
Di meja makan Lina masih menatap kosong makanan yang sudah tersedia oleh para pelayan, rasa lapar kini mulai membuat ia tak nafsu untuk memakan makanan yang sudah tersedia. Terlihat sekali makanan itu begitu lezat mengubah selera siapapun yang makan.
Akan tetapi pikiran dan juga hati yang memang tengah kacau, membuat dia mengurungkan niatnya untuk makan.
Lina kini membawa begitu banyak makanan untuk ia bawakan ke dalam kamar Ardi.
Sedangkan para pelayan hanya menatap heran Lina yang tiba-tiba saja membawa makanan.
Lina yang tergesa-gesa membawa makanan lebih di atas piring, berjalan ke arah pintu kamar Ardi calon suaminya, ia mengetuk pintu dengan harapan jika Ardi mau membuka pintu untuk dirinya.
ketukan pintu beberapa kali dilayangkan Lina, akan tetapi tak ada jawaban satupun dari Ardi Yang tengah berada di dalam kamar.
" Ardi, Ardi. Ini aku Lina, kamu belum makan dari tadi pagi, aku membawakan makanan untukmu." Teriak Lina dengan mengetuk gentuk pintu kamar Ardi.
Berapa kali Lina terus mengetuk pintu dan berteriak memanggil, calon sauminya. Ardi tak satupun menjawab teriakan Lina di depan pintu kamarnya.
Ia seakan tak peduli, jika Lina berteriak terus menerus.
Akan tetapi Lina berusaha membujuk Ardi sebisa yang ia bisa, ia tak mau jika calon suaminya sampai sakit, hanya gara-gara kesalahpahaman yang sudah terjadi antara dirinya dan juga Haikal.
:Ardi kumohon, kamu jangan begini. Ayolah buka pintunya. Aku bawakan makanan untuk kamu." Teriak Lina.
Ardi yang berada di dalam kamar, hanya membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Ardi berusaha tak mempedulikan teriak Lina yang terus menerus terdengar dari kedua telinganya.
"Lina, aku tidak akan keluar, setelah kamu mengakui apa yang sudah kamu lakukan bersama Haikal. Bukan malah menutupi dan bicara kesalah pahaman." Gerutu Ardi di dalam kamarnya sendiri.
Beberapa kali Lina membujuk dengan apa yang ia bisa, Ardi tetap tidak keluar dari kamarnya untuk menjawab perkataannya pun tidak ada.
"Ardi, apa yang harus aku lakukan untuk kamu bisa mempercayai perkataanku, yang memang aku tidak melakukan sesuatu yang akan membuat dirimu marah." Gumam hati Lina.
Hingga tak terasa, air mata kini keluar dari ujung mata Lina, membuat tangan Lina sesekali mengusap air mata yang terus jatuh turun hingga mengenai kedua pipinya.
Lina yang benar-benar merasakan rasa lapar, membuat dirinya seketika lemas.
gadis yang sebentar lagi menjadi istri Ardi, tak pantang menyerah untuk membujuk calon suaminya agar mau makan bersama dengannya.
"Ardi, kumohon bukalah pintunya."
Ardi mengambil headset yang tak jauh dari hadapannya, Iya langsung menutup kedua telinganya dengan handset. Agar dirinya tak mendengar lagi teriakan dan juga permohonan Lina hanya untuk sekedar mengajaknya makan.
__ADS_1
"Semarah itukah kamu, Ardi?" Teriak Lina, sesekali Memegang perutnya yang memang belum terisi apa-apa dari pagi.
Lina berusaha kuat untuk menahan rasa lapar pada perutnya, Iya tak mau terus-menerus melihat Ardi mengurung diri di dalam kamar.
Kepala Lina sedikit terasa tak karuan, membuat ia lemas dan tak berani lagi berteriak. Badanya begitu lemah, membuat kepala terasa sangat pusing.
kini Lina tak dapat mengetuk pintu kamar Ardi kembali, ia merasakan rasa sakit pada kepalanya yang tiba tiba.
karena badannya yang terasa lemas dan tak berenergi membuat Lina seketika menjatuhkan piring yang ia bawa.
