
Pak Yono, datang dengan kemarahan yang terlihat menggebu-gebu. Ia mengepalkan kedua tangan dengan kekesalan
Ruslan duduk dengan perasaan merasa bersalah, membuat ia menangung malu, begitupun dengan kedua orang tuanya.
Bruggg ....
Satu pukulan melayang pada pipi kiri Ruslan, membuat anak muda itu jatuh dari kursi yang ia duduki, akibat pukulan PaK Yono.
"Ruslan, wanian maneh, ka anak aing."
(Ruslan, beraninya kamu, kepada anak saya.)
Ruslan berusaha bersikap, tenang. Setelah pukulan itu di layangkan oleh Pak Yono, mengenai pipinya.
para warga yang berada di sana berusaha menghentikan amarah Pak Yono mereka berusaha menjauhkan Ruslan dari Pak Yono
Akan tetapi Pak Yono yang benar-benar diselimuti dengan amarah, kini berusaha melepaskan tangan yang memegang bahu dan juga lengan Pak Yono.
lelaki tua itu seakan tak puas, hanya memukul Ruslan sekali saja, ia ingin membuat Ruslan mati di tanganya.
"Pak, sudah. Tenang, Ruslan sudah berada di tangan kita. Tinggal menunggu pengakuanya."
Mata Pak Yono, terlihat memerah. Menahan setiap amarah yang mengebu pada hatinya.
"Tenang dulu ya, pak."
Ruslan berusaha bangkit dari atas lantai untuk segera duduk di kursi, kepala desa mulai bertanya kepada Ruslan tentang kejadian yang sudah ia lakukan terhadap Nining.
"Ruslan, apa benar kamu melakukan tindakan pelec*h*n pada Nining?"
Pertanyaan kepala desa membuat, Ruslan tersenyum sinis.
"Saya tidak melakukan apa pun kepada Nining, dia menarik tubuh saya, hingga tubuh saya menghempit tubuhnya."
Jawaban yang terlontar dari Mulut Ruslan, selalu membuat Pak Yono sangatlah kesal, Ruslan membuat sebuah fitnahan, jika yang salah itu adalah Nining.
"Apa kamu yakin dengan perkataanmu? Kenapa bisa Nining sampai menarik tubuhmu?"
Pertanyaan kepala desa membuat Ruslan, semakin memfitnah Nining, agar Ruslan di bebaskan. Dari hinaan dan juga makian para warga.
"Awal dia menarik tubuh saya, dia sempat menggoda saya, hingga berbagai cara, hanya saja saya berusaha menolak. Tapi Nining tetap memaksa hingga dimana ia menarik kerah baju saya. Hingga kami saling himpit. Kepala desa seperti tidak tahu saja ketika anak muda berpacaran."
Pak Kepala desa, hanya bisa mendengarkan ucapan Ruslan.
__ADS_1
"Apa ada saksi yang melihat perbuatan Ruslan pada Nining." Tanya Pak Kepala desa.
Bu Nunik yang ternyata sudah bersekongkol, menahan Euis agar tidak buka suara, tentang Nining. Yang tidak bersalah.
Pada saat itulah pegangan tangan warga lepas, Pak Yono bebas dan langsung menghajar kembali Ruslan.
Ruslan terkulai lemah di atas lantai, Pak Anton yang tak bisa menahan amarahnya karena ucapannya yang mem fitnah Nining, membuat ia berkata." maneh ngafitnah anak aing, sarua jeung maneh nenden nyawa maneh dini inceran aing."
(Kamu memfitnah anak saya, sama saja, kamu menyimpan nyawa, di pencarian saya.)
Ruslan tak mengerti dengan ucapan kasar Pak Yono, ia hanya bisa menahan rasa sakit akibat pukulan yang berulang kali dilayangkan oleh lelaki tua yang menjadi Ayah Nining.
Terlihat sekali kebencian dari raut wajah Pak Yono untuk Ruslan. Hingga di mana para warga mulai mengamankan lagi pak Yono dari kemarahannya.
Hanya saja Pak Yono pergi dari desa dan segera menemui Nining agar berbicara kepada kepala desa.
"Ning."
"Ning."
