
Ardi tak mendengarkan apa yang di katakan Lina, saat itulah Jerry mulai bertanya pada Wawan dan juga Abdul.
"Yang mau memberi kesaksian silahkan," ucap Jerry kepada Wawan dan juga Abdul.
Abdul
menatap kearah Wawan, memberi satu kode untuk menjelankan rencana mereka.
Wawan kini angkat bicara," saya yang akan memberikan kesaksian."
"Dengan bapak siapa?" tanya Jerry yang sudah siap dengan layar komputer di depanya.
"Wawan!" jawab salah satu dari mereka berdua.
"Apa yang sebenarnya di keluhkan kalian berdua?" tanya Jerry.
Saat itulah Wawan mulai menjelaskan kesaksian mereka berdua." sebenarnya kami di bawa paksa oleh mereka semua."
Ucap wawan yang ternyata menyudutkan Haikal dan yang lainnya. Haikal kini berdiri mendengar kesaksian mereka berdua, yang malah berbeda.
"Kalian."
Jerry menyuruh, Haikal untuk duduk dan tidak ikut campur, akan tetapi Haikal malah melawan Jerry.
"Dia itu memfitnah kami."
Lina yang sudah curiga dari awal, kini mengerutu kesal pada Ardi," coba kamu lihat. Mereka malah menfitnah kita."
Ardi ingin sekali menimpal ucapan Wawan, akan tetapi ia tak boleh sembarangan.
"Hey, kalian berdua."
Ardi mulai beranjak berdiri dari tempat duduknya untuk menghampiri Haikal, yang dari tadi melawan Jerry.
"Haikal, lu tenang dulu."
"Mau tenang bagaimana Ardi, mereka."
"Sudah, kita lihat saja nanti sampai selesai."
Wawan begitu senang melihat Haikal terpancing, membuat ia tersenyum kecil.
Kini Haikal mulai bersikap tenang, ia duduk kembali di kursi dan berusaha menahan amarahnya yang tak terkendali.
"Kenapa kalian di paksa datang ke sini?" tanya Jerry.
"Kami di paksa datang ke sini, karna Tuan Ardi menyuruh kami untuk memfitnah Tuan Pras, omya sendiri!" jawab Wawan.
Ardi mengusap kasar wajahnya. Berusaha bersikap tenang dan tak melawan atau pun menimpal kesaksian mereka yang berbohong dan menyudutkan Ardi.
Jerry menulis kesaksian kedua lelaki itu.
__ADS_1
"Memangnya Ardi menyuruh kalian untuk memfitnah Omnya sendiri bagaimana?" tanya Jerry.
"Kami di suruh mengatakan bahwa Tuan Pras sudah menyiksa calon istrinya!" jawab Abdul.
Kedua pelayan itu benar benar, keterlaluan. Mereka membuat kesaksian untuk membela Pras.
Jerry memberi kode pada Ardi dengan memperlihatkan gerak gerik matanya.
"Jadi Pras itu tidak berasalah?" tanya Jerry.
"Tentu saja tidak, yang bersalah dari semua ini adalah Tuan Ardi!" jawab Wawan.
Ardi mengepallan kedua tanganya tak sabar ingin meninju mulut kedua pelayan itu.
"Waw, terus kalian siapanya Pras?" tanya Jerry kini berusaha memancing ucapan Wawan dan Abdul akan berkata jujur.
"Kami pelayan Tuan Pras!" jawab Abdul.
"Pelayan, maksud kalian pelayan apa?" tanya Jerry.
"Pelayan di Cafe!" jawab Wawan dan Abdul.
"Apa yang selalu di perintahkan tuan kalian di Cafe?" tanya Jerry.
"Memasak!" jawab Abdul.
Pertanyaan Jerry kini akan menyulitkan kedua pelayan itu.
"Tidak ada lagi."
"Jadi tuan Kalian, Tuan Pras tidak membuat kesalahan dan malah memfitnah Tuan Ardi."
Pertanyaan semakin membingungkan Wawan dan Abdul membuat mereka semakin gugup.
"Tidak, eh Iya."
"Jadi apa yang di perintahkan tuan kalian?" tanya kembali Jerry.
"Ya kami di perintahkan hanya itu saja, memasak!" jawab Abdul berusaha tenang. Walau pikirannya mulai kacau karna pertanyaan Jerry yang terus di ulang.
