
#Kau buang istrimu seperti sampah kupungut dia seperti permaisuri.
#Dia_Anugrah_Terindahku
Tidak ada kesuksesan yang tercapai langsung di depan mata, begitu banyak rintangan yang di hadapkan Haikal. Lelaki berhidung mancung itu tak pernah lelah bekerja keras untuk mencapai ke inginannya. Membahagiakan ibu tercinta dan juga Menikahi Dinda wanita yang sederhana yang mampu membuat dirinya terpana.
Apalah arti sebuah status wanita, kalau cinta sayang apapun lelaki akan menerima dengan apa adanya. Apapun yang di pilih pasti mempunyai resiko, besar kecilnya sebuah resiko, bisa tidaknya tergantung kita yang selalu ikhlas dalam menjalankan hidup.
"Haikal, kinerja kamu bagus, saya suka. Kamu bisa mengembangkan produk kami. Dengan giat memasarkan, membuat konsumen begitu senang. Terima kasih Haikal," ucap Pak Hardiansyah. Kepada Haikal.
Lelaki berbadan gendut itu ialah bos besar di perusahaan Haikal yang ia tempati. Semua belum seberapa bagi Haikal, masih banyak yang harus ia tempuh. Demi cita-cita dan juga harapan. Semua berkat Doa ibu.
Haikal berterima kasih kepada Bu Nunik yang selalu baik kepadanya, selama mengontrak di Bu Nunik. Haikal merasa senang karna Bu Nunik seperti keluarga sendiri.
"Bu, terima kasih ya. Selama Haikal di sini ibu selalu bantu Haikal," ucap Lelaki berhidung mancung itu. Ia berpamitan untuk pulang ke kampung menemui sang ibu. Karna selama masa idah Dinda sudah selesai Haikal berjanji akan menemui calon istrinya kepada ibu di kampung. Dan segera melangsungkan pernikahannya.
"Nak Haikal. Tidak perlu berterima sih, Nak Haikal sudah ibu anggap sebagai anak ibu sendiri. Jadi jangan sukan-sukan kalau Nak Haikal perlu apa-apa sama ibu," jawab Bu Nunik. Ada rasa sedih menyelimuti hati wanita tua itu, karna setelah menikah Haikal sudah pindah dari kontrakan dan menetap di perumahan yang sudah ia beli walau dalam keadaan mencicil.
"Ini, bu. Uang kontrakan yang menunggak, maaf ya Bu, Haikal baru bisa bayar sekarang," ucap Haikal menyodorkan amplop berwarna putih kepada Bu Nunik.
"Ibu Ikhlas bantu kamu Haikal, sudah ini buat bekal kamu nanti di kampung!"
Bu Nunik menolak pemberian Haikal saat itu. Tapi Haikal terus saja memaksa, hingga pada akhirnya wanita tua itu menerima pemberian Haikal.
"Terimakasih Haikal."
Haikal mencium punggung tangan Bu Nunik dan berpamitan untuk pulang kampung. Bersama Dinda, Aidan dan juga Lina.
"Hati-hati ya Nak Haikal."
"Ya Bu."
Air mata Bu Nunik seketika mengalir begitu saja, ada rasa sedih ketika Haikal berpamitan untuk pergi.
"Haikal semoga kamu bahagia," ucap Bu Nunik. Menatap pada punggung Haikal yang sudah mulai tak terlihat lagi.
Ibu-ibu di kontrakan seakan merasa sedih, melihat kepergian Haikal.
Di dalam bis, Dinda merasa kenangan awal pertama berjumpa dengan Haikal teringat kembali. Ia tak menyangka bisa berjodoh dengan Haikal yang menerima dirinya apa adanya.
Perjalanan begitu jauh, membuat punggung Haikal merasa pegal. Rasanya tak sabar menemui sang ibunda tercinta, memperkenalkan Dinda pujaan hatinya pada sang ibu.
Berjalan dengan melangkah penuh kebahagiaan. Setelah sampai di rumah sang ibu.
Begitu banyak orang berkumpul, ada bendera kuning berkibar membuat hati Haikal seakan tak karuan.
"Ada apa ini, kenapa orang-orang berkumpul di rumah emak."
Ucap Haikal berlari menghampiri rumah kumuh yang hanya mengandalkan bilik seadanya.
__ADS_1
Bu Sari datang dengan air mata yang mengalir mengenai pipi, menghampiri Haikal.
"Ada apa ini Bi Sari, kenapa orang-orang berkumpul di rumah emak?" tanya Haikal panik, melihat bendera kuning berada di halaman rumahnya.
"Tenang ya, Haikal. Tenang!" jawab Bu Sari, ia berusaha menenangkan keponakannya. Air mata Bu Sari terus saja mengalir, tak kuat kenyataan yang sebenarnya terjadi.
"Bagaimana aku bisa tenang bi, baru saja semalam aku menelepon emak. Ingin memberi kejutan pada emak, tapi nyatanya apa. Bendera kuning ini sudah berada di halaman rumah," ucap Haikal. Ia sudah tak sabar ingin melihat ibunda tercinta.
"Tenang Haikal, jenazah ibu kamu tengah di mandikan. Kamu harus tenang," ucap Bi Sari. Terisak-isak menjelaskan semuanya
"Itu tidak mungkin, emak belum jadi jenazah emak masih sehat emak masih hidup," teriak Haikal orang-orang di sana menangis melihat Haikal yang histeris berteriak.
