
Brugg ....
"Ahkk."
"Aw."
Lina terjatuh menghempit tubuh Nining, membuat keduanya kesakitan dalam teras kayu.
Nining tak menyangka jika kejailannya malah berbalik kepada dirinya sendiri, wanita berambut panjang nan ikal, merasakan rasa sakit pada pinggang dan juga tangan.
"Nining, kamu ini apa apaan?"
Teriakan Lina mengangetkan sang ibu yang sudah terlelap tidur.
"Aduh ie teh aya naond. Gandeng."
(Aduh, ini ada apa. Berisik.)
Wanita tua yang menjadi ibu dari Nining terpaksa bangun karena mendengar suara berisik seperti sesuatu jatuh dari kamar Nining dan juga Lina.
wanita tua itu berjalan ke arah kamar anaknya, dengan tergesa gesa.
Ceklek.
suara gagang pintu dibuka, Lina dan juga Nining kini membalikkan wajah ke arah pintu yang terbuka oleh ibunda Nining.
"Kalian ini kenapa jam segini teh, pada berisik."
bentak sang ibu kepada anaknya.
Nining menundukkan pandangan tak kuasa melihat kemarahan sang ibu. wanita tua itu kini mendekat ke arah Lina dan juga Nining.
"Kalau bapak bangun, pastinya teh dia marah sama kamu Nining."
setelah sampai di dekat jendela, sang Ibu kini menutup jendela yang terbuka," pamali udah malah, sok cepat tidur."
"Iya bu."
setelah menasehati Nining, wanita tua itu langsung berjalan tergopoh untuk segera tidur.
dengan tak lupa menutup kembali pintu kamar anak.
"Ari si Teteh. Ngapain malam-malam duduk di jendela, pamali," ucap Nining menasehati Lina.
" Ala Ning, itu cuman mitos belakang, saya nggak percaya hal kayak gitu. di kota tidak ada kata pamali pamali, semua bebas," balas Line seakan tak suka dinasehati oleh anak berumur 15 tahun.
"Yeh. Si teteh, Nining kasih tahu juga, malah bilangnya gitu," ucap Nining menyungingkan bibirnya.
Lina mulai beranjak berdiri untuk berjalan Keranjang tempat tidur," Eta si Teteh mau ke mana?"
__ADS_1
Lina yang menampilkan wajah ketusnya kini membalas ucapan Nining," Ya tidurlah Ning, kan kamu sendiri yang nyuruh saya tidur cepat-cepat."
Neneng menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal menjawab perkataan Lina," hehe, eh iya ya."
Lina yang baru saja merasakan Angin Malam yang berhembus merasuk tubuhnya, membayangkan akan wajah Haikal yang tergambar dari langit dengan bintang yang tersusun kelap-kelip. membuat keindahan dari kedua bola mata Lina yang melihat.
wanita si pemilik bibir mungil itu, kini menutup kedua matanya untuk segera tidur. Sedangkan ini yang berada di sampingmu, sudah mengeluarkan dengkuran yang sangat keras, membuat telinga kiri Lina merasa tak nyaman.
" Yaelah ini anak, mau tidur juga. Berisik, pake acara mendengkur."
Lina berusaha menutup kedua telinganya agar tidak mendengar dengkuran wanita di sampingnya, Iya berusaha untuk terlelap dalam tidur malam yang akan membawanya ke alam mimpi. Si alam mimpi Lina berharap, Haikal menjadinya seorang Ratu, menikahi dirinya dalam dasar cinta yang dirasakan hatinya.
Namun sialnya, bukan mimpi yang indah yang masuk ke dalam mimpi wanita berambut pendek.
Sosok wanita yang tak lain ialah Dinda datang menangis, mengharapkan agar Lina tetap menjadi adik bagi Haikal.
"Kak Dinda kenapa menangis."
Wanita memakai gaun putih, dengan menangis menundukkan wajah, tak lupa kedua matanya tertutup oleh telapak tangan. Membuat Lina bertanya dengan nada bicara yang terdengar sayu.
"Kak Dinda, kenapa menangis."
