
"Ning."
Nining langsung saja mematikan ponselnya, yakini membalikkan badan ke arah ke Pak Hasan, lelaki tua itu terlihat begitu gelisah dan juga cemas. Sebenarnya apa yang pernah ia pikirkan?
"Ada apa, Pak?"
Nining berusaha bertanya dengan lembutnya.
"An-u. Apa bisa bapak pijam uang buat biaya rumah sakit!?"
Jawaban Pak Hasan membuat Nining membulatkan kedua matanya. Bukannya Pak Hasan terkenal adalah orang terkaya di kampungnya, mana bisa ia meminjam uang kepada Nining dan hanya gadis desa sederhana.
"Apa bisa?"
" kalau mau pinjam uang. Harusnya Pak Hasan bilangnya ke bapak sama ibu. Nining, nggak tahu apa-apa kalau soal uang!"
Pak Hasan terlihat kecewa dengan tutur kata dari mulut Nining, ia menundukkan pandangan merasakan kesedihan dalam hatinya.
Nining berusaha bertanya pada Pak Hasan dengan sangat hati-hati," Emangnya bapak tidak punya BPJS, atau sekedar kartu Jamkesmas."
Pak Hasan hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Nining, " Loh, kok bisa."
Nining berusaha mengetes kejujuran Pak Hasan, ia ingin tahu jika di saat kondisi gawat darurat, lelaki tua itu akan berkata jujur atau tidak.
Terlihat raut wajah ragu-ragu pada diri Pak Hasan, ia menelan ludah, seakan ingin mengatakan apa yang sudah ia sembunyikan bersama keluarganya sendiri.
" Sebenarnya Bapak ingin berkata jujur kepada kamu."
Ucapan Pak Hasan membuat Nining berusaha menjebak perkataannya agar berkata jujur," maksud bapak apa?"
Nining berusaha tak mengerti dengan apa yang dikatakan Pak Hasan,
"Pak Hasan ini bukan orang kaya."
Nining yang berada di hadapannya hanya bisa melipatkan kedua tangan, ia berusaha mendengarkan apa yang diceritakan pak Hasan.
" Sebenarnya bapak malu mengatakan semua ini kepada kamu. Ning."
" Coba bapak ceritakan pelan-pelan."
Pak Hasan mulai menarik napasnya. Berusaha tetap tenang dan menceritakan apa yang ia ingin katakan.
" Sebenarnya Bapak ini bukan orang kaya, keluarga Bapak berpura-pura kaya agar terpandang oleh orang-orang di desa. kami melakukan semua ini hanya untuk menipu orang-orang membuat orang-orang percaya dan bisa menaruh bagian harta mereka pada bapak dan juga Bu Nunik. kami mengaku salah, karena kami sudah menghina keluarga kamu Nining dan membuat recana agar kamu menikah dengan Ruslan."
Nining kini merasa tenang jika Pak Hasan mau mengakui kesalahannya. Tapi, kenapa dengan Bu Nunik. Wanita tua itu tidak berubah rubah, padahal ia sudah menerima ganjaranya.
Bu Nunik masih tetap saja pada pendirian, ia tidak mau mengakui kesalahannya, lebih meninggikan ego, dibanding harus berkata jujur.
"Ya sudah, saya telepon dulu bapak ya, Bu."
__ADS_1
"Silahkan, Ning."
Nining mulai mencari nomor ponsel sang ibu, untuk segera memberitahu jika pak Hasan, ingin meminjam uang.
Tutt .....
Panggilan telepon pun kini terhubung, dimana Nining mulai mengobrol dengan sang ibu.
"Halo, Ning. Ada apa?"
Suara sang ibu tedengar seperti habis bangun tidur.
"Kata Pak Hasan, ada perlu sama ibu dan bapak!" jawab Nining. Membuat Bu Sari merasa heran.
"Perlu apa? Jangan jangan mau penjem duit ya," ucap Bu Sari membuat Nining terdiam, padahal belum bicara dengan Pak Hasan. Bu sari sudah tahu niat lelaki tua itu.
"Ibu, kalau ngomong jangan cetus lah, bu. Kasihan," balas Nining pada sang ibu dengan harapan mau memaafkan Pak Hasan dan Bu Nunik yang keterlaluan.
"Ya, iya. Nanti ibu usahain."