"Yang sabar Haikal, ini sudah takdir. Ikhlaskan nak," ucap Bu Sari adik dari ibunda Haikal itu langsung memeluk tubuh keponakannya.
"Bi, ini tidak mungkin!"
Haikal seakan tak menerima semuanya, tubuhnya merosot ke atas tanah, menangis sejadi-jadinya meremas rambut dengan kedua tangannya. Ada rasa sesal, sesal yang mendalam dan mendera di hati.
"Emak, kenapa mak tega ninggalin Haikal mak?"
Dinda menghampiri Haikal, mencoba untuk menenangkan lelaki berhidung mancung itu.
"Sudah yang sabar Haikal. Semua sudah takdir yang maha kuasa, ikhlas kan. Agar ibu kamu tenang."
Haikal terdiam mulutnya keluh, seakan semua seperti mimpi. Mimpi buruk.
"Haikal, ayo bangkit nak. Kita temui emak kamu ayo," ucap Bu Sari mencoba merangkul Haikal agar berdiri dibantu oleh Dinda.
Dengan memaksakan diri, Haikal bangkit berjalan walau dalam keadaan sempoyongan, melihat jenazah sang ibu yang terbaring dengan memakai kain kapan berwarna putih.
Wanita tua yang melahirkannya, mendidiknya, menyayanginya, menjaganya. Hingga Haikal tubuh besar dan bisa sukses sekarang.
Tubuh Haikal merosot, menghampiri jenazah sang ibu, wajah sang ibu begitu berseri. Terlihat senyuman kecil tergambar dari raut wajahnya.
Haikal mencoba tenang berusaha untuk kuat, menahan air mata yang ingin selalu mengalir.
Bibirnya bergetar hebat, berusaha kuat tapi hati seakan tak menerima semuanya.
"Emak, Haikal minta maaf. Haikal baru bisa menemui emak, di saat keadaan emak seperti ini. Dimana emak sudah menghadap sang maha kuasa. Haikal minta maaf mak," ucap Haikal dengan bibir bergetar mencoba tegar. Ia mencium kening sang ibunda. Perlahan untuk yang terakhir kalinya.
"Haikal, sudah ya nak. Jangan tangisi emak kamu lagi. Kamu harus kuat, biarkan emak kamu tenang di alam sana," bujuk Bu Sari. Kepada Haikal. Karna sebentar lagi jenazah akan di makamkan.
"Iya bi."
Saat itulah dimana jenazah ibunda di makamkan, di setiap perjalanan menuju pemakaman Dinda terus menenangkan Haikal.
Pemakaman sang ibunda berjalan lancar, doa di panjatkan. Setelah selesai semua orang berpamitan dan bersalaman pada Haikal.
Haikal memegang batu nisan sang ibunda. Seraya berkata.
__ADS_1
"Terimaksih atas segalanya emak."
"Kita pulang Haikal," ucap Bi Sari
"Iya Bi!"
*********
Burhan yang mendengar kabar dari sahabatnya, kesal sunguh kesal sang mantan menikah.
"Dinda aku tidak akan membuat kamu bahagia sebelum dendamku terbalas."
Ucapan Burhan pada dirinya sendiri.
"Ada apa Burhan, kenapa kamu seakan kesal begitu?" tanya Fras di dalam penjara.
"Bagaimana aku tidak kesal, si Dinda akan menikah!" jawab Burhan. Menggenggam erat jeruji besi penjara.
"Sudahlah ikhlaskan saja si Dinda itu. Setelah keluar dari penjara kamu bisa cari wanita lain," hibur Fras pada sahabatnya itu. Tapi Burhan tidak menanggapi perkataan Fras.
"Kamu kenapa sih sebenarnya sama si Dinda, Emang dia punya salah apa?" tanya Fras. Lelaki gondrong itu heran dengan Burhan yang mempunyai dendam tapi tak di ungkapkan pada semu orang.
"Kamu tak harus tahu!" cetus Burhan.
Fras yang mendengarnya hanya mengaruk kepalanya, hanya terasa gatal ketika Burhan selalu menyimpan rahasia.
"Ya sudah lah. Kalau kamu gak mau bilang, padahal aku ingin menyuruh anak buahku, untuk menghancurkan si Dinda itu," tawaran Fras.
"Kamu bisa bantu aku," ucap Burhan. Mendengar tawaran sahabatnya.
Ayo cepat ceritakan," desak Fras. Kepo dengan rahasia yang di pendam oleh Burhan selama ini.
Burhan terdiam ia masih ragu untuk menceritakan semuanya pada Fras.
"Kenapa diam ayo?"
Fras terus mendesak Sahabatnya itu agar berkata jujur.
"Sebenarnya, semua bukan karna kesalahan Dinda seutuhnya. Semua karna kesalahan orang tua Dinda di masa lalu."
"Jadi, kamu balas dendam sama anaknya. Emang kesalahan apa yang di perbuat orang tua Dinda sampai kamu dendam sama anaknya?"
Menarik nafas pelan Burhan mulai menceritakan semuanya.
"Kedua orang tua Dinda sudah membuat ibuku mati!"
Fras langsung kaget bukan main, Burhan mengatakan mati.
"Kenapa bisa?"
__ADS_1
.
Burhan menceritakan masal lalunya di dalam penjara. Tapi sang polisi malah menarik Fras keluar, entah ada apa Fras malah di bawa oleh polisi begitu saja.