Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 233 Bersembunyi di kolong


__ADS_3

Nining perlahan membuka kedua tangan yang menutup wajahnya, ia sekilas menatap ke arah Ardi tanpa busana. Dengan sigap menutup kembali wajahnya.


Jantungnya berdetak tak karuan, kedua pipinya memerah, ia tak sanggup melihat apa yang ia lihat di depan mata.


" Kamu ini kenapa, Nining."


bibir tebal itu kini mulai berucap, saat Haikal bertanya kepada keponakannya," ini nggak sanggup lihat Aa Ardi enggak pakai baju."


Haikal hampir saja mengira jika terjadi hal yang tak terduga pada Nining, karena melihat Ardi masih mengenakan handuk pada lingkar pinggangnya.


maka dari itu Haikal kaget. Iya langsung menekan Nining agar berkata jujur.


Namun ternyata tidak ada sesuatu hal yang terjadi pada Ardi dan Nining.


Ardi mengerutkan dahi memegang bahu Haikal." tenang Haikal, gue masih bisa kontrol diri. walau gue belum menikah."


"Mm, gue percaya pada lu."


Nining masih saja menutup wajahnya, karena kedua mata tak berani melihat badan kekar Ardi tanpa penutup kain.


"Terus kenapa kamu masih menutup wajahmu?"


pertanyaan Haikal membuat Nining menelan ludah, Iya berbicara dengan rasa malu," Nining teh nggak sanggup lihat badan cowok terbuka."


Ardi memajukan Bibir bawahnya, sedangkan Haikal langsung menyuruh Ardi untuk segera memakai baju.


Ardi mulai berjalan ke arah kamar, untuk segera memakai baju. setelah selesai ia keluar kembali, pemberitahuan Nining bahwa dirinya sudah memakai baju.


" Coba kamu buka Kedua tangan kamu yang menutupi wajah cantikmu itu." ucapan Ardi membuat Nining salah tingkah.


saat itulah Nining merasa tenang karena. Pujaan hatinya sudah memakai baju seperti biasa.


"Gimana, Aa Ardi tampankan?" tanya Ardi kepada Nining.


Nining menutup mulutnya, menahan rasa malu akan ucapan yang terlontar dari Ardi. Gadis desa itu hanya menganggukan kepala.


Ardi dan Nining saling berpandangan satu sama lain, membuat Haikal yang menyadari kedua pandangan itu, Iya kagetkan dengan suara teriakan dari mulutnya sendiri.


"Curi curi pandang nih." Sindir Haikal.


Ardi dan juga Nining melayangkan sebuah senyuman kecil kepada Haikal, membuat Haikal langsung mengajak Nining dan juga Ardi untuk segera makan.


"Wah. Ning, masakan kamu itu selalu enak ya, beruntung sekali orang yang mendapatkan kamu. sudah cantik pinter masak, sopan lagi. paket komplit pokoknya," ucap Ardi memuji Nining.


"Ah, Aa Ardimah ada ada aja," balas Nining simpel.

__ADS_1


"Mm. Uhuk .... uhuk." suara batuk Haikal membuat suasana kembali Canggung. Nining dan juga Ardi kini tak saling memandang satu sama lain.


mereka berdua mulai fokus menyantap makanan.


membuat Haikal ingin sekali tertawa terbahak bahak.


seakan menemukan, sepasang sejoli tengah jatuh cinta.


setelah selesai menyantap makanan, saat itu juga Ardi memulai sebuah percakapan tentang Lina dengan dugaan bahwa dia diculik.


" Saat kalian melihat penculikan itu. Apa kalian melihat barang bukti, yang bisa aku pergunakan untuk menyelidiki. Siapa orang yang sudah menculik Lina."


Nining dan Haikal saling menatap satu sama lain, saat itulah Haikal mulai angkat bicara," aku melihat ciri-ciri orang itu memakai jaket berwarna hitam, dengan postur tubuh yang sangat besar, dan juga berotot. terlihat sekali mereka seperti Bodyguard suruhan."


Ardi mulai mencerna perkataan Haikal. ia mengingat-ingat apakah frans mempunyai Bodyguard ataupun suruhan dengan badannya yang begitu besar-besar dan juga berotot.