Pak Yono terus memanggil-manggil nama anaknya, hingga di mana sang istri datang menemui suaminya.
"Aya naon gogorowokan wae, si Nining keur istirahat di kamar, karunya gara gara si Ruslan, si Nining jadi trauma."
(Ada apa, teriak teriak terus. Nining lagi istirahat di dalam kamar. Kasihan, karna Ruslan. Nining jadi trauma.)
"Bu Si Rusalan di desa kalakah ngafitnah anak arurang, si Ruslan nyien alasan, kajadian teh ulah si Nining, anu ngagoda si Ruslan."
(Bu. Ruslan Di desa malah memfitnah anak kita, si Ruslan beralasan bahwa kejadian itu karena ulah Nining yang menggoda Ruslan.)
"Nu benar, pak. Lain ges jelas buktiteh aya di si Euis, ari ai Eusina eweh?"
(Yang benar bapak. Bukankah sudah jelas buktinya ada Euis. Memangnya Si Euis nggak ada?)
"Teu Nyaho bapakmah parusing, boro mikiran saksi, nempo benget si Rusalan hanyang nampiling wae."
( Enggak tahu bapakmah, pusing, mau mikirin saksi gimana? Liat muka si Ruslan kesel pengen mukul terus.)
Sang istri berusaha menenangkan amarah suaminya, yang tak terlihat tenang dari tadi.
Bu Sari mengusap pelan punggung sang suami, agar Pak Yono Tetap tenang, dan tidak mengandalkan emosi.
Takut jika nanti Nining semakin tersalahkan, " Terus ayane kudu kumaha?"
__ADS_1
(Terus kita harua bagaimana?)
"Coba arurang ajak si Nining ka desa, supaya aya Penjelasan bahwa si Nining hente salah, anu salah mah nyaeta si Ruslan borokokok."
(Coba kita ajak Nining ke desa, agar ada penjelasan bahwa Nining tidak bersalah, yang salah itu Ruslan.)
Bu Sari tak tega jika mengajak anaknya untuk pergi ke desa, Iya tak sanggup jika nanti Nining semakin tertekan dan menjadi semakin trauma. karena Ruslan adalah lelaki yang licik.
karena Pak Yono yang tak mau jika anaknya tersalahkan, dengan terpaksa harus membawa Nining ke desa dan menjelaskan semuanya kepada kepala desa.
Di saat sesuatu yang genting ini, Asih juga mendadak hilang, padahal Bu Sari melihat jelas Asih masih berada di luar rumah.
Tapi Asih pergi begitu mendadak, ada apa ini?
Seperti ada sesuatu yang direncanakan.
"Ayo bu."
Karna Pak Yono yang memaksa, pada akhirnya Bu Sari mulai membujuk Nining agar mau menjelaskan semua yang terjadi.
Kalau tidak. Nining pasti akan tersalahkan, dari semua masalah yang terjadi.
Bu Sari kini mendekat ke arah anaknya yang masih duduk melamun, masih ada rasa trauma dalam diri Nining atas pelakuan Ruslan.
"Ning."
Nining membalikkan badan mengusap pelan air mata yang terus menetes.
"Ning, kamu jangan menangis terus. Enggak baik, kamu harua kuat dalam segi apapun."
"Iya Bu, Nining sudah agak mendingan. Nining berusaha menghilangkan rasa tarauma Nining, agar Nining tidak larut dalam kesedihan."
"Syukurlah kalau begitu."
Bu Sari berusaha membujuk Nining, agar tetap tenang. Dari apa yang terjadi. ia tak mau melihat Nining merasa terauma lagi.
Perlahan mengusap rambut Nining dan berkata," Kita ke balai desa."
Nining kini terdiam sejenak," untuk apa kita ke sana."
Bu sari berusaha bersikap tenang menjelaskan semuanya. Ia berusaha membujuk Nining agar tetap tenang menghadapi masalah.
" Kamu harus menjelaskan semua yang terjadi saat di ladang, saksi Euis dan Asih tiba tiba menghilang, kamu harus datang ke balai desa. Agar orang orang di sana yakin dengan cerita kamu. Ning."
__ADS_1
Nining terdiam.
"Bagaimana?" Tanya sang ibu kembali.