."
__ADS_1
Haikal perlahan mencoba masakan Lina," Wah. Ini enak sekali."
Kedua pipi Lina memerah saat Haikal berkata masakannya begitu enak.
"Yang benar, kak?"
"Iya."
Dinda kini perlahan duduk di kursi, ia mulai menyiapkan makanan untuk dirinya. Begitu pun menyidukan beberapa sayuran untuk Haikal.
Namun baru saja tangannya mengambil sayuran, Lina dengan gesit mendahului sang kakak.
"Ini ka, ayo di makan. Ini pasti tak kala enak," ucap Lina tersenyum senang. Di kala melayani makanan Haikal.
"Iya ini enak sekali," balas Haikal.
Dinda menundukkan pandangan, mengepal erat tanganya. Kenapa dengan Lina yang begitu jauh berbeda. Tidak seperti biasanya, Lina terlihat seperti orang yang menyukai Haikal suami kakaknya.
"Dinda kenapa kamu diam saja, ayo makan. Masakan adik kamu ini enak sekali, tak jauh berbeda dengan masakan kamu," ucap Haikal. Membuat Lina kesal, menyamakan masakannya dengan masakan kakaknya.
"Iya," balas Haikal.
Dinda menatap sekilas ke arah wajah Lina. Yang terlihat tak suka dengan perkataan Haikal.
Baru beberapa menit, menyuapkan nasi. Tiba tiba Dinda, ingin muntah seketika. Ia berlari ke kamar mandi, membuat Haikal panik.
Haikal, menghentikan makananya. Ia langsung menghampiri Dinda yang berlari ke kamar mandi.
"Dinda, Dinda."
beberapa kali Haikal mengetuk pintu kamar mandi, menyebut nama istrinya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Haikal.
Dinda terus saja mengeluarkan isi dalam perutnya. Iya kini menjawab ucapan sang suami." Aku mual mas."
"Mual, besok kita ke dokter, ya."
sedangkan Lina yang masih berada di meja makan, tak meneruskan lagi makannya. Ia menaruh piring ke dalam dapur dan berkata." Mulai lagi lebainya."
Beberapa menit kemudian Dinda ke luar, yang di mana Haikal Tengah menunggu istrinya." kita ke dokter saja sekarang."
" sudah, tak usah. Mungkin aku hanya masuk angin saja, Mas. Besok juga mendingan."
"Kamu yakin."
Dinda menganggukkan kepala. Ia kini di bantu berjalan oleh Haikal menuju kamar tidur.
"Pelan pelan, ya. Jalannya."
Lina menetap Kemesraan Haikal dan juga kakaknya membuat ia berucap," kalau sakit itu jangan di lebai lebai'in kak."
Deg ....
__ADS_1
Ucapan Lina sedikit membuat relung hati sang kakak sakit, adik yang ia sayang begitu tega berkata seperti itu. padahal Lina dulu begitu perhatian kepada dirinya, tapi sekarang Lina seperti menjadikan Dinda musuh.
"Lina, kamu kenapa kok bicara begitu pada kakakmu?" tanya Haikal.
Lina memajukan bibir atas bawahnya, ia pergi dikala Haikal berkata seperti itu.
" Lina, kamu mau ke mana?" Teriak Haikal. Lina terus berjalan hingga keluar rumah, tak mempedulikan teriakan Haikal yang terus memanggil-manggil namanya.
"Kenapa dengan adik kamu, Lina. Dinda?" tanya Haikal.
Dinda menatap perlahan ke arah Haikal dan berkata." Entahlah Mas. Aku kurang tahu, akhir akhir ini. Lina seakan berubah."
"Ya, sudah. sekarang Mas antarkan kamu dulu ke kamar, nanti mas akan menyusul adikmu," balas Haikal.
perlahan Haikal mengantarkan sang istri menuju kamar, menidurkan Dinda.
"Mas, cari dulu. Adikmu ya."
"Iya, mas."
@@@@
Saat itulah Haikal mulai mencari keberadaan Lina, yang entah Wanita itu pergi ke mana.
Haikal mencari ke sana ke mari. Tapi tak menemukan Lina, " Ke mana kamu Lina."
Hingga di mana Haikal berjalan ke arah taman, yang tak jauh dari kediamnya. Ia melihat Lina tengah duduk sendiri."Hah, itu Lina."
Haikal langsung menghampiri Lina, " Lina. kenapa kamu malah pergi ke sini."
Lina menatap ke arah Haikal, dengan kedua mata yang berkaca kaca. Membuat Haikal langsung duduk di samping kiri Lina.
"Kenapa kamu menangis."
Lina hanya diam, ia menundukkan kepala. Tak menjawab perkataan Haikal.
"Apa kakak salah."
Haikal terus saja bertanya kepada Lina. Namun Lina tetap mengacuhkan pertanyaan Haikal.
"Ayo ceritalah, Lina. Kenapa kamu malah berlari ke taman?"
Haikal berusaha tetap tenang dan terus bertanya, tentang perubahan Lina.
"Apa kakak punya salah pada kamu, Lina?"
" Sudahlah, kak. Sebaiknya kakak pergi dari sini, Lina mau sendiri." Cetus Lina.
Lina mulai berdiri dari tempat duduknya, membuat Haikal meraih tangan Lina dan berkata," kenapa malah pergi. Ceritalah, kakak siap mendengarkan kesedihanmu Lina."
Dengan kekesalan yang terasa pada hati Lina, ia malah melepaskan tangan Haikal. "Aku tak butuh."
Lina berjalan begitu cepat, membuat Haikal mengejar kembali adik istrinya itu.
__ADS_1
"Lina, kamu mau ke mana?" tanya Haikal.
Haikal mengejar Lina, hingga di mana Lina terjatuh. Membuat Haikal panik.