Nining Kini mulai angkat bicara," Nining juga menemukan sapu tangan ini, saat mengejar Teh Lina yang sudah dimasukkan ke dalam mobil."


ternyata Nining mengambil sapu tangan itu dengan dedaunan, ia takut jika tangannya yang memegang itu dirinyalah yang akan bersalah.


" Apa kamu membawa sapu tangan itu Nining?"


" Ya Aku membawa sapu tangan kecil yang aku temukan!"


Ardi kini mengambil sapu tangan yang sudah di kreseki Nining, Iya akan menjadikan bukti untuk memperkuat dugaan bahwa pamannya sendiri yang bersalah.


" kita tak boleh gegebah membuat rencana, jika kita gegabah, Nanti orang itu akan curiga, dan malah menyembunyikan Lina, hingga kita tak akan bisa menemukan keberadaan Lina."


Haikal setuju dengan pikiran Ardi, saat itulah mereka sepakat akan menunggu selama satu minggu, untuk memastikan Apakah suruhan itu datang kembali ke desa Haikal.


Walau sebenarnya Ia juga tak yakin dengan rencananya saat ini.


Tok .... Tok ....


ketukan pintu dari rumah Haikal terdengar begitu keras, membuat Haikal kini membuka pintu kamarnya dan melihat Siapa orang yang sudah berani mengetuk pintu tanpa memberi salam sedikitpun.


"Nining, mana si Nining?"


(Nining ke mana Nining?)


Orang yang datang ke rumah Haikal ternyata pamannya, wajah sang Paman terlihat begitu marah. membuat Haikal bertanya dengan nada lembut.


"Tenang, mang. Sabar, aya naond?"


(Tenang, om, sabar. ada apa?)

__ADS_1


Nining berada di rumah Haikal, terlihat begitu gelisah. membuat Ardi langsung bertanya kepada gadis itu.


"Kamu kenapa?"


"Ini, Nining teh takut, bapak datang pasti marahin Nining!"


"Kok bisa, Emang Nining salah apa? Sama Bapak?"


" Nining teh nggak bisa jelasin sekarang, harus pergi dari sini sekarang juga!"


"Ning." teriakan lelaki tua dari luar rumah terdengar begitu keras, membuat Nining semakin panik.


dengan terburu-buru Nining keluar lewat pintu belakang rumah, sedangkan Ardi merasa heran dengan apa yang dilakukan Nining.


Ardi segera mencegah Nining belari ke belakang rumah," jangan ke sana?"


"Terus Nining harus ke mana? agar bisa menghindari amarah bapak?"


Ardi kini menunjukkan suatu tempat agar ayah Nining tidak bisa menemukan anaknya, Ardi segera mungkin menuntun Nining untuk mencari persembunyian.


Ternyata Nining, disuruh Ardi untuk bersembunyi di kolong tempat tidur yang ditempati Ardi.


"Ke kolong. Tapi takut."


" Daripada nanti kamu kena marah bapak kamu?"


"Iya juga ya!"


"Ya sudah kalau begitu."


Pada akhirnya Nining memaksakan diri untuk masuk ke kolong ranjang tempat tidur Ardi, Kolong tempat tidur itu begitu gelap. Membuat Nining tentulah ketakutan.


setelah Nining bersembunyi, saat itu juga Ardi mulai keluar dari kamarnya sendiri,


Hingga di mana, lelaki tua itu nekat masuk ke dalam rumah Haikal. membuat Haikal hanya mengekor dari belakang punggung sang paman.


Ardi yang melihat ayah Nining hanya bisa tersenyum kecil, sedangkan lelaki tua itu menatap sinis ke arah Ardi. tidak ada rasa suka terhadap lelaki yang selalu dipuja oleh anaknya.


"Kamana Si Nining?"


(Ke mana Nining?)


Pertanyaan lelaki tua itu membuat Ardi berbohong," dari tadi enggak ada Nining, pak."


Akan tetapi Paman Haikal masih tak percaya dengan omongan Ardi, Hinggal di mana lelaki tua itu mencari keberadaan anaknya yang mungkin masih bersembunyi di rumah Haikal.

__ADS_1


Nining yang bersembunyi di kolom ranjang tempat tidur, merasakan hatinya tak karuan. terasa detak jantung tak beraturan.


" Gimana ini teh kalau bapak tahu?" Gumam hati Nining.


__ADS_2