Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 143


__ADS_3

"Sisil, ada apa?" tanya sang ibu kepada anaknya.


Sisil melipat kan kedua tangannya menatap tajam ke arah sang ibu, kini ia mulai berjalan untuk masuk ke dalam kamar ibunya sendiri.


"Sisil, kamu mau apa, nak?"


pertanyaan sang Ibu membuat Sisil berhenti berjalan, yang kini membalikkan badannya menatap ke arah sang ibu," tadi Saat aku berjalan melewati kamar ibu, sepertinya aku mendengar percakapan ibu dengan orang lain?"


pertanyaan sang anak membuat wanita tua itu tentulah gugup, Iya takut jika Sisil menemukan ponselnya yang ia sengaja sembunyikan di kolong tempat tidur.


" Sepertinya kamu salah dengar nak, Ibu dari tadi sendirian di kamar. Tidak ada orang lain pun di sini!"


Tia berharap jawaban yang ia Lontarkan dari mulutnya, mampu di percaya Sisil.


"Hem, apa ibu tidak sedang berbohongkan?"


sang Ibu kini menelan ludah, berusaha tetap tenang menjawab perkataan yang terlontar dari mulut anaknya.


" untuk apa Ibu berbohong kepada kamu Nak, dari dulu Ibu tidak pernah membohongi kamu. kamu sendiri Ibu ini apa adanya."


jawaban yang terlontar dari sang ibu, membuat Sisil langsung percaya begitu saja. memang benar apa yang dikatakan ibunya sendiri, bahwa ibunya tak pernah membohongi dirinya dari kecil.


"Ya sudah, kalau benar begitu. Sisil mau tidur, lelah."


anak gadis satu-satunya Tia, kini berjalan tak sopan di hadapan ibunya sendiri. dengan sedikit menyenggol bahu kiri sang Ibu tanpa berpamitan sedikitpun.


"Sisil."


panggilan sang Ibu membuat Sisi langsung membalikkan badan ke arah wanita tua itu, hem."


"Kenapa kamu menjadi wanita pembangkang dan sering melawan. Padahal ibu ini selalu mengajarkan kamu sopan santun."


ketegasan sang Ibu tak mampu membuat anaknya luruh seketika, Sisil hanya menanggapi ucapan sang Ibunya biasa saja. dia tak menjawab perkataan ibunya. Dan pergi begitu saja.


sang Ibu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya yang benar-benar keterlaluan.


Kini sang Ibu hanya bisa mengelus dada, menahan rasa sabar ketika anaknya bertingkah tak sopan.


"Sisil, kapan kamu berubah kembali, nak."


sang Ibu membalikkan badan untuk segera mengistirahatkan tubuh, yang benar-benar terasa lelah karena seharian bekerja berkeliling menjual gorengan.


wanita tua itu berusaha melupakan segala tingkah anaknya yang benar-benar keterlaluan kepada dirinya, Iya berusaha menerima segala hal yang ada pada anaknya saat ini. walaupun sebenarnya hatinya merasa sakit.


kedua matanya mulai ia tutup dengan secara, Iya sadar akan air matanya mengalir mengenai kedua pipi yang sudah mulai berkerut. seorang ibu hanya bisa menerima tingkah anaknya, dan memendam semua kesedihan dalam hatinya.

__ADS_1


@@@@


Maya yang masih duduk di ranjang tempat tidur, kini memberanikan diri untuk menghampiri suaminya di dalam kamar yang di mana kamar Itu khusus untuk ditempati Pak Anton.


perlahan Maya mulai berjalan hingga mendekati pintu kamar Pak Anton, dengan memberanikan diri tangannya mulai membuka pintu kamar itu.


Maya melihat Anton tengah terbaring dirancang tempat tidur, ia mendekat ke arah Pak Anton yang tengah tertidur pulas.


hingga di mana Maya dikagetkan dengan suara Pak Anton yang tiba-tiba berucap, "Maya, apa kamu tidak menyadari semuanya. Aku sangat mencintaimu."


Deg ....


ucapan Pak Anton tentulah membuat hati Maya seketika berdenyut kencang, apalagi perkataan itu membuat kedua pipi Maya memerah.


yang di mana Pak Anton mengatakan isi hatinya dengan kedua mata yang tertutup.


