Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 256 Adnan Marah.


__ADS_3

" Bukan keluarga Pak Anton yang bermasalah, tapi anda yang sudah membuat masalah di keluarga Pak Anton." Hardik Adnan.


Lina tak mengerti dengan Adnan, padahal lelaki muda itu hanyalah seorang suruhan Tante Maya, tapi dia begitu detail tahu tentang keadaan dan juga masalah yang terjadi pada keluarga Anton dan juga Lina.


" Kenapa anda diam, apa anda menyesali perbuatan anda sekarang?"


Wanita berambut pendek dengan bola mata coklatnya, hanya menundukkan pandangan menatap ke arah tanah kering dengan hamburan dedaunan yang sudah layu.


"Adnan kenapa kamu bisa tahu sedetail ini!"


" Kenapa saya bisa tahu sampai sedetail ini, karena saya bukan hanya suruhan melainkan seorang detektif, saya sudah bekerja pada Nyonya Maya dari umur saya 18 tahun. Nyonya Maya sudah menganggap saya sebagai keluarganya sendiri, terkadang Nyonya Maya menganggap saya sebagai adiknya. Maka dari itu saya begitu marah pada anda karena saya tahu dari awal. Anda lah yang membuat masalah di keluarga Pak Anton, andai saja anda tidak datang di keluarga Pak Anton, mungkin semua ini tidak akan terjadi."


Lina menangis sejadi jadinya, ia menjambak rambutnya, setelah mendengar penuturan kata dari Andan.


Dreet ....


Suara ponsel Adnan kini bergetar, satu panggilan masuk ke dalam ponselnya. Di mana Pak Anton meneleponnya.


"Pak Anton?"


Adnan berusaha bersikap tenang, di saat dirinya mengangkat panggilan telepon dari sang tuan.


"Halo, Adnan. Apa ada kabar dari istri saya?"


"Belum, Pak Anton!"


"Oh ya, saya sebentar lagi sampai di vila. Saya ingin tahu di mana sekarang lokasi kamu berada."


Adnan bingung, apa yang harus dia katakan pada Pak Anton. Iya sudah mendapatkan Lina tapi tidak dengan Maya yang masih di dalam villa.


"Halo, Adnan."


"Ya Pak, cepat kasih tahu. Lokasi kamu ada di mana?"


Adnan menelan ludah, saat itulah ia memberi tahu tempat persembunyianya.


"Siapa Adnan?"


Lina bertanya pada Adnan. yang sudah mematikan panggilan telepon.


"Pak Anton, dia akan ke sini."


Deg ....


Ayah handa Ardi kini menyusul ke Villa, membuat Lina harus mengatakan kejadian sesungguhnya kepada Pak Anton suami tante Maya.

__ADS_1


"Aku harus berterus terang." Gumam hati Lina.


Hingga beberapa menit kemudian, Pak Anton sudah sampai di tempat yang ditunjukkan Adnan. Di mana tempat itu menjadi persembunyian Adnan, agar tidak diketahui suruhan Pras dan juga para penjaga Villa itu.


Pak Anton mendekat ke arah Adnan, kedua mata lelaki tua itu begitu terkejut di saat melihat Lina bersimpuh darah duduk di dalam mobil.


"Lina ternyata kamu selamat? ke mana Maya istriku?"


Pertanyaan Pak Anton membuat Adnan langsung menundukkan pandangan, saat itu Lina mulai menjelaskan semua yang sudah terjadi pada Maya.


Penjelasan Lina, membuat Pak Anton kaget, tangan lelaki tua itu, kini memegang dada merasakan rasa sesak di daerah sana, hatinya hancur setelah mendengar penjelasan yang terlontar dari mulut Lina.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi? Sekarang istriku ada di dalam Vila? Bagaimana aku menyelamatkannya?"


Adnan berusaha menenangkan Pak Anto agar tidak syok dengan keadaan sang istri, karena Adnan sudah menelepon polisi untuk segera datang ke Vila, Adnan berharap sekali jika sang Nyonya Maya bertahan dan bisa di selamatkan


Lina berusaha meminta maaf kepada lelaki tua itu yang sekarang berada di hadapanya.


"Pak Anton, saya ...."


