Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 176


__ADS_3

Ardi kini menghampirina, merangkul bahu calon istrinya. membuat Lina menyenderkan kepalanya pada dada bidang Ardi.


Melihat kemesraan yang terlihat pada Lina dan juga Ardi, Haikal kini melangkah mundur, mencoba tidak mengganggu kemesraan mereka berdua.


walau mungkin terasa pilu, bagi Haikal sendiri. karena dirinya menjadi seorang lelaki yang hanya bergantung pada dirinya sendiri.


Ia merasa kesepian, tanpa dinding penguat. Tanpa seseorang di sampingnya. Hati Haikal begitu hancur, orang yang ia cintai sudah meninggalkannya.


kini para suster mulai datang ke ruangan, untuk meminta izin membawa jenazah untuk segera dimandikan.


Haikal kini mengizinkan para suster itu memandikan jenazah istrinya, Lina yang tak kuasa melihat sang kakak yang akan dimandikan hanya bisa memeluk Ardi seraya menangis tiada henti.


"Kamu harus tenang Lina."


Haikal berusaha menahan air matanya yang akan jatuh mengenai kedua pipinya, ia berusah tegar dan kuat.


Kini Lina dan Ardi, mulai ke luar dari ruangan. Menunggu Dinda selesai di mandikan dan kain kapankan.


Bu Maya yang ternyata menyusul ke rumah sakit, kini mencari keadaan Ardi dan juga Lina.


wanita tua itu terus bertanya pada para suster yang berjalan melewati dirinya.


namun saat Bu Maya bertanya kepada para suster itu, di sanalah Bu Maya langsung melihat Ardi dan Lina berjalan.


"Itukan Ardi dan Lina?"


Bu Maya mulai berlari menghampiri anaknya, dengan perasaan gelisah. Bu Maya langsung memarahi Ardi dan juga Lina.


"Kalian ini, Kenapa kalian bisa kabur dari rumah sakit. tanpa meminta izin dulu kepada ibu, kamu tahu sendiri kan Ardi, kondisi Lina belum stabil dan belum normal kembali," ucap sang ibu yang terus berbicara membuat kepala Ardi sedikit terasa pusing.


"Stop bu, bisa tidak Ibu mengecilkan volume Ibu dulu, jangan terus-terusan nyerocos tanpa jeda. Lina ini sedang berduka atas meninggalnya Dinda, kakaknya sendiri," balas Ardi. Membulatkan kedua matanya.


wanita tua itu kini tertohok mendengar jawaban yang terlontar dari mulut anaknya, segera mungkin ia menutup mulutnya Yang terbuka lebar dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"Dinda, wanita yang baru kemarin bertemu dengan ibu, saat acara lamaran kamu?" tanya Bu Maya.


Ardi yang masih merasa kesal dengan tingkah sang ibu, kini menjawab dengan bernada cetus." Iya bu."


" makanya Ardi sengaja tidak mengangkat panggilan telepon dari ibu, pastinya ibu akan banyak bertanya dan menyalahkan Ardi begitu saja," ucap Ardi.


Sang ibu kini membukam mulutnya rapat rapat, ia merasa bersalah. Karna bertanya dengan begitu emosi.


Bu Maya langsung menghampiri Lina, terlihat kedua mata Lina begitu bengkak karna terus menerus menangis.


"Maya, maafpin ibu ya." ucap Bu Maya memeluk tubuh Lina dengan begitu erat.


"Ibu tidak salah kok, Lina yang salah. Bersikukuh ingin datang ke rumah sakit melihat jenazah Kak Dinda yang terakhir kalinya, harusnya Lina menyadari kondisi Lina yang belum setabil." malas Lina disertai dengan isak tangis.


sang Ibu mengusap belakang punggung Lina, menenangkan semua kesedihan yang dirasakan calon menantunya.


" kamu harus kuat Lina, jangan terus larut dalam kesedihan."


Bu Maya kini melepaskan pelukannya secara perlahan, kedua tangannya memegang pipi Lina," kamu lihat ibu, kamu jangan menangis lagi ya. kamu tidak sendirian Lina. ada ibu yang akan menjadi pengganti kakakmu."