Maya semakin mendekat ke arah Pak Anton yang tengah tertidur dengan mengigau menyebut namanya." Maya."


beberapa kali Pak Anton mengigel nama Maya. tentulah membuat hati Maya sedikit tak karuan," kenapa lelaki tua ini mengatakan isi hatinya saat dirinya tengah tertidur seperti ini." Gumam hati Maya.


Maya menatap wajah lelaki tua yang selama ini menjadi suaminya, Jujur saja Maya juga masih mencintai suaminya itu. akan tetapi dia juga malu untuk mengungkapkan isi hatinya yang sudah lama ia pendam.


" aku tak menyangka jika isi hati kita sama Anton." ucap Maya dalam hati.


Maya tersenyum kecil ketika melihat Anton mengigau menyebut namaNya beberapa kali, Iya ingin sekali menyubit kedua pipinya suaminya yang sudah mulai terlihat mengkerut.


saat itulah Maya berjalan kembali untuk segera pergi dari kamar suaminya,


Menutup kembali pintu kamar sang suami.


"Nyonya."


Betapa kagetnya Maya, saat pelayan bertanya kepada dirinya.


"Nyonya. kenapa?"


"Ya ampun, kamu bikin saya kaget!"


"Maaf, nyonya. Saya kira Nyonya tidak kaget."


"Sudahlah."


Wanita tua itu, menundukkan pandangan, malu akan para pelayan yang berjalan melewati dirinya. Apalagi dengan kedua pipi yang memerah.


Setelah sampai di kamar, Maya tersenyum sendirian dengan hati yang berdebar debar, membuat ia menatap cermin. " Pipiku merah begini."

__ADS_1


Memegang pipi dan berkata lagi," apa aku sedang bermimpi. Jika Anton berkata bahwa dia mencintaiku."


Maya tersenyum senyum sendirian, ia benar benar merasa seakan dirinya kini melayang layang di udara.


"Apa aku benar benar gila saat ini, setelah mengetahui jika Anton mencintaiku." Ucap Maya.


Tring ...


Satu pesan datang, Maya langsung membuka ponselnya itu, melihat siapa yang mengirim pesan kepada dirinya.


( Maya, apa kamu sudah tidur. )


Pesan dari Tia sahabatnya sendiri.


"Tia tumben dia mengirim pesan di jam malam seperti ini, bukanya tadi ia meneleponku."


( Belum Tia, ada apa? Tumben kamu mengirim pesan padaku. Jam malam begini? )


( Maaf Maya kalau aku mengganggu. aku ingin mengatakan semuanya kepadamu. )


"Ada apa Tia mengirim pesan seperti ini."


( Memangnya kenapa, Tia? )


( Kalau aku mengatakan semuanya apa kamu tidak akan marah. )


Tentulah Maya kaget dengan pesan yang di kirim Tia kepada dirinya.


( Aku tidak akan marah, memangnya kenapa, Tia.)


Maya yang tak sabar dengan pertanyaan Tia, langsung menelepon sahabatnya itu.


Akan tetapi Tia sahabatnya itu malah merijek panggilan telepon dari Maya.


"Kenapa Tia langsung mematikan panggilan teleponku."


( Maaf Maya, aku bukan tak ingin mengangkat panggilan teleponmu. Hanya saja aku tak ingin jika anakku tahu percakapan kita.)


( Maksud kamu anakmu Sisil, memangnya kenapa dengan dia? )


Sebenarnya Maya berusaha bersikap tak tahu apa apa, ia ingin tahu bagaimana nanti perkataan Tia kepadanya.


( Kamu tidak akan mengerti Maya. Anakku Sisil berbeda dengan gadis gadis lain.)


Maya tersenyum kecil saat kata kata terlontar dari pesan Sisil. Ia hanya bisa membalas dengan kata kata seperti orang tak tahu apa apa dengan kelakuan Sisil selama ini.

__ADS_1


Sisil anak gadis yang Maya sayang dan percaya dari dulu. Hingga ia rela memberikan, Ardi anaknya untuk gadis yang ia anggap gadis itu baik hati seperti ibunya sendiri, yang sudah Maya anggap sebagai saudara sendiri.


__ADS_2