Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 196 Wawan dan Abdul


__ADS_3

"Jadi sekarang wanita bernama Nina itu. Sudah mati?" tanya Ardi.


"Seperti yang di ceritakan saya tadi, sebelum Nina dibunuh, kata Tuan Pras kami boleh melakukan apa saja terhadapnya. Dan untuk manyatnya ...."


Ardi menghentikan penjelasan Wawan," maksud kalian melakukan?"


"Ya. Melakukan apa saja seperti memper*os* wanita itu!" jawab Abdul dengan santainya.


Ardi mulai ingat dengan kekesalan yang terdengar dari mulut Alya pada Pras, yang di mana Alya memarahi Pras sembari menangis. Dengan menyebut kesucian.


"Jadi makanya itu kalian berani, ingin. Memperk*s* Alya, karna Pras sudah mengambil kesucian Alya?" tanya Ardi.


"Ya Tuan Ardi!" jawab Wawan.


"Bereng**k kalian, perlakuan kalian itu sudah di luar batas, kalian tega," pekik Ardi.


"Maafkan kami," ucap Wawan dan juga Abdul.


Ardi ingin sekali mencekik leher mereka berdua, membuat mereka mati seketika. Namun apa daya itu tak mungkin, karna ia tak berhak membunuh orang.


"Ya sudah, kalian ikut kami ke kantor polisi untuk menjelaskan semuanya," ucap Ardi.


"Tapi kami berdua tidak mau di bawa ke kantor polisi," balas Wawan.


"Sudah kalian ikuti saja apa kataku, kalian tidak akan masuk ke dalam penjara, tenang saja," ucap Ardi.


Wawan dan Abdul menatap satu sama lain, mereka seakan tersenyum kecil tanpa Ardi tahu.


Lina. Kini berucap pelan pada Ardi.


"Apa kamu yakin akan membawa mereka ke kantor polisi untuk menjelaskan kejahatan Pras?"


"Entahlah. Tapi ini jalan satu satunya, agar kita tahu bahwa yang bersalah atas kematian Dinda adalah Omku sendiri!"


"Aku sedikit ragu terhadap mereka berdua."


"Ragu? Apa yang kamu raguku dari mereka?"


"Kamu lihat saja wajah mereka, terlihat wajah orang orang muna!"


"Ahk, itu hanya pikiran negatip kamu saja mungkin, Lina."


Lina tak percaya jika Ardi tak mempercayai dirinya yang merasa curiga terhadap Wawan dan Abdul, apalagi mereka bedua adalah pelayan Pras.


Yang terlihat dari pandangan kedua mata Lina, mereka seperti orang yang suka bersilat lidah.

__ADS_1


"Tapi Ardi?"


"Sudah percaya padaku, kita bisa membawa mereka agar menjadi saksi kejahatan Pras. Omku sendiri."


"Bukan masalah jadi saksinya, tapi aku melihat merek seakan ingin mempermainkan kita."


"Mempermainkan apa? Mereka sekarang ada di tangan kita, mereka tak bisa lari dari kita berdua."


memang benar yang diucapkan Ardi, Wawan dan Abdul sudah dikendalikan oleh Ardi, untuk berpihak pada Ardi.


Haikal berjalan dengan kaki yang merasa sakit, menghampiri Lina dan berkata," Kamu jangan terlalu memikirkan apa yang akan dilakukan Ardi. Percayalah pada dia, pasti dia bisa melakukan apa yang menurutnya itu baik untuk kita semua."


ucapan Haikal perlahan mampu menenangkan hati Lina yang merasa kesal terhadap calon suaminya sendiri, bagaimana Lina tidak menyukai suami Kakaknya sendiri, HaiKak begitu baik dan lembut mampu membuat hati wanita luluh seakan tak ada beban yang ia pikul saat itu.


Lina kini perlahan melebarkan bibirnya, tersenyum di hadapan Haikal yang sudah membuat hatinya tenang.


sedangkan Ardi begitu sibuk menyeret dan membawa kedua pelayan Pras, untuk menjelaskan semuanya di kantor polisi.


"Tuan kami mau di bawa ke mana sekarang?" tanya Wawan.


" kita kan mau ke kantor Polisi, untuk menjelaskan semua yang terjadi pada kalian berdua. Kalau kasus ini terus dibiarkan saja kemungkinan besar Tuan kalian Pras. akan merasa paling hebat."


