
Lina menyenggol perut Ardi dengan lengannya, membuat Ardi tersenyum kecil.
"Malu maluin, emangnya pamanmu penjaga ketring apa." bisik Lina.
Sang paman hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua," sudah tak apa. Di acara pernikahan kalian, sabagai kadonya kakak bakalan kasih geratis makanan kakak di sini."
"Sip, gitu donk kalau jadi paman," balas Ardi.
" Ya sudah paman kita mau pulang dulu ya. Terima kasih atas makanan gratis, kalau kita ke sini jangan lupa gratisan lagi ya," ucap Ardi pada sang paman. Yang hanya tersenyum mendengar ucapan keponakanya.
sang Paman langsung mengacungkan jempolnya di depan Ardi, membuat Ardi tentulah senang dan mengedipkan kedua matanya.
mereka kini pergi dari cafe itu, langkah mereka berdua Semakin Jauh, membuat sang Paman tak henti menatap kedua insan yang sudah menaiki mobil.
"Lina, akhirnya kita bertemu lagi." Gumam hati sang paman.
@@@@
Di dalam mobil. Lina memulai percakapan," eh Ardi, ada yang aneh nggak sama pamanmu?"
Ardi mengerutkan dahinya saat wanita disampingnya bertanya seperti itu," Aneh apanya maksud kamu!?"
"Ya, pamanmu itu seperti orang yang pernah aku lihat di masa lalu." ucap Lina.
"Orang di masa lalu, mana mungkin. Pamanku dari dulu tidak pernah tinggal di Indonesia, dia selalu berkeliling luar negeri untuk menggembangkan keahlianya dalam memasak," balas Ardi.
" Apa aku salah lihat, habisnya wajah pamanmu itu sama persis seperti sahabat suami kak Dinda dulu," ucap Lina.
" yang namanya muka itu pasti ada yang sama, jadi kamu tak usah kuatir. wajahnya sama tapi sifatnya berbeda," jelas Ardi.
"Mm, ia juga ya," balas Lina.
Gadis itu tak mau berpikir lebih dalam lagi, Ia tak mau berpikir macam-macam tentang Paman Ardi yang baru ia temui di cafe.
"Sudah jangan mikirin yang aneh- aneh. Kamu fokus sama pernikahan kita yang tinggal menghitung hari," ucap Ardi mengelus kepala rambut Lina.
mendengar ucapan Ardi, Lina hanya menganggukkan kepala dan menurut
"Baiklah, kalau begitu."
__ADS_1
Lina baru menyadari jalan ke arah rumahnya itu berbeda sekali," loh. Ardi kita mau ke mana? Jalan ke rumahku kan ke arah kiri. Kenapa kamu ngambil jalan ke arah kanan?" tanya Lina nampak panik.
Ardi hanya fokus pada mobilnya," sudah kamu diam saja."
Entah Ardi mau membawa Lina ke mana, ia sedikit kuatir dengan keadaan sang kakak yang berada di rumah.
"Sudah sampai." Ucap Ardi. Memberhentikan mobilnya di depan rumah.
Ternyata Ardi membawa Lina ke rumahnya," Ardi kenapa kamu bawa aku ke rumahku?" tanya Lina. Terlihat wajahnya yang begitu kesal.
Ardi malah tersenyum dengan begitu santainya. Dia turun dari mobil, menghampiri pintu mobil, membukakan pintu mobil agar Lina ke luar.
"Ayo, kamu sementara waktu tinggal dulu di rumahku," ucap Ardi.
"Ardi, mana mungkin. Kita belum menikah, nanti kak Dinda marah padaku," balas Lina. Masih saja diam di dalam mobil. Ia tak mau keluar dari dalam mobil sebelum Ardi mengantarkannya pulang ke rumah.
Ardi mendekatkan wajahnya ke arah Lina," kalau sekarang kita pulang, jawab kita pasti dalam bahaya, apalagi sekarang sudah malam, kamu juga tahu sendiri kan kejadian di waktu kita mau pergi."
Lina terdiam, iya mencerna semua perkataan Ardi untuk dirinya.