Belum perkataan Lina terlontar semuanya, Pak Anton memalingkan wajah. Lelaki tua itu seakan tak mau mendengarkan penjelasannya dan juga rasa bersalah Lina. Iya cenderung bertanya pada Adnan.


Hati Pak Anton kesal dengan Lina, wanita yang ia percaya bisa membahagiakan Ardi. Nyatanya malah menghancurkan Ardi begitu saja.


Dan membuat ulah, dimana sang istri menjadi korban untuk menyelamatkan dirinya.


Sedangkan di dalam villa, Maya menggerakkan jari tangannya, tubuhnya begitu lemas darah terus keluar dari perut Maya.


Pandangan Maya begitu samar, ia tak jelas melihat Alya tengah mempertahankan diri, untuk bisa menyelamatkan Maya.


"Alya." Tangan yang berusaha memanggil Alya, kini tak kuat ia angkat membuat dirinya benar benar di ujung kematian.


Pras begitu tega melayangkan beberapa kali sayapan pada tubuh Maya. Kakaknya sendiri, wanita yang sudah membuat Pras menjadi lelaki dewasa, tanpa asuhan orang tua.


"Ardi maafkan ibu."


Di saat kesakitannya dirasakan Tante Maya, ia masih mengingat nama anaknya, sedangkan Alya masih menghadapi para suruhan dengan sekuat tenaga yang ia mampu. Kini menatap sekilas pada wajah Maya yang sudah putih pucat.


"Tante Maya, bertahanlah aku akan menyelamatkanmu." Teriak Alya.


Di saat Alya lengah, menatap ke arah Maya.


Brugg ....


Satu pukulan menghantam punggung Alya, hingga ia terjatuh terkulai lemah di atas tanah.

__ADS_1


Maya kini sudah tak bersuara lagi, membuat Alya merasa bersalah. Karna tak bisa mengalahkan para suruhan Pras.


"Tante Maya maafkan aku."


Pukulan beberapa kali dilayangkan oleh para penjaga, pada punggung Alya.


Alya tak mampu menyelamatkan dirinya, dari pukulan bertubi tubi, ia hanya bisa pasrah. Karna badanya pun merasa lemah.


"Aku harus kuat, Tante Maya harus selamat. Tante Maya tak boleh mati."


Hingga di mana para polisi datang, mereka semua menangkap dan mengamankan semua suruhan dan juga para pelayan Pras.


Pukulan menyakitkan akhirnya terhenti, Alya jatuh pingsan.


"Tante Maya."


Dengan terburu-buru Lina masuk ke dalam villa, setelah Polisi datang mengepung para pelayan dan juga Suruhan Pras.


Yang di mana para polisi tidak tahu, keberadaan Pras sekarang ada di mana.


Lina, Pak Anton dan juga Adnan. Mencari keberadaan Maya.


"Maya dimana kamu,"


Semua pelayan berusaha kabur, menghindari para polisi. Satu persatu pisau melayang pada para suruhan yang kabur.


Adnan, berusaha mencari Pras, agar lelaki itu cepat dimasukan ke dalam penjara.


"ke mana Pras, di situasi seperti ini, dia bisa kabur."


Pak Anton berjalan mencari keberadaan sang istri, begitu terkejut. Melihat istrinya terkulai dengan darah yang terus mengalir keluar dari perut istrinya.


"Maya, kamu bertahannya sayang."


Maya tidak bersuara lagi, di saat sang suami terus memanggil namanya.


Tanpa berpikir panjang, Pak Anton langsung membawa Maya ke dalam mobil, sedangkan Adnan menghentikan Lina yang akan ikut serta membawa Maya ke rumah sakit.


"Sebaiknya kamu diam saja di sini, kami tidak butuh kamu. begitu pun dengan Nyonya Maya," pekik Adnan.


"Tapi Adnan, beri aku kesempatan untuk menemani Tante Maya di rumah sakit," ucap Maya dengan sebuah harapan.


"Maaf Nona Lina." balas Adnan pergi.


Lina menutup mulutnya, menahan rasa bersalah.

__ADS_1


Hingga di mana salah satu tangan meraih kakinya, membuat Lina tentulah kaget dan menatap ke arah bawah kakinya.


"Alya, ternyata kamu." Lina berusaha membantu Alya untuk berdiri, membawa Alya masuk ke dalam ambulan.


__ADS_2