Wawan dan Abdul kini memperlihatkan wajah keluguan mereka di depan Ardi. Saat Ardi menyuruh mereka masuk ke dalam mobil.


Lina yang melihat keluhan itu seakan kesal dan tiba-tiba saja menyindir kedua pelayan itu," Sudahlah, kalian jangan berpura-pura. Aku tahu di balik keluguan kalian itu ada sesuatu yang kalian sembunyikan dan simpan."


"sudahlah, Lina. Sebaiknya kamu ikut saja denganku. Jangan banyak bicara, mumpung waktu masih lama. kita harus segera mungkin mencari barang bukti untuk bisa menjebloskan Pras ke dalam penjara, yang mungkin bisa membuat hidupnya hingga mati di dalam penjara."


pada akhirnya Lina mengalah dengan perkataan Ardi. wanita itu kini masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kiri kedua pelayan yang sangat ia benci.


"Kenapa?" tanya Lina. membulatkan kedua matanya ke arah Wawan dan juga Abdul.


sontak mereka berdua langsung menggelengkan kepala, saat melihat tatapan Lina yang begitu menyeramkan.


"Makanya jangan macam macam kalian berdua."


kedua pelayan itu kini tak berani menatap Lina, yang berada di samping kiri mereka berdua. Sedangkan Haikal duduk sendiri di belakang kursi mobil.


kini Ardi mulai melajukan mobilnya untuk segera pergi ke kantor polisi, dengan membawa Abdu dan juga Wawan, yang akan dijadikan Ardi sebuah saksi akan kekejaman Pras sendiri.


@@@@@


Namun di dalam mobil, terlihat sekali Pras seakan kesal, iya terus mengamuk terhadap Pras untuk segera menghentikan mobilnya.


Alya kita segan-segan memukul Pras yang tengah mengendarai mobil.

__ADS_1


Dengan mendadak, Pras mengeremkan mobilnya ke arah sisi. Seketika membuat Alya terbentur begitu saja.


"Bodoh. apa apaan kamu ini Alya, kamu ini cari mati apa? Bisa bisanya memukulku terus menerus."


"Aku sudah bilang, aku tidak mau ikut dengan lelaki bereng*e* seperti kamu." Teriak Alya di dalam mobil.


Saat itulah Pras dengan lantangnya memukul Alya, membuat Alya seketika pingsan.


Mobil terus Pras lajukan, ke sebuh tempat terpencil.


Dimana ia mempunyai vila.


Sengaja Pras membeli Vila itu, jika sewaktu waktu ia menjadi buronan polisi.


Setelah sampai di Vila para pelayannya yang menjadi suruhan Pras ternyata sudah sampai terlebih dahulu di vila itu.


"Bagaimana?" Vila yang aku pesan nyamankan?" tanya Pras yang sudah turun dari mobil.


"Tuan memang hebat," ucap para suruhan yang ikut serta dengan Pras.


kini Pras menyuruh para pelayan wanita untuk membawa Alya yang pingsang masuk ke dalam vila.


"Cepat bawa nona Alya masuk."


"Baik tuan."


Pras mencari seseorang yang sangat membuat dirinya jengkel.


"Ke mana Wawan dan Abdul?"


tanya Pras pada palayan yang berkumpul menghadap Pras saat itu.


"Sepertinya mereka berdua tidak mengikuti kami!" jawab para pelayan.


"Sial, kenapa mereka berdua malah masih berada di Cafe. Ini gawat sekali, bagaimana jika mereka berdua di tekan paksa oleh Ardi?" Gerutu Pras.


"Maaf tuan. Saya memantau rekaman cctv di cafe kita," ucap salah satu satpam. Menujukkan rekaman Cctv yang ia putar.


"Sepertinya Wawan dan Abdul, berada di tahanan tuan Ardi," ucap pelayan itu.


Pras mengepalkan kedua tanganya kesal dengan apa yang ia lihat," ceroboh sekali kalian. kenapa kalian tidak mengigatkan mereka?"


Pras murka, ia menyalahkan para pelayannya.


"Kami lupa tuan."

__ADS_1


"Kalian benar benar, hah. Bodoh."


__ADS_2