" Jadi bagaimana?" tanya Ardi kepada Lina. yang di mana terlihat Lina Masih memikirkan semua perkataan Ardi.
Ardi menunggu jawaban dari calon istrinya itu, sesaat Lina yang sudah memikirkan semuanya kini menjawab," Ya sudah malam ini saja aku tinggal di rumahmu, tapi kamu harus ingat. Besok pagi-pagi sekali kamu harus mengantarkanku pulang, aku takut jika nanti Kak Dinda menguatirkan ku karena semalam ini aku tidak pulang ke rumah."
" Baiklah kalau begitu, kamu tak usah kuatir Lina. Besok aku pasti akan mengantarkanmu pulang ke rumah pagi-pagi sekali," balas Ardi.
Lina mulai keluar dari mobil Ardi, saat itulah Ardi mulai membantu Lina memegang tangannya," tak usah pegang pegang lah, ini sudah malam aku juga bisa jalan sendiri."
" Baiklah kalau begitu," ucap Ardi pada Lina.
setelah sampai di depan rumah, Ardi kini memencet bel rumah, yang di mana pintu terbuka, Ibu Maya keluar menyambut kedatangan anaknya.
" Ardi malam begini kamu baru pulang," ucap sang Ibu mengkhawatirkan anaknya.
lina langsung menyapa Maya, membuat Maya merasa heran," Lina, ini kan sudah malam, Ternyata kalian berdua masih kelayapan."
Ardi mulai menjelaskan semuanya kepada sang ibu, berharap Maya akan mengerti penjelasan dari anaknya sendiri. setelah menjelaskan semuanya, saat itulah Maya mulai mengizinkan Lina untuk menginap semalam di rumah.
" tapi kalian harus ingat ya, kalian ini belum sah menjadi suami istri. Jadi jangan terlalu dekat dekat," ucap Maya kepada Ardi dan juga Lina.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo Lina aku antarkan kamu ke kamar," ucap Ardi pada Lina.
"Eh, kamu mau ngapain Ardi?" timpal sang ibu bertanya pada anaknya.
"Mau, mengantarkan Lina ke kamarnya!" jawab Ardi kepada sang ibunda.
"Sudah, sebaiknya kamu cepat bersihkan diri kamu, biar Lina yang ibu antarkan ke kamarnya," ucap sang ibu.
Ardi tampak tak senang dengan perkataan ibunya, ia hanya bisa berjalan gontai. Padahal dalam hatinya ada niat terselubung mengantarkan Lina.
"Ya elah, padahal pengen di sun pipi kiri kanan dulu sebelum tidur." Gerutu Ardi.
"Ayo Lina, biar ibu antarkan kamu ke kamar," ucap sang ibu. Merangkul bahu Lina.
Entah sejak kapan, terlihat sekali wajah Maya begitu peduli pada Lina, padahal waktu di acara lamaran, Ibu Maya terlihat tak senang dan membenci Lina.
"Oh ya, ini kamar kamu. Tutup pintu rapat rapat, ya." ucap Ibu Maya kepada Lina.
"Baik, bu," balas Lina, sedikit canggung berhadapan dengan ibunda Ardi.
Saat itu langkah Maya semakin perlahan menjauh, membuat Lina yang gugup menghelap nafas, merasa sedikit lega, karna wanita tua itu sudah pergi.
Lina mulai melangkahkan kakinya ke dalam kamar, tiba di mana. Ibu Maya datang lagi.
"Lina."
Deg ....
Panggilan Maya membuat Lina sedikit takut, ia membalikkan badan ke arah wanita tua itu," ya."
"Ini selimut untuk kamu, malam ini terasa dingin sekali. Ibu takut kamu masuk angin," ucap Maya terlihat begitu perhatian pada Lina.
Lina mengambil selimut itu dari tangan Maya, dan berkata," terima kasih."
"Oh, ya satu lagi," ucap Maya tegas.
Deg ....
Jantung Lina sudah tak karuan, biasanya ia bisa menghadapi ibunda Ardi dengan santai, tapi sekarang seakan berbeda sekali. Suasana terasa mencekram.
__ADS_1