Nining langsung memberikan ponselnya pada Pak Hasan, agar sang ibu mengobrol dengan lelaki tua itu.
"Nih. Pak, silahkan ngomong sama ibu."
Pak Hasan menganggukan kepala dan mengambil ponsel yang diberikan Nining, sebenarnya ada rasa ragu pada hati Pak Hasan untuk meminjam uang.
Lelaki tua itu telihat sangat menyedihkan, yang biasanya terkesan sombong dan angkuh, kini terlihat seperti pecundang.
Sampai saat itu, Pak Hasan mulai mengobrol dengan Bu Sari dengan begitu lembut dan sopan.
"Halo. Sari?"
Kata kata Pak Hasan, sudah membuat Bu Sari kesal, wanita tua yang menjadi ibu Nining itu, selalu mengigat akan keburukan yang dilakukan Nining dulu.
"Halo, Sari?"
Pak Hasan mencoba memanggil Bu sari, hingga dimana suara batuk yang disegaja terdengar oleh Pak Hasan. Lelaki tua itu terlihat ragu, mengatakan hal yang membuat dirinya pastilah gensi.
Akan tetapi Nining yang berada di belakang Pak Hasan, berucap." Ayo pak, ngomong. Mungpung mood ibu Nining lagi baik."
Dari tadi Pak Hasan terus memanggil Bu Sari, tapi wanita yang menjadi ibunda Nining seperti cuek. Tak membalas ucapan Pak Hasan.
Dengan menahan rasa malu, pada akhirnya. Pak Hasan kembali lagi berucap.
"Halo, Sari."
"Iya. Halo."
Akhirnya sari mulai berucap. Membuat Pak Hasan merasa senang.
__ADS_1
"Sari, sebelumnya saya minta maaf. Karna saya sudah membuat kamu sakit hati begitu pun dengan Yono. Saya telalu sombong dan angkuh tak peduli dengan perasaan orang lain."
Terdengar kata maaf itu begitu tulus dari ucapan Pak Hasan, membuat Bu Sari kini mengangkat kedua bibirnya." Sesudah kejadian itu, saya sudah memaafkan kamu Hasan, jadi tak usah di ungkit lagi."
"Makasih, Sari."
Pak Hasan tersenyum lebar dengan perkataan Sari, ia mulai memberanikan diri untuk mengugkapkan apa tujuanya.
"Sari."
"Ya."
"Apa boleh aku. Meminjam uang kepada kamu, untuk berobat istriku Nunik?"
Pak Hasan menelan ludah, kedua pipinya memerah menahan malu. Tidak biasanya ia melakukan hal yang sedemikian. Demi sang istri apapun ia akan lakukan. Walau dirinya harus menahan rasa malu.
Harapan terus ia gumamkan dalam hati, berharap Bu Sari meminjamkan uang kepada dirinya, jika tidak, Pak Hasan bingung bagaimana menyalamatkan sang istri yang benar benar butuh penanganan sekarang.
Bu Sari berusaha memikirkan perkataan Pak Hasan, antara harus meminjamkan atau tidak.
"Halo, Bu Sari bagaimana?"
Pak Hasan bertanya dengan penuh harapan.
Jika Bu Sari mau meminjamkan ya uang.
Saat Bu Sari mulai menjawab perkataan Pak Hasan, saat itulah Pak Yono datang.
Dimana, Bu Sari menatap ke arah sang suami dan berkata." Bu, sedang apa?"
" Ini ibu lagi teleponan sama Pak Hasan!"
Jawaban Bu Sari membuat Pak Yono suaminya marah, setelah mendengar nama Pak Hasan yang di sebut oleh Bu sari.
Pak Yono tidak seperti Bu Sari yang bisa memaafkan begitu saja. Ia cenderung mengandalkan emosi dari pada perasaan.
"Matikan sekarang."
Bu Sari tak mengerti dengan perkataan suaminya yang menyuruhnya mematikkan panggilan telepon.
"Tapi, pak."
"MATIKAN SEKARANG."
Melihat kemarahan sang suami pada akhirnya Bu Sari langsung mematikan panggilan telepon yang masih terhubung dengan Pak Hasan.
Tut ....
Lelaki tua yang bernama Pak Yono, kini merebut ponsel dari tangan istrinya.
__ADS_1
"Pak."