Wajah Lina meringis kesakitan, menahan rasa pusing di kepalanya.
Brug ....
Ardi yang mendengar suara hantaman dari depan kamarnya, membuat dia berusaha tak peduli. Ardi terus menikmati semua lagu yang ia putar.
Hingga beberapa menit kemudian, pelayan sengaja melewati kamar Ardi.
Kedua mata pelayan membulat, pelayan itu begitu kaget melihat Lina jatuh pingsan di depan pintu kamar sang tuan.
"Nona Lina."
Mendekat melihat kondisi Lina," Nona. bangun."
Salah satu pelayan menyusul sang sahabat yang tak kunjung kembali. Membuat pelayan itu menghampiri sang sahabat yang berencana memberitahu Ardi, karna akan ada tamu malam ini datang ke rumah.
setelah sampai di dekat kamar Ardi, pelayan itu terkejut melihat sahabtnya tengah membangunkan Lina yang jatuh pingsan di dekat kamar Ardi, dengan makanan yang berserakan.
mereka berusaha membangunkan Lina," Nona."
"Nona kenapa?"
"Entahlah, saat aku melewati kamar tuan, nona sudah dalam ke adaan seperti ini!"
"Ya sudah, aku coba ketuk pintu kamar tuan. Mudah mudahan tuan kembali."
"Tuan ...."
Tok .... Tok ....
Beberapa kali kedua pelayan itu mengetuk pintu, Ardi tak kunjung membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Enggak ada jawaban dari tuan?"
"Ya sudah kamu ketuk lagi lebih keras!"
"Baiklah."
Pelayan itu terus mengetuk pintu sang tuan. Akan tetapi Ardi tetap santai dengan handset yang masih menempel di telinganya.
"Tetap saja, tuan tak membuka pintu kamarnya "
"Gimana ini?"
Ardi yang mulai bosan mendengarkan musik, ini membuka handset yang berada di telinganya.
ini Ardi Tak Mendengar lagi teriakan Lina. sampai di mana ketukan pintu terdengar begitu keras, teriakan itu kini berganti, di mana terdengar suara teriakan pelayan laki-laki memanggil namanya.
"Tuan."
"Tuan."
Ardi kini bangun dari tempat tidurnya untuk melihat, apa yang sudah terjadi di depan pintu kamarnya.
lelaki berbadan kekar, kini membuka pintu kamar.
" Ada apa kalian berteriak dan menutup pintu begitu keras pada kamar saya?" tanya Ardi, telihat dari wajahanya kemarahan yang masih mengebu.
"Tuan, Nona Lina!" sang pelayan menjawab dengan wajah gugup mereka, menunjukkan Lina yang terbaru di atas lantai.
Betapa terkejutnya, Ardi melihat Lina terbaring di atas lantai dengan wajah yang begitu pucat.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit." rasa panik menghantui Ardi, membuat Ardi langsung membopong tubuh calon istrinya itu, untuk segera dibawa ke rumah sakit.
Ardi menyuruh satu pelayan untuk menemani dirinya ketika membawa Lina ke rumah sakit.
Ardi menekan sang sopir untuk segera mungkin mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, dia takut jika calon istrinya kenapa-napa. Padahal tadi ia sangat kesal melihat Lina hanya memakai handuk putih berpelukan dengan Haikal sahabatnya. Tapi sekarang ia begitu kuatir dengan ke adaan Lina.
setelah sampai di rumah sakit ini dokter langsung mengecek keadaan Lina. saat menunggu pemeriksaan di rumah sakit, Ardi terus bolak-balik ke sana kemari hatinya tak tenang sebelum ia mengetahui keadaan Lina.
Hingga beberapa menit kemudian, dokter keluar dari dalam ruangan Lina. Ardi tak sabar dengan jawaban yang akan terlontar dari mulu sang dokrer.
"Bagaimana ke adaan Lina, Dok."
__ADS_1
Tanya Ardi tak sabar dengan apa yang akan di katakan dokter, setelah memeriksa Lina calon istrinya.