Lina menganggukkan kepala, Bu Maya langsung mencium kening Lina dengan penuh kasih sayang. saat itulah Lina merasa bahagia, hatinya merasa tenang. saat Bu Maya terus menyemangatinya.


Haikal yang mengintip di balik tembok hanya bisa menutupi kesedihannya dengan senyuman keterpaksaan," Dinda. sekarang adiknya sudah mempunyai keluarga baru, Jadi kamu jangan khawatir ya. Iya pasti akan bahagia dengan keluarga barunya."


Ardi kini menyadari Haikal yang tengah mengintip di balik tembok, membuat ia berjalan menghampiri Haikal.


Ardi merasa heran Haikal tak menyadari kedatangan Ardi yang sudah berada di depannya.


entah apa yang tengah dipikirkan Haikal, membuat Ardi langsung menepuk bahu sahabatnya itu. membuat Haikal terkejut.


" kenapa dari tadi aku panggil kamu kamu tidak jawab? sebenarnya apa sih yang sedang kamu pikirkan saat ini. Haikal." ucap Ardi.


" tidak ada yang aku pikirkan Ardi, hanya saja aku bahagia melihat kebahagiaan Lina bersama keluargamu, aku bersyukur jika Lina akan segera menikah denganmu." balas Haikal.

__ADS_1


Ardi Yang tengah jahil kini bertanya kepada sahabatnya itu," semua juga berkat kamu Haikal, jika bukan karena kamu, mungkin aku tidak akan tertantang untuk bisa memiliki Lina yang ternyata menyukai kamu dari dulu."


Deg ...


Haikal tiba-tiba saja menjadi salah tingkah, saat Ardi membahas di mana Lina pernah menyukai dirinya.


" Sudahlah aku tidak ingin memikirkan hal-hal yang tidak penting, Aku hanya ingin melihat kamu segar seperti dulu, tidak malas-malasan di dalam rumah," ucap Ardi. berusaha menyemangati sahabatnya itu.


Haikal kini tersenyum, iya beruntung mempunyai sahabat seperti Ardi yang selalu menyemangatinya dalam suka maupun duka.


" Terima kasih Ardi kamu sudah menyemangatiku dalam kesedihan yang saat ini aku rasakan. karena kehilangan orang yang aku cintai, mengajarkan aku untuk tetap kuat dan bisa menerima segala yang sudah ditakdirkan yang maha kuasa."


Ardi menepuk bahu Haikal dan menjawab pertanyaan nya saat itu juga," Kita kan best friend, mana mungkin seorang best friend Harus melihat sahabatnya bersedih."


awalnya Ardi ingin memberitahu tentang penyelidikan yang sudah Iya telusuri kepada Haikal. akan tetapi melihat Haikal yang terlihat begitu capek, membuat Ardi langsung mengurungkan niatnya.


" Ada apa sih bro, kok kayak serius banget!?"


Ardi Sebenarnya masih merasa bingung, dia mengacak rambutnya yang tak terasa gatal. mencari sebuah kenyataan yang mungkin akan terasa pahit pada diri seseorang yang dikecewakan.


Ardi yang melihat situasi tak memungkinkan, dengan terpaksa berbisik pada telinga Haikal. tentang apa yang sudah terjadi.


Bu Maya yang sudah menenangkan Lina pada saat itu, izin untuk segera pulang. karena masih banyak urusan kantor yang belum diselesaikan oleh Bu Maya.


"Ardi, kamu jaga baik-baik Lina ya. jangan sampai Lina bersedih terus menerus, karena penyakitnya yang belum terobati sepenuhnya."


Ardi perlahan mengusap rambut yang sedikit menutupi kedua mata Lina.


" Ibu tenang aja, aku pasti akan merawat calon menantu ibu dengan baik."


Bu Maya langsung membalikkan badannya untuk segera pergi dari rumah sakit, Iya tak mau lagi menekan Ardi dan juga Lina. akan semua yang sudah terjadi pada Lina.


setelah kepergian Bu Maya, kini Ardi mulai mendekati lagi pada Haikal, ia ingin mengobrolkan tentang lelaki yang sudah membunuh Dinda.

__ADS_1


__ADS_2