"Tidak ada lagi, Pras selalu menyuruh kalian apa?" tanya kembali Jerry.
"Tuan Pras selalu menyuruh kami untuk menangani orang orang yang bersalah!" jawab Wawan yang ternyata sudah terjebak dengan pertanyaan Jerry.
Akhirnya pertanyaan Jerry mampu mengecohkan jawaban kedua pelayan itu, "Apa yang di suruh tuan kalian?"
Kedua pelayan itu kini terbata bata dengan pertanyaan Pak Polisi yang terus terulang ulang dengan pertanyaan menjebak.
"Tuan Pras nyuruh apa kalian di Cafe?" tanya kembali Jerry, seakan pertanyaan itu di putar dan terus di putar seperti roda yang sengaja di putar.
Abdul sudah salah menjawab, ia hilang kendali karna Jerry yang terus bertanya. Di mana pertanyaan terus di ulang dan di ulang kembali lagi.
__ADS_1
"Tadi kalian bilang Tuan Pras menyuruh kalian apa?"
"Tuan Pras menyuruh kami selalu menangani orang orang yang selalu gagal dalam rencana mereka!"
Jawaban yang di tunggu tunggu Jerry, akhirnya terlontar dari mulut Wawan.
Pertanyaan terulang dan membingungkan, mampu membuat Kedua pelayan itu berkata jujur.
"Jadi kalian di bawa ke sini di paksa oleh siapa?"
Kepala Abdul dan Wawan di penuhi pertanyaan yang terulang dan pada akhirnya mereka mengakui semuanya.
"Kami mengakui kesalahan kami, bahwa yang bersalah adalah Tuan Pras, ia sudah membuat kejahatan, menyiksa calon istrinya. Dan Tuan Ardi tidak bersalah," ucap Wawan.
Jerry tersenyum kecil ke arah Ardi, membuat Ardi kini bernafas lega, ia tahu jika Jerry pasti bisa menangani Wawan dan Abdul yang berbohong.
"Maafkan kami."
Lina tersenyum kecil dan kesal pada Wawan dan Abdul.
"Ckk, aku sudah mendunga, mereka pasti akan bebohong dan ujung ujungnya kebohongan mereka kini termakan oleh mereka sendiri."
Jerry kini sudah beres membuat laporan kesaksian, yang akan di serahkan untuk Ardi. Mereka akan mencari Pras dan menjebloskan Pras ke dalam penjara.
Begitu pun dengan Wawan dan Abdul, mereka akan ditahan dengan waktu yang lama.
"Sial, nasib kita Wan, tadinya buat rencana. Untuk membela tuan kita, Tuan Pras, kita malah kena batunya."
"Gue juga enggak nyangka jika berurusan dengan polisi bukan hal yang mudah, kita yang malah terjebak dengan pertanyaan pertanyaan yang terulang ulang."
"Lu sih, kalau kita jujur. Mungkin nasib kita tidak akan seperti ini."
"Lu, kok. Jadi nylahin Gue, ya gue kan sebagai sahabat lu hanya bisa nurut saja."
"Hah. Ini sudah nasib kita."
Wawan dan Abdul yang sudah membekam di penjara kini di dekati oleh Lina.
"Bagaimana rasanya di masukkan ke dalam jeruji besi. Enak?" tanya Lina dengan tersenyum puas melihat kedua pelayan yang menghianati kepercayaan Lina dan Juga Ardi.
Wawan dan Abdul terdiam seribu bahasa, tak mampu menjawab pertanyaan Lina karna rasa malu pada diri mereka berdua.
Lina memegang jeruji besi dan berkata pelan," selamat membusuk di dalam penjara."
Wawan dan Abdul menatap tajam ke arah Lina dan berkata," tuan kami pasti akan menolong kami."
Lina tertawa terbahak bahak." tuan kalian akan menolong kalian. Wah rasanya itu tidak mungkin, karna sekarang juga kalian di dalam jeruji besi dingin ini tidak ada yang peduli.
Abdul mengepalkan kedua tanganya. Ingin sekali memukul bibir Lina yang seakan senang dalam menyindir mereka berdua.
"Aku ingatkan pada kalian. Berkata jujurlah, karna itu akan mengantarkan kalian dari kebebasan," ucap Lina berpamitan pergi dengan melabaikan tangan ke arah Abdul dan Wawan.
__ADS_1
Tentulah Abdul semakin kesal dengan tingkah Lina seperti itu.