Kata kata itu terus saja terulang, Lina mulai menarik tangan yang menutup wajah sang kakak. Hingga tarikan kuat di keluarkan Lina, hanya untuk menatap wajah sang kakak.
"Kak Dinda."
Tangan yang sengaja ia tarik, membuat suatu hal tak terduga, di mana tangan itu buntung.
"Kak Dinda."
"Darah."
Tangisan itu terdengar membuat Lina berteriak.
"Ahkkkkk."
Lina kini terduduk dengan teriakan bercampur keringat dingin yang saling berjatuhan, dari ujung kepala hingga dagu.
Mengusap kasar wajah, Nining yang baru saja menunaikan shalat shubuh. Kini melihat Lina dengan wajah gelisah, memperlihatkan wajah ketakutan yang tak biasa.
Wanita berparas ayu nan desa itu, mendekat ke arah Lina. Memengan bahu sang pemilik bibir tipis dengan lembut.
"Tidakkkk."
Lina seakan sok merasakan sentuhan akan tangan Nining yang menyentuh bahu wanita pemilik bibir tipis dengan perpaduan lesung pipi, membuat senyuman siapapun lelaki yang melihatnya pasti akan tergoda.
"Si teteh teh kenapa ini teh? Bangun tidur malah teriak teriak, eling atuh teh."
Wajah kuatir kini di pelihatkan Nining untuk Lina yang terlihag gelisa.
__ADS_1
"Jangan mendekat."
Kata kata jangan mendekat membuat Nining, semakin bertanya." Jangan mendekat kenapa atuh teteh teh."
"Jangan mendekat." Lina semakin meninggikan nada suaranya, membuat Nining yang berada si sampingnya tentulah kaget.
" Aduh, ini teh si Teteh Lina kenapa coba. Tiba tiba menjerit jerit kaya orang kesurupan."
Nining tentulah kaget dengan perubahan Lina yang tiba tiba menjerit seperti tak hilang kendali.
"Nining teh harus apa ya, kalau datang ke kamar bapak dan ibu. Pasti mereka lagi menjalankan shalat shubuh dan mengaji."
Halusinasi akan sosok Dinda terus terekam dari kepala Lina yang merasakan rasa takut.
"Kak, kenapa kakak mendatangi Lina."
"Teteh Lina sadar atuh, jangan kaya orang gila. Ngomong sendiri."
Nining semakin di buat bingung dengan tingkah Lina yang mendadak melebarkan kedua mata menatap pada pintu kamar Nining.
Nining selalu teringat akan pesan Pak Ustadz kalau ada yang ke surupan bacakan doa. Sembur pake air garem, agar setanya kabur.
Nining dengan perlahan memperaktekan apa yang dikatakan sang ustadz yang ia dengar. Mengambil air ke dalam dapur, mencampurkannya dengan garam setengah sendok.
Setelah selesai, Nining perlahan menyemburkan air yang ia sudah bacakan doa. Pada Lina.
Bruyyyy .....
"Teteh Lina ayo cepat minum," ucap Nining menyuruh Lina untuk segera meminum air yang di sodorkannya.
Saat Lina meminum air bercampur garam, tiba tiba ....
"Aya naond ie teh."
(Ada apa ini.)
Tanpa sadar Lina, menyeburkan air yang belum tertelan pada dari mulutnya pada wajah Sang Paman.
Nining tentulah kaget dengan apa yang ia lihat, kedua matanya membulat melihat sang bapak tersembut air garam yang ia sengaja berikan pada Lina.
Dengan sigap sang istri mengusap pelan wajah suaminya dengan lap.
"Aduh, bapak jadi baseh kos kie." Ucap Sang ibu.
(Aduh, bapak jadi basah begini.)
Lina mengusap kedua matanya, melihat apa yang sudah di lakukannya, ia tak tahu jika akan ada paman dan bibi Haikal masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu.
Sedangkan Nining yang takut di marahi ibu bapaknya hanya menundukkan kepala, semua di luar perkiraan yang di pikirkan Nining.
__ADS_1
"Aduh, kenapa bisa ada bapak masuk sih." Gumam hati Nining.